Terima Kasih untuk votesnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maria dan Yudha saling bertatapan. Namun gadis itu buru - buru mengalihkan arah pandangannya dari si mantan gebetan. Kini perhatiannya tertuju pada si gembul unyu - unyu berwajah tampan duplikatnya Yudha, yang berada dalam gendongan papanya.
Wajah Maria yang gahar tidak ada manis - manisnya, membuat Arka terbelalak. Kemudian bayi laki - laki itu mulai menangis. Sekarang Yudha menjadi double rempong.
Maria buru - buru beringsut menjauh membiarkan Yudha kalang kabut menenangkan si kecil dalam gendongannya dan mengawal gadis kecilnya. Sesekali Maria menoleh ke arah Yudha. Entah mengapa pemandangan itu menimbulkan perasaan empati dan membuatnya kembali mendekat si bapak yang sedang kerepotan.
"Biar aku yang membantu mengawasi si kakak. Kamu bisa menenangkan adiknya dulu!"
Yudha menatap Maria dengan tatapan tidak percaya. Kesambet apa ya Maria? Biasanya saja berusaha menghindarinya. Mengapa sekarang malah mendekat?
"Oh! Oke. Thanks!" jawab Yudha cepat. Ia tidak ingin menyia - nyiakan kebaikan Maria. Kemudian ia menatap Arina. "Kakak main sama Onty Maria dulu ya. Papa mau menenangkan adek!"
Arina menatap sang papa dan si Onty secara bergantian. Ternyata Papanya mengenal si Onty yang barusan ia tabrak. Lalu Arina pun mengiyakan. "Okay, Papa!"
*****
"Onty temannya Papa ya?" gadis kecil itu mengendarai motor mainannya sambil mulai kepo. Maria hanya mengangguk sambil tersenyum geli. Dasar anak keluarga kaya. Sampai sama tetangga sendiri tidak mengenali. Oh ya, wajar jika Arina tidak mengenal Maria. Karena Yudha tidak tinggal dengan sang ibu. Kalaupun Arina berkunjung ke rumah neneknya yang tinggal di sebelah rumah, Maria sendiri tidak memperdulikan keluarga kecilnya Yudha, bahkan dengan berbagai macam cara ia berusaha menghindar. Rasa sakit hatinya di masa lalu membuatnya tidak mau tahu apapun mengenai Yudha. Termasuk ketika istri pria itu meninggal saat melahirkan si baby boy. Tadi seandainya tidak membuat si gembul rewel, Maria juga enggan menawarkan bantuannya.
"Rumahnya Onty dimana?" tanya Arina sambil tengadah memandang wanita yang berjalan di samping motor mainannya.
Maria menunduk menatap si bocah. Ternyata anaknya Yudha tidak se sombong sangkaannya. Bahkan gadis kecil itu yang lebih dulu mengajaknya mengobrol.
"Rumah Onty nggak di bawa, Nak. Berat!"
Jawaban Maria yang asal bunyi membuat bibir Arina mengerucut. "Memangnya Onty siput? Sampai bawa rumah kemana - mana?"
Pertanyaan Arina membuat Maria tertawa dan meralat jawabannya. Kids jaman now itu ternyata rasa ingin tahunya tinggi juga. "Onty tinggal di jalan Durian."
"Owh...." Arina mengangguk - angguk.
"Memangnya kamu tahu jalan Durian?" gantian Maria bertanya.
"Enggak Onty." kini Arina menggelengkan kepalanya. Nah loh.
Untunglah accu si motor mainan sudah habis. Jadi selesai sudah tugas Maria mengawal gadis kecilnya Yudha.
Setelah mengembalikan pada petugas persewaan mainan, Maria menggiring Arina menuju ke tempat ayahnya yang menunggu mereka di dekat lapangan Basket.
"Onty kenal papaku sejak kapan?" Arina yang kini sedang dalam gandengan Maria kembali kepo.
Maria menatap Arina. "Aku mengenal papamu jauh sebelum mamamu mengenal papamu, Nak!"
******
Mario dan Safira tawaf mengelilingi stadion tanpa menyadari jika Maria terpisah dari mereka. Dalam hati keduanya membatin, barangkali Maria memang sengaja menghindar untuk memberi kesempatan mengobrol. Kalau tidak, mungkin Maria sedang icip - icip aneka makanan yang dijajakan di sepanjang jalan yang mereka lalui untuk tawaf. Suasana stadion di Minggu pagi adalah godaan bagi pecinta makanan.
Ketika melewati tempat persewaan mainan, keduanya melihat Maria tampak sedang menggandeng seorang gadis kecil. Mario dan Safira bersepakat untuk mengikuti Maria.
Saat melihat siapa yang dihampiri oleh Maria, Mario mendengkus sebal. "Cowok kurang ajar itu kenapa ada di sini?"
Safira menatap Mario yang berjalan hendak menghampiri Maria. Dilihat dari gelagat Mario yang terlihat kesal, Safira berspekulasi. Mungkin pria itu pernah bertemu dengan Yudha dan mengalami hal tidak menyenangkan. Sayangnya Maria belum sempat menceritakan semua tentang Mario karena sahabatnya itu memilih tinggal di kontrakkan.
Dengan segera tangan Safira menarik lengan pria itu untuk mencegahnya.
"Kenapa nggak boleh?" Mario menatap Safira tajam.
"Santuy, Pak. Ada anak kecil itu loh! Nanti kalau Bapak mendekat sambil marah - marah bisa ribet!"
Mario menatap Safira. Sepertinya si admin SPBU itu mengenal siapa laki - laki tidak sopan dan suka merecoki adiknya. Jika Maria selalu enggan membahas tentang lelaki itu, barangkali Safira tahu.
"Sebenarnya laki - laki itu siapa, sih?"
"Lho, Maria nggak cerita sama Bapak tentang Yudha?" Safira menatap Mario dengan keheranan.
"Enggak." jawab Mario sambil mengangkat bahunya. Safira menoleh ke arah Maria yang sedang menyerahkan seorang gadis kecil pada Yudha. Sambil menatap interaksi tersebut, Safira pun menjelaskan pada Mario.
"Lelaki itu adalah cinta pertamanya Maria."
Kemudian mengalirlah sebuah cerita dari bibir Safira. Sebuah informasi penting yang tidak pernah Mario ketahui selama ia hidup terpisah dengan adiknya.
"Jadi cowok itu seumuran dengan kalian berdua dan sudah punya dua anak? Produktif amat." Mario berdecak iri. Ia yang nyata - nyata usianya dua tahun lebih tua malah masih jomblo.
"Seharusnya di umurku sekarang, aku juga sudah punya baby." Mario menyuarakan isi hatinya yang terdalam. Terlalu fokus merawat sang ibu dan menemukan jejak adiknya yang terpisah membuatnya belum memikirkan untuk berumah tangga.
"Lha kenapa Bapak belum menikah? Dengan penampilan dan pekerjaan Bapak seperti saat ini, pasti nggak bakal ditolak kalau menembak cewek." celetuk Safira tanpa sadar akan arti ucapannya.
Mario menatap si admin SPBU sambil meringis. Jujur saja, hati Mario sebenarnya juga sedikit terusik ketika melihat Safira yang semakin hari semakin terlihat cantik dari setahun lalu saat ia ditugaskan untuk melakukan audit.
Mungkin Safira sedang menarik perhatian lawan jenisnya yang entah siapa? Tapi permintaan Maria agar bersedia menjadikan Safira sebagai calon istri, membuat Mario bersikap masa bodoh dengan lelaki yang menjadi rivalnya.
Mario menatap Safira dengan lekat. Ucapan adiknya tidak mungkin menjerumuskan dirinya bukan? Jika Maria saja mendukungnya jadian dengan Safira? Mengapa tidak ia coba?
"Berarti kalau aku menembak perempuan cantik yang saat ini berada di depanku. Aku nggak akan di tolak dong?"
Tbc
Icikiwir.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Cinta Telah Bicara (End)
CasualeSilakan dibaca tapi jangan ATM ya. Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot men...
