Masalaluku bersama mu terlalu indah, sehingga sulit untuk dilupakan.
-Violin Grisella Algezza
***
Kini Violin sedang menatap langit-langit kamarnya, bayangannya mengenai Refal tak kunjung sirna dipikirannya.
Ia masih bertanya-tanya, mengapa Refal dengan Aal bisa sama persis. Masa iya semua hanya kebetulan? Atau jangan-jangan, Refal adalah adik Aal? Ah, pertanyaan bodoh itu bahkan masih saja terus terlintas di pikiran Violin.
Di sisi lain, pikirannya tentang Algis juga terlintas di benaknya. Apa sebenarnya maksud Algis mengiriminya sepaket pizza? Apa untuk permintaan maafnya? Jika iya, apakah dengan ia menerima tawaran Algis belum cukup untuk mempercayai Algis bahwa dirinya sudah memaafkannya?
Merasa kurang berguna menjadi manusia yang hanya mempunyai hobi melihat langit-langit kamarnya, Violin beranjak dari tempat tidurnya, lalu meraih ponsel yang ia letakan di atas meja rias.
Ia melihat kembali tentang nomor yang tidak ia kenal, siapa sebenarnya pelaku dari semua? Dan apa tujuan ia mengirimi Violin dengan kata-kata peringatan? Apa sebenernya pelaku hanya ingin dirinya terus berhati-hati?
***
"Algis!" panggil Violin yang baru saja melihat Algis keluar dari kelasnya.
"Apa?" tanya Algis seraya mengembangkan senyumannya.
"Makasih, ya! Udah ngirimin gue pizza semalam. Tau aja kalo semalam nyokap gue enggak masak," ucap Violin lalu tertawa.
"Eh? I-iya, sama-sama. Santai aja kali, Lin." Algis merangkul Violin lalgu berjalan menuju kantin.
"Eh iya, abis ini ke stan jus ya, trus temenin gue ke perpus. Mau balikin buku yang di pinjem Bu Ambar," pinta Violin.
"Oke, biar gue aja yang pesenin jus."
Sesampainya, Algis langsung memesan satu gelas jus strawberry dan satu gelas jus alpukat. Ia paham betul jika Violin sangat suka dengan buah strawberry. Namun sayang, Algis sendiri justru merasa jijik melihat penampilan buah strawberry.
Setelah selesai, Algis membayar pesanannya dengan selembar uang 50 ribuan.
"Nih Bu, kembaliannya ambil aja."
"Ambil-ambil! Buat bayar hutang kemarin-kemarin, nih!" jawab ibu-ibu penjual jus dengan ketus. Pasalnya, sudah beberapa hari ini Algis memesan jus dan tidak membayarnya, dengan alasan lupa membawa uangnya yang berada di tasnya.
"Eh, iya. Lupa." Algis terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baru pertama kali ia ditagih hutang di depan banyaknya siswa-siswi.
Sialan nih, Bu Ina. Reputasi gue sebagai cogan menurun gara-gara belum bayar utang, kan.
Lalu Algis dengan segera memberi segelas jus strawberry pada Violin yang sedang bertumpu dagu sembari memainkan ponselnya.
"Nih, Lin." Algis menyodorkan segelas jus pesanannya.
"Thanks, Gis."
Setelah mereka menikmati minumannya, mereka langsung menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjam Bu Ambar--guru biologi--saat hendak mengajar.
Saat berada di koridor, mereka melihat Refal yang tengah kesulitan membawa setumpuk buku paket.
Mengingat akan kejadian dua hari yang lalu, terlintas di pikiran Violin untuk menyuruh Algis agar mau meminfa maaf kepada Refal atas segala kesalahannya.
"Bantuin, sana! Hitung-hitung bayar minta maaf lo ke dia.
"Hah? Gu-gue? Bantuin dia? Ogah ah! " tolak Algis secara mentah-mentah.
"Bantuin! Lo kan ada salah juga sama dia." Violin menyubit pinggang Algis.
Algis hanya meringis seraya mengusap-usapkan pinggangnya yang habis terkena cubitan.
"Banyak lagi," lanjutnya.
"Iya deh iya."
Mereka pun jalan berdampingan menghampiri Refal yang sedang bersusah payah membawa setumpuk buku paket.
"Refal!" panggil Violin lalu ia melirik ke arah Algis.
Refal hanya menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya Ada apa?
"Lagi ngapain?" pertanyaan bodoh itu bahkan keluar dari mulut Violin.
"Menurut lo?" Refal menatap ke arah Violin lalu Algis.
Violin menyenggol bahu Algis agar segera membantu Refal, namun ia tak mendapat respon dari Algis yang asik melihat ke arah lapangan. Merasa kesal lantaran Algis tak peka, Violin pun menginjak kaki Algis.
"Awh! Apaan sih, Lin! Sakit tau!" Algis menjerit kesakitan.
Bego banget sih ni orang.
Refal yang merasa terkacangi kembali berjalan.
"Refal, tunggu!" Refal membalikkan badannya.
"Si Algis mau bantuin lo, hitung-hitung buat permintaan maafnya sama lo." Algis yang mendengarnya langsung langsung menoleh dengan tatapan tajam mematikan.
"Tuh, Gis. Cepetan," ucap Violin seraya menyenggol bahu Algis. Algis pun hanya bisa pasrah lalu mengambil sebagian buku paket yabg sedang dibawa oleh Refal.
Mereka pun jalan berdampingan, dengan posisi Violin di tengah. Banyak tatapan menusuk yang Violin dapat, sebagian dari mereka tak suka melihat Violin. Namun Violin tidak peduli terhadap itu semua, lagi pula Refal juga Algis tidak merasa keberatan.
Tak lama, mereka bertiga telah sampai di perpustakaan. Refal juga Algis segera meletakan buku-buku tersebut di meja penjaga perpustakaan, begitupun Violin.
"Oh iya, Fal. Gimana soal lomba?" tanya Violin memecahkan keheningan.
"Lewat chat aja."
"O-oke, gue duluan, ya. Yuk, Gis." Violin dan Algis pun melenggang pergi ke luar perpustakaan. Sementara Algis bersorak ria bisa berjauhan dengan Refal.
Happy reading in our project!
Thank you for reading!
Krisarnya, yaa. Karena kami juga manusia, xoxo.
By: Gadissnj
KAMU SEDANG MEMBACA
ComeBack [COMPLETED]
JugendliteraturTAHAP REVISI! [25 Day Make A Story A'R Squad] Kembali. Itulah yang diinginkan seorang gadis remaja yang kini baru memasuki kelas sebelas, gadis tersebut bernama Violin. Sedari dulu ia ingin sekali sahabat kecilnya kembali, sahabat yang dulu pernah...
![ComeBack [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/200438615-64-k458793.jpg)