17. Will U Be Mine?

34 4 0
                                        

Violin telah siap dengan seragam lengkap dipadu dengan ransel di bahunya. Dia terlihat sangat lebih ceria hari ini, seperti remaja lainnya saat berulang tahun. Violin memutuskan untuk langsung menyusul orang tuanya yang sedang sarapan di ruang tengah.

"Pagi, Pa, Ma!"

"Pagi," jawab keduanya serempak.

"Hari ini ada yang spesial loh, Pa, Ma."

Keduanya hanya mengernyitkan dahinya. Seolah mengerti, Violin bertanya, "Papa dan Mama lupa?"

"Ingat, dong. Hari ini itu hari senin. Hari spesial karena kamu harus berangkat pagi-pagi buat menghormati jasa para pahlawan,"  jawab Gezza disertai sedikit penjelasan.

Violin mencebikkan bibirnya kesal. "Hari ini itu hari ulang tahunnya Olin!" kesal Violin dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan.

Tira tersenyum lembut. "Bagi kami, entah itu hari ulang tahun-mu atau bukan, yang terpenting kamu sehat sampai sekarang."

Violin bangkit dari duduknya. "Terserah, lah. Olin pergi dulu," pamitnya masih dengan raut wajah kesal seraya bersalaman.

"Sarapan dulu," kata Gezza sedikit teriak.

Violin terus melangkah maju. "Olin enggak nafsu," teriaknya.

***

Violin membuka pintu kelasnya. Suara letusan balon terdengar kencang, membuatnya terkejut. Riuh suara nyanyian teman-teman kelas Violin sedikit nyaring, sehingga menarik perhatian siapapun yang  lewat.

Mata Violin menangkap Algis yang membawa kue berlilin angka 17. Teman Violin menggodanya, seakan-akan keduanya itu berpacaran. Banyak celutukan yang membuat Violin sedikit salah tingkah, padahal sejujurnya Violin tidak memiliki perasaan apapun selain rasa sayang seorang sahabat.

Tepat saat Violin meniup lilin, bel masuk berbunyi. Menggagalkan misi teman-teman sekelasnya mencolek Violin dengan krim yang ada di kue.
Seiring berjalannya waktu, bel pulang sekolah berbunyi, membuat siswa/siswi berbondong-bondong untuk pulang dengan mimik bahagia, berbeda saat pelajaran dimulai.

Venus tak langsung pulang, ada jadwal ekstrakurikuler fotografi. Kabar kalau ulang tahun Violin telah menyebar karena banyaknya yang upload foto dan video tadi pagi, membuat teman eskul fotografinya mendekat untuk berjabat tangan dengan mengucapkan selamat, terkecuali Refal. Violin menatapnya. Salah satu temannya bernama Sasa yang berada di sana mengerti tatapan Violin menggoda dengan berkata, "Fal! Yakin lo enggak mau ngucapin?"

Violin menyikut Sasa. Mata Refal menajam menatap Violin. "Makin tua  kok bangga?"

Violin membuang muka. Empat kalimat bisa membuat hatinya sedikit teriris.

"Itu mulut enggak bisa dijaga, ya? Cowok-cowok kok mulutnya pedas?" tanya Sasa sedikit sewot. Tak lama kemudian Refal memasang earphone-nya, tak niat untuk memedulikan apa yang dikatakan Sasa.

"Udah, Sa. Memang sikapnya dia kek gitu. Enggak usah peduliin, nanti makin emosi."

"Gue yakin, enggak ada yang mau pacaran sama dia," ungkap Sasa.

Violin hanya mengedikkan bahunya.
"Eh, tapi dia ganteng, pasti banyak yang mau." Sasa meralatnya dengan cengiran.

***

Violin menatap kedua orang tuanya sebal. Lihatlah, bahkan sampai sekarang mereka seperti tak ada niatan buat ngucapin ulang tahun untuk anaknya. Suasana meja makan hening, hanya terdengar dentingan sendok. Biasanya, Violin membuka percakapan disela makannya.
Suara getaran terdengar. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Oh tidak, ternyata getaran ponsel Tira yang berada di meja makan.

"Halo," sapa Tira.

" ... "

"Oh iya ... iya, nanti saya ke sana. Sebentar ya."

Usai sambungan telepon tertutup, Tira menatap Violin dan Gezza bergantian dengan tatapan memelas. "Mamah mau ke kantor dulu ya. Boleh, kan?"

