May I know your girlfriend?

17K 2.8K 105
                                        

Hari ini Darren mengajak Ara makan malam di restoran mewah. Dia ingin membuat senang Ara yang kemarin baru berkata kalau dia butuh referensi dessert  terbaru dan berniat mengambil inspirasi dari sana.

Darren mengetuk pintu kamar Ara, menunggu sejenak sampai Ara membuka pintu.

"Oh, wow!" gumam Darren tanpa sadar saat melihat Ara.

Kekasihnya itu mengenakan mandarin colar lace dress berwarna hitam. Rambut panjangnya digelung anggun, menenteng clutch berwarna silver senada dengan high heelsnya.

Riasannya sederhana, hanya mencolok pada bagian bibir karena dia mengenakan lipstik merah terang.

"What?" tanya Ara.

Darren tersenyum, menggandeng lengan Ara. "Jarang lihat kamu dandan serapi ini," jawabnya.

"Kamu mau ngajak aku ke ...." Ara menyebutkan restoran yang mereka tuju. "Aku gak mau bikin kamu malu," jawabnya lugas.

Senyum Darren semakin lebar. Dikecupnya puncak kepala Ara. "Why should I?" balasnya.

-------------
Makan malamnya berjalan menyenangkan. Ara dan Darren hanya memesan appetizer, lalu lanjut memesan beberapa dessert sekaligus, melewatkan main course begitu saja.

"Ya ampun, makan dessert aja aku berasa bajuku bentar lagi robek. Engapppp ...." keluh Ara. "Nurunin resleting di punggung gak akan bikin sesakku hilang ya, D?"

Darren tertawa akan ide konyol Ara. "Kamu kalap, sih!!" tegurnya. Dia pun merasa kekenyangan karena harus membantu Ara menghabiskan lima dessert yang mereka pesan.

"Kan aku penasaran sama semua rasanya. Enak semua, sih. Tapi buat aku yang paling juara yang alaska bombe. Heaven banget ituuuu ...."

"Oh, aku lebih suka yang Macedonia, yang saus mangga, jelly buah, es krim sama tuile yang dikasih sedikit bubuk jahe. Rasanya fresh." Darren ikut berkomentar soal menu yang mereka pesan.

Ara menopangkan tangan di dagu, berpikir sejenak. "Iya, sih. Itu enak juga. Pas kalau abis makan berat. Jadi kepikiran untuk bikin kue jahe ...." gumamnya.

"Udah dapet idenya?" tanya Darren.

"Ada beberapa. Sebentar ...." Ara mengeluarkan ponselnya, mencatat ide-ide yang mulai bermunculan sementara Darren menunggu tanpa suara.

Lima menit kemudian, Ara mengembalikan ponsel ke dalam tas. "Done!"

"Pulang sekarang?" tanya Darren.

Ara mengangguk, lalu Darren memanggil pelayan untuk meminta bill. Setelah selesai, mereka beranjak pulang. Saat berjalan melewati pintu ruangan private, langkah mereka terhenti karena berpapasan dengan seseorang yang Ara kenal.

"Darren?" sapa Arabelle yang kelihatan terkejut.

Darren hanya tersenyum tipis, mengangguk sopan, sementara tangannya masih merangkul ringan pinggang Ara.

Mata Arabelle tak luput memerhatikan letak tangan Darren. Awalnya dia seakan tak percaya akan pemandangan di depan matanya, namun, akhirnya dia tersenyum lebar.

"Hallo, Ra. Lama gak ketemu ...." sapa Arabelle ramah.

Ara hanya bisa tersenyum canggung, menyapa basa-basi dengan saling mengecup pipi masing-masing.

Mendadak saja ada suara wanita yang memanggil Arabelle. "Bella, ayuk, kok belum masuk?" lalu dia memekik saat menyadari ada Ara di dekat Arabelle. "Ya ampun! Ara kan?? Aurora Salim?"

Miss AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang