⚠5⚠

798 79 12
                                    

"Diantara semua cucu adam di bumi, kenapa harus kamu lagi. Bahkan kenangan menyedihkan sekalipun membuat kita terus mendekat. Aku bosan."

-----

Pak Adhiti merebahkan punggungnya di bantal yang sengaja beliau tumpuk meninggi.

Di tangannya, ada secarik kertas yang nampak mulai lusuh. Matanya sendu menatap setiap kalimat yang ada di surat itu. Hampir setiap hari beliau membacanya, dan perasaannya tetap saja sama, menyesakan.

Kenangan terakhir bersama sahabatnya tertanam dan bersemayam abadi bersama surat itu. Sudah dua tahun beliau menjaga surat itu baik-baik. Tak pernah di biarkan robek sedikit pun.

Pesan itu selalu terngiang di pikiran beliau. Lirih rasa hatinya mengingat semua yang pernah mereka alami bersama. Sampai pada hari itu, hari ketika dia berhutang nyawa pada sahabatnya.

Hari di mana beliau membuat anak menjadi kehilangan ayahnya dan seorang wanita menjadi janda.

Seandainya Pak Adhiti tahu dimana mereka. Pasti dia akan pergi kesana, berlutut seraya menangis dan meminta maaf di hadapan mereka. Meski semua itu tak akan pernah bisa mengganti apapun yang telah hilang, pergi dan terkuras.

Pak Adhiti memejamkan matanya sejenak. Mencoba mendamaikan hatinya yang tengah kalut.

"Aku tahu ini gak mudah buat kamu," Ibu Adhiti meraih tangan suaminya.

"Rasa bersalah itu akan terus menghantui aku," ucap Pak Adhiti. Ia memalingkan pandangan ke arah lain. Berusaha menyembunyikan wajah sedih dari istrinya. "Sudah bertahun-tahun aku mencari mereka, tapi tidak ada titik terang sedikit pun," sambung beliau.

"Kita sudah mencoba bukan."

"OMG Hellooo, itu seriusan orang tuanya Ev?" tanya Iva keheranan.

"Gak tau, kan kita gak pernah ketemu," jawab Lala.

Wajar saja kalau mereka heran melihat Papa dan Mama Ev yang datang dengan mobil Alphard keluaran terbaru diiringi dua mobil SUV fortuner yang diisi penuh oleh para pengawalnya itu. Mereka tak pernah sekalipun bertemu dengan kedua orang tua Ev dan tak pernah sama sekali menginjakkan kaki di rumah Ev. Mereka juga bingung mengapa Ev selalu melarang mereka datang ke rumahnya atau bertanya keluarganya.

"Jadi Ev itu kaya banget yak!" Cla takjub.

Bukan hanya mereka bertiga yang heran serta takjub. Tapi seluruh siswa dan siswi SMA Adiwijaya. Belum lagi outfit dan tas yang di tenteng Mama Ev itu nilanya ratusan juta.

Orang tua Ev hampir tak pernah datang ke sekolah, bahkan untuk pengambilan raport saja, keluarga Ev memiliki kesepakatan dengan pihak dewan guru untuk tidak mengambil secara langsung. Jadi ini adalah kejadian langka.

Kedua orang tua Ev langsung di arahkan ke ruang Kepala sekolah oleh salah seorang guru. Tak lama setelahnya bunda Dem datang dengan taksi dan di arahkan pula ke ruang guru.

Setelah orang tua Dem dan Ev berkumpul di satu ruangan yang sama. Pak kepala sekolah menjelaskan dengan rinci, apa yang di lihat oleh Bu Siti di toilet perempuan tadi kepada orang tua Dem dan Ev. Untung saja kedua belah pihak orang tua bisa bekerja sama dengan baik.

Ada hal yang membuat Ev tambah resah. Dia tahu, orang tuanya kesini pasti membawa pengawal-pengawal dengan jumlah banyak. Itu akan menjadi pusat perhatian dan semua yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat akan mulai terbongkar hari ini.

Demon & Devil [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang