9.Roti Strawberry

43 6 6
                                        

Senyum tidak selalu mengartikan bahagia, mungkin itu hanya untuk menyenangkan hati orang lain.Senyum tidak selalu mengartikan bahagia, mungkin itu hanya untuk menyenangkan hati orang lain.
***

Sebutan 'teror' masih diragukan untuk menjelaskan kodisi gadis yang terlahir terlanjur baik ini. Apa yang terjadi, sehingga hari ini hati dan pikirannnya tidak tentram.

Betapa tidak beruntungnya Violin hari ini, mood-nya hancur berantakan, dua ember strawberry di yakini tidak akan mampu menata ulang moodnya. Nomor misterius itu mendominasi pikirannya.

Violin menuruni motornya yang telah terparkir di tempat, ia melepas helmnya lalu menyimpannya dikaca spion sebelah kanan. Dengan langkahnya, Violin mulai berjalan menuju ke kelas.

Sesekali ia harus menghindar karena banyaknya motor siswa yang berlalu lalang mencari lahan parkir. Namun langkahnya terhenti sesaat setelah seseorang menghadangnya dari depan. Seseorang dengan wajah tua dan janggut yang lebat, dia adalah pak Satpam.
"Si Eneng, tumben datang pagi," sapa Pak Satpam seraya tersenyum. Dan itu adalah senyuman pertama yang Violin lihat di pagi ini.

"Ya kali saya datang bulan, Pak," ucap Violin dengan asal, mood-nya sedang tidak bagus pagi ini.

"Loh emang, kan?"  tanya Satpam itu seraya memamerkan gigi kuningnya lantaran keseringan menghisap benda yang mengandung nikotin.

"Iya," jawab Violin singkat, lalu pergi meninggalkan Satpam yang setia berdiri di depan gerbang.

Sebelum Violin melanjutkan tujuannnya menuju kelas, matanya sempat tertarik ke arah kiri. Lalu matanya terhenti pada satu kendaraan motor yang ia kenali. Disitu ia sadar, ia sedang berada di samping motor Refal. Itu pertanda kalau Refal sudah berada dikelasnya.

Baru kemarin telat bareng, sekarang datengnya lagi-pagi buta, batinnya.

    
***

Jam pelajaran Violin lewati dengan pikiran dan hati yang belum juga damai, lagi-lagi ulah si nomor misterius itu terus menghantui pikirannya.

Sampai di jam istirahat, Violin hanya terduduk dibangkunya dengan tatapan kosong dan semangat hidup yang kurang.

"Olin!!" Seseorang menepuk pundak Violin dari belakang.

Sontak Violin terkejut dan mendecak kesal, karena dia tahu dari siapa sumber suara itu tercipta. Sudah pasti Algis.

"Apa?" ucap Violin sembari memutar kepalanya dan menatap Algis.

Terlihat Algis yang sedang terduduk di meja belakang Violin dengan sebelah tangan yang masih tersimpan di pundak kanan Violin.

"Kaget yah? Maaf-maaf." Algis terkekeh.

"Lo tuh, kerjaannya ngagetin terus!" protes Violin sembari melotot.

"Lagian lo, ngelamun terus. Udahlah soal hutang jangan dilamunin."

"Harusnya?" Violin menaikan sebelah alisnya, heran.

"Dibayarlah, hahaha." Algis tertawa dengan kencang bak nenek lampir dalam film Princess The Series.

Seketika Algis terdiam lantaran ia mendapatkan tatapan sinis mematikan dari seorang Violin.

"Sembarangan! Lagian gue gak punya hutang. Enak aja kalau ngomong!" ucap Violin seraya memukul pelan bahu Algis.

 Algis meringis, "Yaudah, sih. Maaf."

ComeBack [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang