Tujuhbelas

12.1K 1.9K 406
                                    

Happy reading
.
.
.
.
.
.
.
.

Safira menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Mana mungkin pak Mario yang tamvan dan mavan itu menembaknya. Rico yang nyata - nyata buluk dan memiliki banyak hutang, serta gemar berjudi saja tega menghempaskan Safira ke dalam jurang kesedihan akibat patah hati yang tak berujung. Padahal ia sudah banyak keluar uang untuk melakukan treatmen sehingga kini penampilannya menjadi lebih cantik dan modis. Belum lagi melindungi kesembronoan kerja Rico plus meminjami uang untuk menutup hutang judi pria itu. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menyenangkan Rico agar hati sang pacar tidak berpaling. Walau tetap saja usahanya ternyata sia - sia meskipun sudah dibantu doanya mbah D.

"Bapak tulus atau karena dipaksa oleh Maria nih?" tanya Safira memancing. Ia tidak bisa begitu saja dong menerima Mario. Soalnya kalau boleh jujur, Rico masih menjadi raja di hatinya.

Mario segera menggandeng tangan Safira untuk duduk di teras gedung stadion. Ia sengaja menepi agar tidak terganggu pengunjung yang berlalu lalang di sekitar mereka. Dan Safira yang sedang bingung karena ditembak dadakan oleh pak Mario hanya pasrah saja ketika pria itu membimbingnya untuk mencari tempat yang sedikit privacy.

"Awalnya aku juga dipaksa oleh Maria. Tapi setelah aku mengenal ibumu yang sangat akrab dan peduli dengan adikku. Aku jadi mantap untuk memilihmu menjadi istri." jawab Mario dengan jujur, sambil menatap manik mata Safira untuk menunjukkan keseriusannya.

Benar sih, untuk menikah itu modal utama adalah cinta. Tapi jangan lupa, hanya mencintai pasangannya saja tidak cukup. Mario juga harus menyayangi kerabat yang lain karena ia akan menjadi bagian dari keluarga besar Safira. Mario yang sudah berumur, dan sering bertugas secara nomaden sudah tidak memiliki banyak waktu luang untuk menyeleksi dan mengenal lebih dekat keluarga calon istri. Jadi menerima syarat yang ditujukan oleh sang adik adalah solusi paling tepat. Lagipula cinta akan hadir karena terbiasa. Mereka berdua hanya butuh waktu.

Safira menundukkan kepalanya. "Masalahnya saya baru saja patah hati dan belum bisa move on, Pak." Safira menjawab sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang. Wajahnya yang cantik langsung berubah mendung.

Mario menyentuh dagu Safira agar gadis itu menatapnya. "Kamu itu cantik dan menarik. Pasti banyak pria yang jatuh hati padamu. Dan itu akan membantumu untuk segera move on." Mario berusaha menghibur Safira. Ia tidak menyangka jika dibalik keceriaan dan keramahan si admin SPBU saat menyambut team audit, ternyata gadis itu tengah dilanda gegana karena cinta.

"Lelaki yang nyata - nyata tidak lebih baik dari Bapak saja menolak saya. Bagaimana mungkin Bapak mau sama saya." Safira mencoba beralasan. Perasaannya dibuat tidak menentu dan kalut. Ketakutan jika dirinya didekati dan hanya dimanfaatkan kembali membayang - bayang. Pangalaman dipacari pria karena ada apanya bukan karena apa adanya, nenimbulkan trauma yang mendalam.

"Jika kamu ditolak oleh seseorang, itu artinya kamu sebenarnya memang ditakdirkan untuk menjadi milikku."

*******

Maria menyerahkan Arina pada papanya. "Ini anak kamu!" ucapnya sambil berusaha menghindari menatap Yudha. Si baby embul unyu - unyu yang sedang memainkan air liurnya itu nyata - nyata lebih menarik ketimbang si bapak. Sayangnya Maria tidak bisa menggoda si baby boy karena khawatir justru akan membuat Yudha versi mini itu kembali menangis.

Maria buru - buru membalikkan badannya. Ia tidak bisa berlama - lama berada di dekat Yudha. Hati kecilnya terlalu jujur karena belum bisa mengenyahkan pria itu dari singgasana hatinya.

Melihat Maria yang hendak buru - buru kabur, Yudha pun segera memanggilnya. "Maria!"

Panggilan itu membuat langkah Maria terhenti, ia pun menoleh ke arah Yudha dan kedua juniornya.

"Thanks, ya. Sudah bantu jagain Arin." ucap Yudha dengan tulus. Maria hanya tersenyum samar sambil mengangguk sebelum ia kembali melangkah meninggalkan si hot papa.

Ketika Maria sudah terlihat jauh, Arina mulai kepo pada papanya. "Papa kok bisa kenal sama onty Maria, sih?"

Pertanyaan Arina membuat Yudha menunduk ke arah gadis kecilnya. "Onty Maria itu, dulu tinggalnya di sebelah rumah Nenek."

"Ewh... Jadi onty dulu sering bermain dengan Papa dong?" selidik Arina penuh rasa ingin tahu.

Yudha segera menggandeng tangan Arin untuk diajak pulang. Sambil berjalan meninggalkan stadion, Yudha pun menjelaskan. "Iya, Kak. Onty Maria itu temannya Papa sejak TK hingga lulus SMP."

"Apakah Papa dan onty Maria dulu sering bermain bersama?" pertanyaan Arin bak seorang detektif saja. Namun pertanyaan itu untuk sesaat mampu menyeret ingatan Yudha ke masa lalu.

Seingatnya ia dan Maria tidak pernah bermain bersama. Namun di manapun Yudha berada, Maria selalu menjadi perusuh. Seperti waktu itu saat pulang sekolah. Yudha dan teman - temannya sudah melakukan perjanjian rahasia jika mereka akan mampir di sungai untuk berenang. Dan entah siapa yang membocorkannya. Sebab Maria tahu, kemudian secara diam - diam mengikuti Yudha dan kawan - kawan nya ke sungai. Sudah bisa dipastikan jika Yudha akan menjadi korban kejahilan Maria. Karena dengan tanpa dosa, Maria menyembunyikan celana seragam merahnya. Untung saja rumah salah satu temannya dekat sungai tempat mereka berenang. Jadi Yudha bisa meminjam celana dulu. Tapi akibat insinden itu, Yudha jadi ketahuan bermain di sungai dan dimarahi oleh ibunya. Sudah bisa dipastikan, Yudha jadi tidak diperbolehkan lagi bermain di sungai, padahal itu adalah keasikan bocah seusianya. Semua gara - gara siapa kalau bukan MARIA.

Yudha mengusap wajahnya untuk menahan tawa. Mengapa kenangan menyebalkan itu, sekarang jadi terasa menggelikan?

*******

Denting ponsel Safira berhasil mencairkan suasana canggung yang tercipta. Ternyata Maria sedang kebingungan mencarinya dan Mario.

"Kalian pada kemana, sih? Aku menunggu di tempat parkir ini loh." tanya suara di seberang.

"Iya--- sebentar. Kami--- dekat kok" jawab Safira gugup. Ucapan Mario tadi benar - benar berhasil membuat hatinya menjadi kacau - balau. Kenapa sih hati perempuan itu mudah meleleh kalau di gombali lelaki?

"Suruh Maria ke sini aja, kita cari makan dulu sebelum pulang!" Mario mendekatkan wajahnya di dekat telinga Safira sambil berbisik. Hangat nafas Mario yang berhembus di leher, membuat gadis itu semakin gugup. Alamak!!

"Mar, kata Pak Mario. Kita mau cari makan dulu. Temui kami di warung nasi uduk tenda biru ya!"

Setelah menyebutkan warung tenda yang akan mereka datangi, Safira pun menutup telponnya.

Mario merengkuh bahu Safira hingga kini keduanya berdiri saling berhadapan. Safira memundurkan kepalanya ketika pria itu menunduk untuk  mensejajarkan wajah di depannya.

"Mulai sekarang jangan memanggil aku Pak, ya! Panggil aku Mas atau Ayang saja!"

Tbc

Ayay... Mas Mario. Hahahaha.
Untuk pembaca yang sudah ikut PO, tunggu paketnya datang yak. Terima kasih sudah membeli.

Ketika Cinta Telah Bicara (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang