Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

I don't want to be mad

16.1K 3K 317
                                        

Pikiran Ara terasa kosong saat mendengarkan diskusi yang berlangsung antara Darren, Nash, dan Nimo.

Secara garis besar, yang bisa Ara tangkap adalah, berdasarkan penyelidikan Nash dan juga Nimo, ada orang yang dibayar untuk terus-menerus memunculkan berita yang mendiskreditkan Ara. Jika satu sumber di take down --seperti yang selama ini sudah coba dilakukan oleh Darren-- masih akan muncul akun lain yang bertugas membawa berita soal Ara naik lagi ke permukaan.

Nimo berhasil menemukan lokasi orangnya walau dia coba menyembunyikan diri dengan rapi. Lalu, Nash yang mengobrak-abrik, mencari tahu siapa yang membayar orang tersebut. Setelah berhasil mendapat bukti transfer --yang Ara sama sekali tak paham bagaimana cara kerja hacker-- dan kemudian ditelusuri dari mana aliran dananya, muncul lah satu nama yang jadi dalang dari semuanya.

"You know him?" tanya Nimo ke Darren.

Wajah Darren terlihat masam saat mengenali orang itu. "Yeah, I know. I think it's time for me to call my dad," jawabnya dingin.

Ara masih terbengong-bengong tak mengerti saat Darren pergi ke ruang kerjanya setelah meminta Nash dan Nimo mengeprint seluruh bukti penemuan mereka.

Darren diam di ruang kerja selama 15 menit, meninggalkan mereka bertiga yang hanya bisa terdiam dan merasa canggung.

Tak lama kemudian, dia keluar menghampiri Ara.

"So?" tanya Ara.

"Aku akan menemui dia nanti malam," jawab Darren kaku.

"Who is he?" tanya Ara lagi.

"Pemegang saham ke-tiga terbesar dari Pramudya Group selain dari keluargaku," jelasnya lagi.

"Oh ...." gumam Ara yang akhirnya bisa mengerti akar permasalahannya.

Tiba-tiba saja, amarah Ara menggelegak naik ke permukaan.

"Wait a minute! Aku masih coba cerna lagi ...." ucap Ara yang bibirnya bergetar menahan amarah.

"So, basicly ... That man ... Yang aku gak kenal, gak pernah ketemu, dan gak ada urusan apapun sama aku, tryin' to destroy my life, my reputation, my entire world, hanya untuk menjatuhkan kamu? Is that correct?" seru Ara menatap tajam Darren.

"Apparently so ...." jawab Darren muram.

Ara terdiam, dia ingin memaki-maki, tapi dia tahu, tak ada seorang pun di ruangan ini yang pantas untuk dia maki.

Berkali-kali Ara mencoba untuk menyuarakan apa yang bergemuruh di hatinya, namun, hal itu tak kunjung keluar.

Ara meloncat turun dari stool bar, meraih tasnya.

"You know, D, I don't want to be mad at you, because I know it wasn't your fault, tapi aku juga gak bisa bilang kalau aku gak marah.

Kayaknya lebih aman kalau aku pulang sekarang, trying to cool down. Meditasi, yoga, ice cream. Yess!! I need an Ice cream. A lot of ice cream!! Yang akan aku ambil dari kulkas kamu sebagai kompensasi."

Saat mengucapkan hal itu, Ara sudah beranjak ke kulkas Darren, mengambil tiga box ice cream sekaligus.

"So, I'm gonna go home, right now." Ketika Darren mencoba mengikuti Ara, Ara mengucapkan kata dengan nada tegas. "Alone!! I'm going home alone, D!" Yang membuat Darren langsung menghentikan langkahnya.

"Oh, iya, it's nice to meet you all! You guys, awsome!! Keep up the good work!!" tambah Ara sambil melambai ke arah Nash dan Nimo.

Lalu dia kembali menatap Darren. "I'll see you .... Well, tunggu sampai marahku sudah hilang. Have a good day, D!"

Miss AraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang