Tigabelas

13.9K 2K 316
                                    

Yudha pulang dari kantor dan membelokkan mobilnya di SPBU tempat Maria bekerja. Ia kembali membulatkan tekadnya harus berhasil mengajak tetangganya itu untuk bekerja menjadi asisten pribadinya.

Setiap kali mengingat Maria, lelaki itu akan tersenyum kecil sambil membodoh - bodohkan dirinya yang kini mendadak bucin pada wanita yang dulu pernah ia tolak pernyataan cintanya.

"Karma is real." gumamnya sambil mengemudikan mobil.

Bagi sebagian besar pria, mencari istri yang memenuhi kriteria bibit, bebet, dan bobot itu adalah sebuah keharusan yang mutlak. Namun seiring waktu berlalu, mendapatkan istri yang tangguh adalah sebuah berkah. Dan Maria yang setangguh Xena berhasil mendobrak anggapan kolot seorang Yudha.

Maria nemang jauh dari kata wanita idaman. Polah tingkahnya yang pecicilan, bar - bar, usil binti menyebalkan membuat Yudha mencoretnya dari daftar kandidat calon istri. Mana mungkin kan, Yudha memilih perempuan yang selalu membuatnya malu itu sebagai istri? Meskipun kenyataannya sekarang justru terbalik.

Yudha sendiri tidak mengerti mengapa ia jadi suka mengingat keusilan - keusilan Maria sambil tersenyum - senyum sendiri. Hal yang baginya dulu terasa sangat menyebalkan, kini berubah menjadi kenangan yang sangat ia rindukan. Sebenarnya ia malu mengakui jika keusilan Maria telah memberi warna dalam hidupnya. Namun sekali lagi karena gengsi dan ambisinya sejak muda, ia jadi antipati dengan gadis itu.

Yudha adalah salah satu produk perkembangan jaman yang lebih mengedepankan gengsi. Dan kini ia termakan oleh gengsinya sendiri. Toh akhirnya istri idaman yang ia seleksi dengan ketat ternyata harus lebih dulu berpulang dan menjungkir balikkan kehidupannya.

Dan peristiwa itu seolah memberi teguran pada Yudha jika hidup itu tidak selamanya berjalan seperti kemauannya. Termasuk ketika sekarang ia berubah haluan ingin kembali dekat dengan wanita yang dulu mati - matian ia hindari.

Sayangnya senyum di bibir Yudha langsung lenyap saat ia melihat Maria keluar dari kantor kemudian masuk ke dalam mobil milik lelaki yang dulu sempat ia temui. Benaknya dipenuhi pertanyaan, apa hubungan antara Maria dengan pria itu?

Yudha tidak jadi turun dari mobil dan memilih untuk mengikuti kendaraan yang membawa Maria di dalamnya. Kening Yudha semakin berkerut ketika mobil itu berbelok ke sebuah kompleks perumahan dan berhenti di depan rumah sederhana.

Dari jarak pandang aman, Yudha mengawasi semuanya. Dilihatnya Maria turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa merasa canggung sedikitpun. Siapakah lelaki itu? Mengapa Maria terlihat nyaman saat bersamanya?

Perasaan cemburu itu tiba - tiba menyusup hadir di hati Yudha. Tangannya mencengkeram erat setir mobilnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk turun dan menyambangi Maria.

******

"Abang capek kan? Aku buatkan minum dulu ya!" Maria yang baru saja masuk ke dalam rumah segera menuju ke dapur untuk menjerang air. Meskipun ia belum tahu statusnya apakah benar saudara Mario, namun tidak membutuhkan waktu lama, keduanya mulai akrab.

Maria begitu menikmati kehidupan barunya bersama lelaki yang mengaku sebagai saudara se ibu. Salahkah Maria jika ia ingin merasakan hidup damai seperti sekarang, setelah selama hampir tiga puluh tahun hidupnya selalu dihimpit perasaan takut dan tidak nyaman?

Walaupun begitu, hati Maria masih belum merasa tenang karena hasil tes DNA itu belum keluar. Jika ia dan Mario bukan saudara, serakah kah Maria jika ingin tetap menikmati rasa tenang dan damai ini. Persetan dengan anggapan orang - orang yang menuduhnya kumpul kebo. Toh julukan anak lonte dan anak mantan penjahat sudah disematkan padanya semenjak ia masih belum mengenal dunia.

