Darren masuk ke kamar lamanya, mencari-cari buku untuk dibaca selama menunggu mama dan papanya pulang dari makan malam. Hari ini dia berniat untuk membicarakan hal penting dengan ke-dua orang tuanya.
Setelah mencari di antara tumpukan buku, dia tak menemukan satu pun yang menarik minatnya. Darren menyerah, pergi ke luar kamar karena menonton acara di televisi pun tak selera.
Kakinya melangkah ke ruang keluarga, memerhatikan akuarium besar kebanggan papanya. Dia tersenyum melihat ribbon ell yang sedang bergerak mengelilingi akuarium. Ingatannya berkelana ke masa lalu saat dia mengajari Ara cara memberi makan belut. Dia mengingat ekspresi gembira Ara saat itu. Matanya berbinar bahagia, senyum lebar dan ekspresi super excited-nya walau Darren tahu saat itu Ara sudah kelelahan. She's super cute! Sayang saja Darren tidak menaruh perhatian lebih kepadanya dulu. Ada kalanya hal itu membuat Darren menyesal. Menyesal kenapa tidak mengenalnya lebih lama, menyesal tidak menghabiskan waktu lebih banyak, menyesal karena dia harus menunggu lama sampai akhirnya dia bertemu dengannya.
Darren menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Tangannya meraih ponsel dan membaca lagi pesan dari Ara kemarin.
Miss Ara
Give me time to think, then we'll talk later. I love you, D.
Lagi-lagi dia menarik napas panjang, menghembuskan perlahan, mencoba mencari sejumput rasa lega karena dia terhimpit sesak. Darren mencoba berpikir ulang. Apakah dia telah salah langkah karena sudah mendesak Ara?
Pertemuan terakhir mereka tak berjalan semulus yang dia kira. Saat dia bertamu, Ara terlihat kalut walau dia coba menyembunyikannya dengan sebaik mungkin. Ara masih tersenyum, mengurus kedatangannya dengan baik, bersikap seakan tak ada masalah walau Darren agak curiga saat Ara terus-menerus berkirim pesan. Hal itu biasanya tidak pernah terjadi saat Darren datang. Ara biasanya akan meletakkan ponsel dan memberi perhatian penuh hanya untuknya.
Sampai malam hari, Ara masih saja sibuk dengan ponselnya hingga membuat Darren kesal dan meminta Ara menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi.
Awalnya Ara enggan, tapi, sepertinya dia juga sudah tak sanggup jika harus menanggung drama lain berupa 'kecurigaan tak beralasan dari pacar yang posesif!' sehingga akhirnya Ara menceritakan apa yang membuatnya sibuk seharian ini.
Seperti yang Darren tahu, papa dan si Jalang --Ara tak sudi menyebutnya ibu tiri-- ditangkap karena narkoba dan masing-masing dijatuhi hukuman satu tahun penjara untuk papanya dan 16 bulan penjara untuk si Jalang. Ternyata masalah tidak berhenti sampai di sana saja.
Selaku artis, ibu tiri Ara coba membuat usaha berbasis kosmetik, pakaian dan aksesoris. Sudah ada beberapa orang yang berinvestasi, namun, ternyata produknya tidak pernah dibuat. Modal yang terkumpul sudah habis untuk 'membantu' dia meringankan masa hukuman. Saat ini orang-orang yang tertipu menuntut papa Ara untuk membayar kerugiannya.
Hal itu membuat Ara dan Septy pusing bukan kepalang. Harta bergerak yang tersisa milik papanya tak cukup untuk menutupi kerugian. Mereka harus merelakan harta tak bergerak untuk segera dijual, namun, tidak bisa secepat itu mendapat hasil sementara mereka mengancam akan membeberkannya ke media jika tidak cepat dilunasi dalam satu bulan ini.
Darren mencoba menawarkan bantuan yang Ara tolak mentah-mentah. Menurut Ara, 500 miliar itu bukan jumlah yang sedikit. Jika dibelikan cilok, satu Indonesia pasti bisa menikmatinya.
Ara meyakinkan Darren kalau dia dan kakaknya pasti bisa menyelesaikan semua walau mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari batas waktu yang diajukan. Total aset tak bergerak milik papanya memiliki nilai lebih dari hutang yang harus dibayar. Saat ini kakaknya coba berunding dengan korban-korban penipuan ibu tirinya, meminta jangka waktu diperpanjang dan dari tadi Ara sibuk mendiskusikan masalah ini dengan kakaknya sehingga dia agak mengabaikan Darren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
Roman d'amourCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
