Ara menghembuskan napas dalam, mengeluarkannya perlahan, mencoba meredakan emosi yang bergolak dan kepala yang mendadak pening setelah membaca pesan dari mama Shane.
Mama Shane
Ara, kamu keberatan gak kalau cat kamarnya didominasi warna pink? (Pertanyaan titipan dari Opa rese yang udah ganti tema dua kali karena galau gak jelas!)
Ara
Gapapa, Ma. Asal gak semua pink aja. Nanti dekornya bisa pakai nuansa kuning, biru sama putihnya juga biar gak terlalu girly.
Mama Shane
Oke. Sama, tambahan lagi, Little cookies maunya unicorn, rainbow atau fairy theme? (Abaikan aja, Ra... Abaikan!! Emang rese ini Aki-Aki!)
Ara
😂😂😂 Aku maunya safari theme malah biar strong, tapi nanti Papa syok. So, terserah papa aja, deh. Kan untuk kamar Little cookies di rumah mama.
Mama Shane
Oke. Ntar mama bilang, terserah dia. Trus ntar papa galau, deh, bingung mau pakai tema yang mana. Gelisah berhari-hari, bolak-balik ganti furnitur, sibuk bongkar pasang pengaman bayi. Padahal kan kalian gak tinggal di sini juga!! Maaf ya, Ra. Setengah jam lagi juga mama disuruh nanya ke kamu soal peralatan makan apa yang cocok buat Little cookies. Padahal cucunya lahir juga gak akan langsung makan! 😤😤😤
Ara hanya bisa tertawa membayangkan ekspresi mama Shane saat mengetikkan pesan itu. Pasti rambut biru elektriknya acak-acakan karena sering digaruk efek kesal dengan suaminya.
Kandungan Ara sudah 37 minggu dan sejauh ini semua terlihat baik-baik saja. Posisi janin bagus, perkembangannya juga bagus. Ara tinggal menunggu Little cookies siap menghadapi dunia saja.
Sampai hari ini Ara masih melakukan aktifitas seperti biasa. Darren masih mengizinkan dia pergi ke Moi's karena Darren percaya kalau Ara paling tahu batas kekuatannya. Sejauh ini memang tak ada masalah walau kadang Ara harus berhenti beraktifitas sejenak saat Little cookies bergerak kencang di dalam dan membuat dia merasa nyeri.
Hari ini Ara memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasa karena tumben saja, Little cookies benar-benar tak bisa diam di dalam. Berulang kali Ara tersengat rasa nyeri yang menusuk saat anaknya bergerak lincah dan membuat dia tak bisa berkonsentrasi.
Ara bergegas memberitahu Darren kalau dia pulang yang segera dibalas oleh suaminya kalau dia pun akan pulang cepat. Tak lupa Darren bertanya jika ada makanan yang Ara inginkan.
Setiba di penthouse, Ara bersantai di sofa, ngemil biskuit cokelat sambil menonton TV. Sesekali dia mengusap-usap perutnya yang membuncit, meraba tonjolan yang entah asalnya dari kaki atau tangan Little cookies, mengingatkan bayi kecilnya untuk lebih santai karena gerakan-gerakannya membuat Ara agak susah bernapas.
"Hai ...." sapa Darren yang baru saja pulang sambil mengecup puncak kepala Ara sekilas.
"Rujaknya mana?" todong Ara.
Darren tersenyum. "Sebentar, aku pindahin ke piring dulu."
"Mangga sama jambunya yang banyak, kan?" cecar Ara lagi.
"Iya ... Extra mangga sama jambu. Bangkuang, ubi, timun, pepaya sama kedongdongnya buat garnish aja."
Ara tertawa senang. "Thank you, Daddy!! Me and little cookies loves you!"
Darren ikut tertawa saat membawakan istrinya sepiring rujak. "Cinta kalian seharga rujak! Murah amat!" ledeknya.
"It's easy to love you, Daddy," balas Ara yang langsung menyambar jambu. Mulutnya sudah berair dari tadi saat melihat jambu merah merona itu.
Darren mencubit pipi Ara, gemas. Ikut mengambil potongan buah. "Ra, Papa tadi nelepon aku ...."
Sebelum Darren menyelesaikan ucapannya, Ara sudah memotong. "Apa lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
RomansaCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
