Sepuluh

15.4K 1.8K 163
                                    

Chapter ini berdasarkan kisah nyata. Mohon bijak dalam menyikapinya. Semoga bermanfaat. Amin
.
.
.
.
.
.

"Mbah gimana ini? Rico dan si Sundel sekarang jadian. Saya nggak rela Mbah. Pokoknya saya ingin Simbah membantu saya untuk membalas rasa sakit hati pada kedua orang itu. Saya ingin mereka dibuat celaka pada hari dan jam yang sudah saya tentukan."

Maria tidak menyangka dengan permintaan seorang Safira. Setahunya, sahabatnya itu adalah teman yang ceria, baik, serta dapat diandalkan. Tapi siapa sangka rasa sakit hati akibat dikhianati Rico membuat Safira berubah menjadi perempuan yang mempunyai niat untuk mencelakai orang lain.

Mbah D menghela dan menghembuskan nafasnya sambil mengusap wajah. Ekspresi wajah ramahnya seketika berubah marah.

"Aku tidak bisa melakukannya, Nduk. Kalau kamu berniat untuk menyantet Rico, suruh orang lain saja. Jangan aku!" ucap mbah D dengan nada tegas. Safira tampak cemberut karena permintaannya di tolak oleh mbah D

"Dengar ya, Nduk!" Mbah D merendahkan nada suaranya. "Semua itu datangnya dari Allah. Termasuk kemampuan yang kuperoleh ini adalah pemberian dari Gusti Allah. Apa yang sekarang bisa kulakukan merupakan sebuah amanah yang kudapat dengan belajar, mengasah ilmu, dan 'laku prihatin'. Kalau Dukun lain ingin menggunakan ilmunya untuk memperkaya diri dan berbuat sesat ya terserah mereka. Tapi itu bukan aku." Mbah D menatap Safira dengan mata teduhnya dan menjelaskan jika kemampuannya adalah untuk menolong sesama, bukan untuk mencelakai sesama.

Maria merasa lega dengan jawaban mbah D. Iya sih, mana mungkin mbah D bersedia mencelakai orang lain. Karena di salah satu kesempatan saat Maria mengantar Safira ke rumah mbah D. Beliau sedang memberi wejangan kepada penduduk desa yang sedang konsultasi menjelang masa panen. Wejangan tersebut adalah untuk tidak membunuh hewan liar yang ikut menjarah tanaman mereka. Maria masih ingat dengan ucapan mbah D. "Kewan mau ojo mbok pateni yo. Podo - podo makhluk urip butuh pangan. Iki mengko pas nyebari uyah sing wes tak dongani, ojo lali moco Basmallah. Terus ngomong supoyo kewan mau entuk mangan anggere tandurane ojo di entekke."
(Hewan tadi jangan dibunuh ya. Sesama makhluk hidup butuh makan. Ini nanti saat menabur garam yang sudah aku beri doa, jangan lupa membaca Basmallah. Kemudian katakan supaya hewan itu boleh makan tapi hasilnya jangan dihabiskan)

Itulah salah satu sikap bijak mbah D. Jadi Maria merasa lega, Safira dilindungi dari perbuatan sesat.

"Tapi saya sakit hati, Mbah!" Safira tampak menahan tangis karena kekesalan yang membuncah di hatinya.

"Aku tidak bisa mencelakai orang lain. Apalagi dengan waktu, hari, dan tanggal yang sudah kamu tetapkan. Karena Aku tidak bisa mendahului ketetapan Gusti Allah." Ucap mbah D dengan bijak.

"Kalau begitu, saya ingin membuat Rico tergila - gila pada saya. Setelah dia dekat, saya akan mencampakkan dia. Saya bersedia pasang susuk berapapun biayanya" Safira yang masih terobsesi membalas Rico pun mengutarakan alternatif ke dua.

"Eh jangan, Saf. Nanti kalau Rico beneran kepelet terus kamunya baper. Sia - sia dong usahamu untuk move on." Maria langsung menegur Safira.

Ya iya dong... Maria khawatir Safira bukannya berhasil membuat Rico takluk, tapi justru sahabatnya yang kembali menye - menye. Jika Rico tidak se bangsat itu, Maria sih tidak keberatan. Masalahnya, Rico bukanlah pria kualifikasi A yang pantas untuk dipertahankan.

"Nduk, kamu kan sudah ku beri tahu. Rico itu punya jimat." Mbah D menyebutkan apa saja yang di 'pelihara' oleh Rico dan Safira pun meng-iyakan. Karena ia pernah melihat benda - benda tersebut baik dipakai langsung oleh si bangsat di lehernya, ataupun yang tersimpan di dalam dompet.

"Dengarkan aku ya, Nduk. Bukannya aku tidak mau mendekatkan kalian berdua. Justru karena aku tahu dia bukan pria baik, maka aku berusaha memberitahukannya padamu. Bisa saja kalian menikah, tapi apakah kamu mau kebahagiaan pernikahan kalian hanya seumur jagung. Ingatlah kedua orang tuamu. Mereka pernah memandikan dan menyuapimu saat kamu kecil. Tapi kamu belum pernah kan, memandikan dan menyuapi mereka?" Pertanyaan mbah D membuat tidak hanya Safira yang merasa sesak, tapi hati Maria pun merasa ngilu.

Ketika Cinta Telah Bicara (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang