Sepeninggal Ara, Darren bergegas menghubungi sekretarisnya, minta untuk dipanggilkan dokter yang datang 30 menit kemudian. Untung saja saat dokter datang, Darren sudah bisa bangun dan berjalan walau agak sempoyongan untuk membuka pintu.
Dia diperiksa, diresepkan obat --yang segera ditebus oleh supirnya Darren, Pak Edy--, dan diminta untuk datang untuk cek darah jika besok dia masih belum membaik juga.
Kepala Darren terasa pening, namun dia memaksakan diri untuk memberi instruksi-instruksi ke sekretarisnya soal pekerjaan sebelum akhirnya dia menyerah, memilih untuk tidur saja setelah memakan selembar roti yang Ara sudah sediakan.
Tiba-tiba saja dia tersentak bangun saat pintu apartemennya terbuka dan suara mengomel khas terdengar bahkan sebelum pintu menutup sempurna.
"Kamu tuh kebiasaan! Kenapa gak langsung telepon mama kalau kamu sakit?"
Darren mengerang, sakit kepalanya terasa semakin menjadi karena dia bangun dengan tiba-tiba. "Mom, you scared me!" gerutunya. Dia melirik jam yang ada di nakas, ternyata dia sudah tidur selama dua jam.
Shane tak mempedulikan gerutuan anaknya. Dia beranjak ke dapur, mengeluarkan bahan makanan yang dia beli di food market bawah. Setelah menata dengan rapi, baru dia menghampiri Darren, menempelkan tangan di keningnya.
"Gak demam, tapi pusing? Mual juga gak? Apa kata dokter?"
"Keracunan makanan," jawab Darren singkat. "Mama tau dari mana?" tanyanya lagi. Darren tak heran jika mamanya tiba-tiba saja mendobrak masuk. Peraturan pertama saat dia diizinkan untuk keluar dari rumah adalah; mamanya harus punya kunci cadangan.
"Sekretaris kamu. Tadi mama ikut ke rumah sakit, sekalian sama papa, katanya kalian mau meeting. Mama mau ketemu kamu dulu sebelum ke tempat Gemma buat senam bareng. Pas sampai ruangan kamu, kata sekretaris kamu, kamu gak masuk, sakit, udah minta dipanggilin dokter. Ya udah, mama langsung ke sini aja. Batal, deh, senam sama Mami Gemma," jelas Shane panjang lebar.
"I'm fine. Mama lanjut senam aja gapapa," balas Darren.
"Fine dari sebelah mananya kalau pucet banget gini??" hardik Shane. "Udah, kamu tiduran lagi aja. Biar mama masakin kamu sup ayam. Katanya sup ayam bagus buat orang yang lagi sakit."
Wajah Darren berubah semakin pucat. Mamanya dan dapur tak pernah menjadi sahabat baik. Sudah sering dia memakan masakan kreasi ala mama Shane yang bisa membuat lidah kesemutan.
Darren menggeleng kencang sebagai isyarat penolakan keras. "Gak usah repot-repot, Ma. Nanti aku pesen makanan aja."
Akan tetapi mamanya hanya menepuk-nepuk bahunya, menenangkan. "Mama buatin aja. Udah lama kan gak makan masakan mama." Lalu dia berjalan anggun ke dapur sambil bersenandung kecil, membuka-buka lemari mencari perlengkapan masak dan Darren hanya bisa pasrah.
Darren menghela napas berat, menyerah. Dia menghela diri untuk bangun karena tiba-tiba saja dia dihantam serangan mual lagi.
"Kamu mau ngapain?" tanya Shane saat melihat anaknya berjalan tertatih.
"Kamar mandi. I need a shower, siapa tau bisa ngilangin pusing."
----------
Kesalahan terbesar Ara adalah tidak mengetuk sebelum dia menerobos tempat Darren.
Sebetulnya bukan karena dia tidak ingat sopan santun, hanya saja dia panik membayangkan jika Darren tiba-tiba pingsan, sekarat, atau yang terburuk; mati! Sementara dia meninggalkan sidik jari di sekeliling tempat itu. Bisa-bisa dia nanti jadi tersangka utamanya.
Dan sekarang dia harus menerima konsekuensi dari perbuatan tak sopannya. Ara berdiri canggung di hadapan wanita yang dia yakini sebagai mamanya Darren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
RomanceCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