Violin hanya menganggukkan kepala. Berbeda dengam Gezza yang menatap Tira sedikit cemas. "Papa antar, ya? Ini sudah malam."

Tira menatap Violin tak tega. "Olin enggak apa-apa ditinggal sendiri?"

Violin mengangguk. "Enggak pulang juga enggak masalah. Olin mau ke kamar dulu."

Langkah demi langka ia lewati hingga sampai ke kamarnya.

Matanya berusaha terpejam. Sialnya, hatinya sedikit tak terima karena belum mendapat ucapan dari Refal dan kedua orang tuanya. Padahal hari ini akan segera berlalu beberapa jam lagi. Bodohnya, Refal itu bukan siapa-siapa, hanya cowok sombong yang kejam. Ini seharusnya tidak boleh terjadi. Violin tidak boleh mengharap pada orang yang tak tepat, apalagi orang yang kemungkinannya sedikit buat disebut baik.

Bunyi ponsel Violin terdengar. "Nomor ini lagi," gumam Violin.

'Datang malam ini sendiri di lapangan volly sekolah lo, akan gue kasih tahu maksud gue sering mengirim pesan.'

Violin terdiam. Di sekolah malam-malam itu sangat menyeramkan. Tapi kalau tidak datang, dirinya akan termakan rasa penasaran terus-menerus.
Violin memutuskan untuk pergi. Ia mengambil jacketnya, karena malam ini lumayam dingin. Violin memasang earphone-nya, memasangkannya pada telinga. Keluar pintu utama rumah, Violin menghembuskan napasnya pelan. Memasukkan kedua tangannya pada saku jacket, dengan mulut yang menyanyikan lagu seperti bergumam.
Taxi yang ia pesan tadi datang. Tak butuh waktu lama, ia langsung memasukinya. Tak sampai berjam-jam juga dirinya sampai.

Sepi. Violin tercekat. Kencang suara  kaleng terdengar begitu jelas sampai lagu yang ia dengar teralihkan. Rupanya, ada kaleng bekas yang tepat di samping kaki kirinya.

"Sial. Ini belum masuk gerbang. Masa gue udah takut?"

Violin mulai memasuki gerbang. Angin malam menerpa wajahnya, membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Matanya tak sengaja menangkan sesuatu di ruang guru yang sedikit redup, langkahnya seketika terhenti kembali. Bantuknya seperti kepala, dan yang lebih parahnya kepala itu botak. Violin pikir itu pasti tuyul. Jika ini film hantu, mungkin akan didekati, tapi tidak dengan Violin.

Violin terkejut bukan main saat lampu di ruang guru yang bisa terlihat dari jendela menyala. Tapi sedikit lega karena yang ia kira tuyul ternyata, MANEKIN.

Violin merasa ada yang menyentuh kakinya. Violin menutup matanya, napasnya kali ini tertahan. Ia memberanikan diri melihat apa yang ada di bawah. "Sialan, ini setan ngajak main bola ya?"

Tangannya terulur meraih bola yang berada di depan kakinya. "Will you be my girlfriend?"

Violin menarik earphone-nya. "Ini setan suka sama gue?"

Pantulan bola terdengar saat Violin melempar bola ke sembarang arah. "Lo siapa sih?! Manusia atau setan?! Bukannya waktu itu pas telepon yang ngangkat cewek ya?! Kenapa ngajak gue pacaran?! Setan lesbi atau manusia lesbi?!" teriak Violin.

Langkah kaki terdenngar dari arah belakang. Violin enggan menengok, rasa takutnya semakin membesar sekarang.

"Yakin lo enggak mau jadi pacar gue?"

Tunggu, Violin kenal suara itu. Ia langsung membalikkan badannya, menatap lekat cowok berhoodie hitam sedang menunduk membuat Violin sedikit susah melihat wajahnya. Cowok itu berjalan mendekat dengan kepala yang masih menunduk.

Cowok itu hanya berjarak beberapa centimeter dari Violin. Tangan Violin dengan cepat menyingkap tudung hoodie itu membuat cowok itu mendongak. Matanya seperti ingin keluar dari tempatnya sekarang. Ternyata dia Refal.

Refal memberikan senyumnya. Senyum itu baru kali ini terlihat. Tangan Refal merogoh saku celananya, memperlihatkan gelang pada Violin membuatnya membekap mulutnya dengan tangan sendiri.

"Aal?"

Happy Reading in our project, guys!

Thank your for reading!

Krisarnyaa

(24 Oktober 2019)

By: Chanzell07


ComeBack [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang