Cassandra, tidak ingin jika dirinya harus menikah dikarenakan perjodohan, karena menurutnya menikah itu harus atas dasar cinta.
Tapi, ia juga tidak tau jika takdir telah membuatnya harus menjalani pernikahan dengan orang yang sempat dijodohkan denga...
Setelah beberapa jam beristirahat karena lelah, pada akhirnya aku pun terbangun dan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rasanya setengah tenagaku rasanya telah habis terkuras. Aku pun masih dapat merasakan sakit seperti pertama kali kami melakukannya, memang jelas bahwa aku masih belum terbiasa dengan semuanya.
Hingga rasa lapar ini mengusikku, setelah membersihkan badanku. Aku langsung bergegas ke dapur untuk mencari makanan yang telah kami masak bersama, beberapa saat yang lalu.
Setelah berjalan keluar dari kamar mandi, aku melihat tempat tidur kami kosong. Amar menghilang, padahal barusan aku melihatnya masih tertidur di sampingku, lalu kutinggal pergi ke kamar mandi.
Aku merasa aneh, tetapi, kupikir lebih baik mencarinya di dapur saja. Dia mungkin sedang mencari makanan juga, begitu aku berjalan melipir ke dapur.
Aku melihat Amar sedang berada di sana, dengan memakai handuk kimono yang bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka, ia juga tak lupa memakai celana pendek untuk menutupi bagian lainnya. Jika kuperhatikan rambutnya tampak basah karena air.
"Kamu sudah mandi?" tanyaku penasaran.
"Iya," jawabnya santai.
"Di kamar mandi, di dekat dapur."
"Sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak kamu bergegas pergi ke kamar mandi," tuturnya santai dengan tetapi dengan ekspresi yang menggoda.
Amar menatapku dengan tatapan penuh, lidahnya bergerak maju lalu dimasukkan kembali secara perlahan, kemudian dengan cepat Amar tampak menggigit bibir bawahnya, benar-benar berniat untuk menggodaku.
"Apakah kamu lapar?" tanyaku iseng.
Amar mengganguk.
"Maukah kamu menyuapiku untuk makan, Sayang?"
"Boleh, asalkan kamu mau menutup mata saat aku suapin nanti."
"Oke, aku mau."
Cassie mengganguk, bergegas ia mengambil piring dan menambahkan nasi serta capcai yang telah kami buat.
"Baiklah duduk dengan tenang di situ, agar aku mudah menyuapimu."
Amar mengganguk lagi, tampak menggerakkan kursinya mendekatiku sebelum akhirnya ia duduk, dan mulai menutup matanya sesuai perintahku tadi.
"Buku mulutnya, pesawat akan terbang dan masuk ke dalam terowongan," ucapku antusias walaupun aku sekilas tertawa oleh candaanku sendiri.
Sebaliknya Amar tetap menutup matanya dengan rapat sembari membuka mulutnya perlahan. Dapat dipastikan bahwa Amar mungkin diam-diam tertawa, hanya saja ia mungkin tidak berani membuka matanya, maka dari itu ia tidak merespon candaanku dengan ikut tertawa bersamaku.
Tanpa pikir panjang, tanganku langsung bergerak perlahan sembari membawa sesendok penuh makanan menuju mulutnya Amar.
Amar langsung menyambutnya dengan cepat ketika sendok itu berhasil menyentuh bibirnya.
Rasanya aku seperti sedang mengurus anak kecil saat ini, entah mengapa aku berpikir bahwa Amar sedang menunjukkan sisi kekanak-kanakannya, setelah menunjukkan sisi dewasanya beberapa jam yang lalu.
"Sangat menggemaskan sekali." Refleks aku menyeletuk iseng dengan agak malu-malu.
Setelah memuji betapa menggemaskannya Amar, aku mulai merasa ada sesuatu yang harus kulakukan padanya, karena sejak tadi Amar berusaha untuk tidak menanggapiku dengan mendiamkanku tanpa respon apapun. Apakah Amar benar-benar tidak mau membuka matanya sebelum kuperintah.
Sampai rasa penasaran ini memintaku spontan untuk mengambil beberapa biji cabai dan menaruhnya di bawah tumpukan nasi serta lauk.
Sebelum memberikan suapannya pada Amar, aku berusaha untuk menahan perasaan untuk tertawa, meskipun sulit, aku berusaha agar secepatnya bisa menyuapi Amar supaya dia tidak curiga.
"Buka mulutnya Amar, kereta api sedang mencoba berjalan masuk ... ke dalam mulutmu," ucapku pelan lalu tiba-tiba saja aku melihat Amar membuka matanya seperti tengah merasakan sensasi pedas akibat memakan dua biji cabai yang sengaja kusimpan di bawah nasi yang ia makan.
"Cassie, sayang."
"Iya, kenapa Amar?"
"Kamu tahu gak kenapa makanan ini terasa pedas?"
"Umm, aku gak tahu." Mataku mencoba melirik ke samping seolah berusaha keras menyembunyikan kesalahan yang telah kulakukan.
"Ugh, Cassie sayang. Rasanya mulutku kepeda ... san deh seperti terbakar," tutur Amar sembari menggerak-gerakkan tangannya, mencoba untuk menghentikan sensasi pedas yang mungkin sedang membakar lidahnya.
"Pedas banget, ya?" tanyaku penasaran.
Amar mengganguk, kali ini ia tidak bisa membalas ucapanku karena tangannya terus mengipas mulutnya dengan napas terengah-engah yang seperti benar-benar terbakar dan berubah menjadi kemerahan.
Entah karena aku sadar dengan kesalahan yang kulakukan, aku langsung bergegas mengambil segelas air minum untuk kuberikan pada Amar.
"Maaf, maaf, Amar," rintihku berulang kali sambil memohon pada Amar dengan mata yang sedikit menyipit. "Itu kesalahanku, maafkan aku."
Namun, Amar hanya terdiam. Sekilas Amar menaikkan satu alisnya ke atas, sambil memberikan sebuah tampilan smirk-nya, yang kini justru membuatku curiga pada pikiran yang ada di dalam benaknya Amar.
"Gak ada sih sebenarnya, tapi kalau kamu nanya kayak gini terus dan sampai merasa bersalah banget. Bagaimana jika kamu memberikanku sebuah ciuman singkat, agar rasa pedas di bibirku ini bisa segera hilang."
Dalam hati aku langsung merasa kikuk. Jantungku berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya, entah suddah berapa kali Amar membuat suasana seakan-akan menyudutkan keadaanku. Tetapi, apa boleh buat demi agar Amar memaafkan kesalahan yang telah kulakukan, aku akan memberikan satu ciuman kecil pada Amar.
Meskipun pada akhirnya satu hal itu akan terus membuatku merutuk dan merasa malu pada diriku sendiri.
"Baiklah akan kulakukan," ujarku mencebik ke padanya dengan helaan napas panjang, akan tetapi tetap pasrah akan apapun.
Amar lanjut tertawa cukup kencang, sebelum akhirnya Amar memilih untuk menutup matanya dan membiarkan aku mengambil alih apa yang seharusnya kulakukan terhadap permintaan konyolnya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.