Mario menatap punggung Maria yang menghilang ke dapur. Setelah melepas kaus kaki, ia segera merebahkan diri di karpet. Tinggal beberapa hari lagi ia bisa menikmati kebersamaannya dengan Maria si adik yang hilang. Kalaupun mereka bertemu mungkin tidak bisa terlalu sering, mengingat Mario harus melakukan tugasnya di luar kota.

Mario baru akan memejamkan mata saat pintu rumahnya diketuk. Sambil menggerutu, ia pun bangun dari rebahan dan berjalan menuju ke pintu.

Ketika pintu terbuka, Mario melihat sosok yang pernah ia jumpai di SPBU berdiri di depannya.

"Aku ingin bertemu Maria." ucap si tamu tanpa basa - basi. Mario menautkan alisnya, siapa gerangan lelaki bertampang keren tapi tidak punya sopan - santun ini? Mengapa kehadirannya selalu merecoki Maria.

Kedua pria itu bertatapan sambil berusaha mengintimidasi. Hingga akhirnya sebuah teguran menyadarkan mereka dari situasi kaku dua orang pria yang sedang menunjukkan pengaruh dan kekuasaan mereka.

"Bang, tehnya sudah jadi..."

Maria tertegun saat melihat di depan pintu ada Yudha. Bagaimana pria itu bisa menemukan tempat tinggalnya yang baru?

Melihat sang adik yang mendadak dilanda kegugupan, Mario segera merengkuh tubuh Maria dalam rangkulannya.

Mata Yudha terbelalak lebar saat melihat pria di depannya dengan lancang merangkul Maria. Dan yang lebih mengejutkan, Maria tampak merasa nyaman dalam perlindungan pria itu.

"Oh... Jadi kamu lebih memilih menjadi simpanannya lelaki ini ya?" ucap Yudha sarkas. Rasa cemburu membuat bibirnya melontarkan sebuah ucapan sepedas bon cabe level 100.

Yudha menatap Maria dengan tatapan meremehkan. Namanya juga anak mantan penjahat. Wajar jika kelakuannya seperti itu.

"Sepertinya aku salah besar mencoba menaruh kepercayaan padamu." ucap Yudha kemudian ia membalikkan badan dan berlalu meninggalkan rumah itu. Tidak lagi ia pedulikan dengan Maria yang menatapnya dengan mata sendu. Rasa cemburu telah membutakan mata dan hati seorang Yudha.

Mario dapat merasakan tubuh yang berada dalam dekapannya bergetar. Maria sedang menangis tanpa bersuara. Ia jadi menyadari satu hal. Ternyata adiknya menyukai lelaki bermulut pedas yang baru saja datang.

"Biar aku jelaskan semuanya." Mario hendak menyusul Yudha, namun tarikan tangan Maria menahannya.

"Nggak usah! Bang. Aku toh sudah terbiasa di ledekin sama dia." Maria menyusut air mata yang mengalir jatuh di pipinya. Mario membantu menghapus jejak basah di pipi Maria. Well, Tugasnya sebagai seorang kakak baru saja dimulai.

********

Yudha meninggalkan kompleks perumahan dengan hati berkecamuk. Kenapa rasanya kesal ya melihat Maria berada dalam rengkuhan lelaki tamvan dan mavan yang tidak kalah dengan dirinya.

Jika Maria memang terdesak oleh keadaan, mengapa gadis itu tidak meminta perlindungannya saja? Mengapa harus menjadi simpanan pria lain? Padahal saat itu Yudha sudah terbuka menerima Maria. Bahkan jika berkenan, Yudha bersedia menjamin kehidupan Maria selama seumur hidup.

Ingatan Yudha melayang ke masa di mana ia menolak Maria. Ia sadar, ucapannya waktu itu telah menorehkan luka cukup dalam di hati Maria. Yudha menghentikan mobilnya dan merenung.

"Seandainya waktu bisa di putar ulang. Aku ingin kembali ke hari itu dan memperbaiki sikap burukku."

Tbc

Abaikan typo 😀✌️

Ketika Cinta Telah Bicara (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang