Extra - Home for Little cookies

10.8K 2.4K 272
                                        




Setelah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan Ara dinyatakan hamil, Darren membuat kejutan lain dengan mengatakan akan membeli rumah untuk anak mereka.

Saat dia mengeluarkan ide soal rumah padahal kandungan Ara baru menginjak usia 9 minggu, Ara hanya menatap datar, bertanya singkat. "Gak sekalian langsung dibeliin private jet, D, biar kekinian?"

Tak peduli akan celaan istrinya, Darren mengajak Ara berkeliling untuk mencari-cari rumah yang sesuai untuk mereka walau ada syarat tertentu dari Papa Cakra kalau rumah yang dibeli nanti tak boleh jauh dari rumahnya yang membuat pilihan mereka benar-benar terbatas.

Sejauh ini Darren dan Ara baru menemukan satu rumah yang available dan berjarak 10 menit dari rumah Papa Cakra, namun, Darren keberatan dengan luas lahannya yang hanya 500 m² padahal Ara sendiri tak mempermasalahkan ukurannya. Bagi Ara, dengan luas seperti itu masih bisa dibuat cantik lengkap dengan kolam renang. Kan kolam masih bisa ditaruh di rooftop agar tidak menghabiskan lahan.

Akan tetapi, pendapat Ara ditolak mentah-mentah karena Darren menginginkan kolam renang standar Olimpiade seperti di rumah papanya. Malas memperpanjang perdebatan, Ara biarkan saja Darren mencari-cari lagi rumah impiannya. Dia hanya meminta dua hal ke Darren perihal rumah. Dapur yang luas dan lengkap, serta kolam ikan koi.

Kehamilan Ara sendiri tidak terasa terlalu sulit. Mual, sering berkeringat, serta berteman akrab dengan toilet menjadi rutinitas baru untuk Ara. Tapi, setidaknya tidak separah Annisa yang nyaris tidak bisa bangun dari tempat tidur sepanjang kehamilan walau tidak sekuat Shera yang sanggup mengejar jambret --tak lupa juga memukulinya-- saat tasnya disambar ketika dia sedang hamil besar.

Little cookies sepertinya juga tidak suka kalau Ara diam-diam saja sepanjang hari sesuai usul Daddy-nya yang agak lebay. Ara masih mengerjakan kegiatannya yang biasa. Membuat kue, mengatur Moi's, memasak untuk Darren, dan menyiapkan kopernya jika sang suami hendak berpergian. Sebelum menikah, yang menyiapkan koper Darren adalah asisten pribadinya. Itu sebabnya sampai sekarang Darren tak mahir melipat pakaiannya sendiri dengan rapi.

Sejauh ini tak ada masalah karena Ara juga sudah berjanji akan segera beristirahat total jika ada flek atau kejadian yang mengganggu. Untungnya tak ada kejadian apa-apa sepanjang kehamilan Ara. Hanya kakinya lebih sering kram kalau dia berdiri terlalu lama saat sedang mendekor kue seperti sekarang ini.

Darren memijat lembut telapak kaki Ara saat istrinya mengeluhkan kaki yang mendadak nyeri ketika mereka tidur.

"Kaki kamu kaku begini, emangnya kamu apain, sih?" omel Darren.

"Udah dua hari ini bikin kue custom bentuk big ben, kan. Tingginya 1.5 m jadi aku gak bisa duduk pas ngerjain detail bagian atasnya."

Darren cemberut, tapi dia tak akan bisa mengomel lagi. Dia tahu kalau untuk urusan detail hiasan kue, tak ada yang bisa mengerjakannya sebaik Ara.

"Baby good?" tanya Darren.

"Aman. Aku malah mual pas berhenti kerja sebentar buat ngerenggangin badan. Little cookies kayaknya pekerja keras, nih. Mirip sama Daddy-nya."

Darren tersenyum, mengecup pipi Ara. "Mommy-nya juga, kok. Gak bisa diam!" Lalu tangannya terulur mengusap-usap perut Ara. "Sehat-sehat ya, Little cookies. Daddy loves you."

"Kok, Daddy gak bilang sayang sama Mommy-nya juga?" protes Ara manja.

Darren tertawa, mengecup pipi Ara sekali lagi. "I thought you already knew ... Love you, Ra."

----------

Memasuki trimester dua, Ara merasa jauh lebih baik. Setidaknya aroma nasi yang baru matang tidak membuat dia mual lagi. Sepanjang trimester satu Ara memang menghindari nasi dan juga makanan-makanan yang memiliki bau tajam terutama bau bawang putih. Sekarang Ara bermutasi menjadi penyantap segala. Dia yang tadinya kurang suka akan karedok, bisa santai saja menghabiskannya apalagi jika ditambah dengan kerupuk. Ara bisa nambah sampai dua piring!

Darren sendiri menjanjikan akan membawanya babymoon secepatnya walau kemungkinan besar Ara harus menunggu sampai kandungannya hampir mencapai enam bulan karena saat ini Darren sedang sibuk-sibuknya.

Ara merengek minta diajak tour Twilight di Fork demi memenuhi obsesinya terhadap Edward Cullen yang dalam bayangannya sampai detik ini dia yakini lebih tampan dan mempesona dibandingkan dengan Darren.

Entah karena cemburu atau tak terima dibandingkan dengan tokoh khayalan, Darren menolak keras rengekan Ara untuk Twilight tour yang membuat Ara mengancam kalau anak mereka akan dia beri nama Edward! Dan Darren membalas dengan mengatakan kalau anak mereka pasti perempuan sehingga tak mungkin diberi nama Edward.

Setelah Ara ngambek selama beberapa hari, akhirnya mereka membuat kesepakatan baru kalau tujuan wisata babymoon mereka adalah Angels and Demons tour di kota Roma.

Cukup lama mencari rumah, akhirnya Darren menemukan rumah yang cocok seluas 1500 m². Letaknya 20 menit dari rumah orang tuanya, tak bisa sedekat yang diinginkan oleh Papa Cakra, tapi dia cukup senang. Setidaknya rumah Darren dan Ara nanti masih ada di satu area yang sama dan membuat Papa Cakra mudah untuk 'menculik' cucunya.

Sayangnya, karena itu rumah tua dan bangunannya tidak sesuai dengan selera baik Darren mau pun Ara. Darren memutuskan untuk merobohkan semua dan membangun ulang yang membuat rumah mereka baru bisa ditempati paling cepat setahun ke depan.

-----------

Pagi ini adalah jadwal Ara untuk kontrol kandungan sebelum mereka pergi babymoon.

Herannya saat mereka berdua datang ke rumah sakit, ternyata Papa Cakra juga ikutan hadir di sana.

"Gimana perkembangan rumahnya, D?" tanya Papanya.

"Baru buat design-nya aja, Pa. Masih lama selesainya."

Lalu mereka mulai mengobrol soal rumah sementara Ara lebih banyak menghabiskan waktu untuk memberi instruksi ke karyawan-karyawannya soal pesanan kue dua hari ke depan.

Ketika dokternya tiba, Ara semakin heran karena Papa Cakra ikut masuk ke ruang pemeriksaan.

"Pa, what are you doin' here?" tanya Darren yang ternyata sama herannya.

"Penasaran baby kalian cewek atau cowok," jawab Cakra cepat. Memang selama ini jenis kelamin anak mereka belum diketahui karena biasanya posisinya membelakangi alat USG. Walau Ara dan Darren sebetulnya belum terlalu penasaran karena bagi mereka baik laki-laki atau perempuan akan sama saja, yang terpenting anak mereka sehat.

"Don't you think it's kinda weird if you lookin' at my wife's belly?" sindir Darren ke papanya saat dokter bersiap memeriksa perut Ara dan mengoleskan gel di sana.

"Papa ngeliatin layar monitor, kok, bukan ngeliatin perut Ara," kilahnya.

Daripada dua pria itu jadi bertengkar, Ara mencoba melerai dengan tertawa kecil dan berkata, kalau dia tak keberatan Papa Cakra ada di sini selama dia tak ikut saat proses melahirkan nanti.

Dokter memeriksa dengan sesama. Dia tersenyum lebar saat mengatakan. "Anaknya perempuan, ya, Bu."

Cakra bersorak riang. "My Princess!! Finally!!!" Lalu bergegas menelepon Shane, memberitahukan kabar luar biasa ini

Sementara itu, Daddy Darren pun bersukacita. Dia mengepalkan tangan tanda kemenangan.

"Yesss!! No Edward!!"

--------------



Anyway .... Udah ada beberapa reader yang nanyain buku Miss Ara ini. 😅😅😅😅😅

Sayah bahkan belom kepikiran karena ngedit itu bikin ruwet. (Walau nanti juga neng akan pakai jasa editor.)

Ditunggu aja kabar cetaknya ya .... (Itu pun kalau banyak yang minat. 😆😆😆)

See ya in another extra part. 😘😘😘😘

Luv,
NengUtie

Miss AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang