Empatbelas

13.2K 1.9K 157
                                        

Abaikan typo. Blm sempat kurevisi karena males. 🤣🤣🤣🤣

Maria berjalan mondar - mandir dengan gelisah. Hari ini hasil tes DNA nya akan keluar. Jujur saja, Maria merasa bingung. Seandainya hasil tes itu menunjukkan jika ternyata ia bukan adiknya Mario, bagaimanakah ia harus bersikap nanti? Karena ia sudah terlanjur nyaman menganggap pria itu adalah kakaknya. Meskipun ia jarang bertemu dengan Mario, tapi saat mengingat memiliki saudara tempat untuk bersandar, rasanya sangat melegakan. Semua orang pasti tidak ingin hidup di dunia ini sendirian kan?

Maria tidak siap, apakah ia sanggup melepaskan secuil kebahagiaan yang selama berpuluh tahun ini ia cari namun hanya sempat ia rasakan sebentar saja? Pasti berat harus mengikhlaskan kakak sebaik Mario dan melihat pria itu kembali berburu saudara kandungnya yang asli. Dan pasti menyesakkan ketika melihat ada wanita lain yang beruntung menggantikan dirinya menjadi adiknya Mario. Ah lagi - lagi rasa sakit itu muncul kembali. Seperti saat Yudha menolaknya dan berbahagia dengan wanita lain.

Maria mencoba menyemangati dirinya sendiri. "Kamu udah pernah ngerasain sakitnya ditolak, Mar. Dibawa santuy aja kale!"

Di sisi hatinya yang lain ikut menyuarakan pergolakan batin. Jika ternyata mereka bersaudara. Jujur saja, rasa sakit hati karena merasa telah di abaikan itu ada. Namun sekali lagi Maria membesarkan hatinya. Jika meninggalkannya adalah demi kebahagiaan sang ibu, apalah daya Maria? Mario sendiri sudah menjelaskan jika saat itu ibunya tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan adik perempuan dalam asuhan walinya yang sah.

"Mar, kamu dari tadi mondar - mandir terus. Bantuin aku nyortir uang ini loh!" Safira mengingatkan Maria yang terlihat gelisah.

"Kamu kenapa? Udah deh ngomong aja sama aku!" Safira mencoba menenangkan hati sahabatnya.

Maria menatap Safira sebelum ia duduk di depan admin SPBU yang tengah sibuk menghitung tumpukan uang setoran shif pagi.

"Aku merasa galau, Saf." ungkap Maria jujur, mengakui apa yang sedang ia rasakan.

"Nah loh. Akhirnya sadar juga kan, kalau ternyata kamu menyukai pak Mario?" Safira nyengir lebar. Soalnya Safira merasa aneh ketika Maria justru berniat menyomblangi dirinya dengan Mario. Tidak mudah bagi Safira membelokkan laju arah perasaannya dari seorang Rico ke pak Mario, meskipun perbandingan si mantan dengan pak Mario itu bagaikan langit dan bumi.

Maria menatap Safira dengan mata sendu. "Saf, kamu percaya tidak kalau aku dan pak Mario itu ternyata bersaudara?"

Pertanyaan Maria disambut derai tawa Safira. "Kamu saudara dari Hongkong?" ledeknya sambil membendel uang yang telah di sortir itu dengan kertas bertuliskan nama bank rekanan.

Maria menghela nafasnya. Setidaknya jawaban dari Safira membuatnya sadar dari halusinasi. Jika menjadi saudara maupun bukan saudaranya Mario tidak akan mengubah hidupnya. Ia masih akan tetap hidup dan berjuang menghadapi kerasnya dunia ini.

"Tapi kalau pak Mario benar - benar saudaraku. Kamu harus bersiap menjadi calon kakak iparku." ancam Maria.

Safira tertawa geli. Setelah beberapa waktu hatinya senantiasa gegana, ada juga yang berhasil membuatnya tertawa.

"Mar, ngefans telenovela Marimar sih boleh. Tapi jangan halu - halu setinggi langit gitu dong. Kalau jatuh, sakit loh. Mbah D udah terlalu banyak pasien." ledeknya. Akhirnya Safira ada kesempatan gantian menceramahi Maria setelah kemarin - kemarin ia diceramahi oleh sahabatnya itu untuk move on dari Rico.

Maria ingin menyuarakan bantahan. Namun selama bukti itu belum terpampang nyata, mana mungkin Safira percaya begitu saja.

*******

Ketika Cinta Telah Bicara (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang