"Kamu akan lihat kesungguhanku, aku tak akan menyerah hanya sampai titik ini. Aku tidak suka membuka halaman awal buku tapi tidak menyelesaikannya sampai akhir. Kamu akan melihatnya sebentar lagi. Lalu sekarang pertanyaannya adalah, apakah kamu akan luluh dan berbicara sejujurnya padaku?"
-----
Taman belakang SMA Adiwijaya.
Setelah dari kantin, Dem pergi ke taman belakang sekolah untuk menenangkan diri. Geng Pangeran Curut ikut menyusul dan berkumpul. Suasana sangat sepi di tempat ini. Haya ada empat curut ganteng di sana.
"Dem, lo kenapa sih sejahat itu sama Ev tadi." Tegur Karrel yang ikut tidak terima dengan perlakuan kasar Dem tadi.
Dem tertawa sarkas. "Ternyata orang munaf juga banyak yang belaiin ya. Kenapa Rel, lo suka sama cewek munaf kayak dia?"
"Lo apa-apaan sih Dem. Gausah ngaco. Cowok macam apa yang tega-teganya bilang seorang cewek munaf di depan umum." Karrel juga mulai tersulut emosi.
Jodie dan Azka berusaha menenangkan Dem dan Karrel yang mulai beranjak dari tempat duduknya, hendak saling adu jotos.
"Lo gak tahu apa-apa Rel. Jadi gausah sok tahu." Dem meneriaki seraya menunjuk-nunjuk Karrel.
Tak kalah emosi, Karrel mendorong tubuh Dem. "Gimana kita bisa tau kalau lo cuman marah-marah. Setiap kali kita nanya, lo teriak-teriak. Trus sekarang, lo bicara seakan akan gue gak dengerin lo bicara. Sekarang siapa yang salah Dem?"
Jodie dan Azka berusaha keras melerai kedua sahabat mereka itu. Di satu sisi, Jodie dan Azka sangat setuju dengan pernyataan Karrel. Coba saja Dem cerita, mungkin mereka bisa membantu.
Dem terdiam sejenak, napasnya mulai tak karuan.
"Lo gak tahu kalau orang tua Ev itu penyebab kematian ayah gue. Orang tua Ev itu mafia."
Karrel, Azka dan Jodie terbelalak. Hampir tidak menyangka kalau apa yang Dem katakan itu benar adanya.
"Lo gak lagi becanda kan Dem." Ucap Jodie.
"Buat apa gua becanda hah. Papanya Ev yang gue kira adalah orang yang sangat baik, terhormat dan mulia itu." Dem berdecak, "Ternyata adalah seorang bajingan yang rela mengorbakan ayah gue yang juga adalah sahabatnya terbunuh, cuma karena masalah pribadinya dan untuk menyelematkan nyawanya sendiri."
Karrel, Azka dan Jodie tak mampu berkata-kata lagi. Mereka sudah sangat-sangat terkejut dengan kenyataan bahwa orang tua Ev adalah seorang mafia.
"Kekayaan mereka, yang mereka nikmatin itu, adalah uang haram." Suara Dem bergetar menahan emosinya yang meluap-luap. "Dan dengan teganya, mereka tertawa di atas air mata keluarga gue. Mereka biarin gue dan adik gue Loly yang masih kecil, jadi seorang yatim." Lirih Dem.
"Sekarang lo semua masih mau nyalahin gue atas apa yang tejadi tadi?" Tanya Dem. "Sekarang siapa coba yang tahan berhadapan dengan anak dari pembunuh ayahnya sendiri?"
"Dan cewek munaf itu, seolah-olah gak tau apa-apa. Seakan gak bersalah sama sekali."
⚠
Ev pulang dengan mata sebab dan bengkaknya. Semua siswa-siswi SMA Adiwijaya melihatnya dengan tatapan aneh dengan sedikit prihatin. Ev hanya bisa diam saja seraya melangkah. Pandangannya terus menerawang lurus ke depan. Tak ada binar bahagia apalagi senyum yang sempat Ev pamerkan beberapa hari yang lalu. Hanya ada tatapan sendu dan tanda tanya serta terbubuhi sedikit rasa emosi.
Cla, Iva dan Lala berjalan di samping Ev. Mereka masih sangat kasian dengan Ev yang seolah di permainkan oleh Dem. Mereka sudah sangat senang melihat perubahan berarti di dalam hidup Ev. Namun kini Dem bahkan telah merenggut setengah semangat hidup yang Ev miliki.

KAMU SEDANG MEMBACA
Demon & Devil [Complete]
Teen FictionSUPPORT FOR 21K READER AND 2K VOTE PLISS!! Devilla Mocaramel Auryss, seorang introvert dengan banyak rahasia hidup. Sosok dingin tak tersentuh yang hidupnya harus diusik oleh seorang Demondra Amaribra Axcello. Berawal dari kebencian, dan saling bala...