Happy reading
.
.
.
.
.
."Ish... Kok nyubit sih?" protes Maria ketika Safira melampiaskan rasa gemas kala sedang mengantri dilayani makan.
"Kamu benar - benar keterlaluan!" bisik Safira kesal. Kalau bukan karena ide konyol Maria yang sengaja mencomblanginya dengan pak Mario, pasti ia masih super pede menghadapi auditor yang tampan itu.
Maria hanya tertawa. Sejak kecil, baginya tiada hari tanpa menjahili orang lain. Jika dulu korban kejahilannya adalah Yudha, sekarang adalah Safira.
"Tadi kamu di apain sama abangku?" selidik Maria sambil menggerak - gerakkan alisnya untuk menggoda Safira. Gegara tuyulnya Yudha, ia jadi terpisah dari abang dan sahabatnya itu. Maria jadi ketinggalan info kan, mereka berdua tadi ngapain aja?
Safira tidak menjawab namun justru membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak blushing. Maria jadi semakin geli melihat reaksi Safira. Jika bantuan mbah D kurang manjur, siapa tahu Mario adalah obat yang tepat untuk menyembuhkan kebucinan Safira. Amiiiin....
Untunglah Maria cukup pengertian. Meskipun kepo akut. Namun dirinya bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan Mario dan Safira. Yang penting ia harus mendoakan supaya ikhtiarnya menjodohkan kedua orang itu dikabulkan oleh Tuhan.
"Bapak dan Ibu suka makan apa, Fira?" tanya Mario saat membayar makanan.
"Eng--- enggak usah pa--- Eh.. Mas!" jawab Safira gugup. Sedangkan Maria mati - matian berusaha menahan tawanya. Ternyata selama ia meninggalkan rombongan, telah terjadi kongsi antara abangnya dan sahabatnya. Mario yang memanggil dengan nama Fira dan Safira memanggil abangnya dengan embel - embel mas.
Meskipun Safira menolak, Mario justru meminta pada penjualnya agar membungkuskan aneka makanan untuk dibawa pulang. Supaya calon ibu mertuanya bisa bersantai tidak usah memasak.
Selesai membayar, Mario menyerahkan sekantung besar tas plastik untuk dibawa Maria. "Tolong bawakan untuk camer aku ya!" ucapnya pada Maria.
"Ashiyaaaap...." jawab Maria. Tak lupa ia memberi hormat ke arah abangnya. Hati Maria merasa senang. Sang abang mau menerima usulannya.
*********
Ibu Safira membukakan pintu dan terheran - heran saat Maria menyerahkan aneka lauk pauk untuk makan.
"Apa ini?"
"Ini lauk, supaya hari ini Ibu tidak perlu repot memasak."
"Lho, lha gimana sih? Tadi aku baru saja memasak ikan kakap untuk kalian semua." ucap beliau sambil menatap kecewa.
Ibunya Safira dari dulu memang selalu begitu. Beliau suka menjadi sponsor jika teman putra dan puterinya datang berkunjung. Salah satu orang yang beruntung bisa kenyang kala sedang kepepet lapar adalah Maria. Itulah mengapa sebabnya, Maria tidak bisa membiarkan Safira menghadapi nestapanya seorang diri.
"Udah ini nanti kalian bawa pulang saja. Sekarang bantu Ibu menghabiskan makanan ya!" pintanya penuh harap. Perhatian ibu Safira membuat hati Mario terasa hangat. Tanpa membutuhkan waktu lama, ia pun merasa nyaman dan terkesan dengan sikap calon ibu mertuanya. Pantas saja Maria bersikeras menjodohkannya dengan Safira.
*****
"Kita gagal diet inih Saf!" Maria tertawa saat menghadapi sepiring makan ronde ke dua. Ya sudah, abaikan dulu program turun berat badannya. Ini demi menghormati ibunya Safira yang sudah bersusah payah memasak untuk tamu puterinya.
"Ayo Mas Mario, ayo Mbak Maria ambil nasinya yang banyak!" tegur ibunya Safira.
Selesai makan bersama, Maria dan Safira langsung ngacir ke kamar untuk menimbang berat badannya. Sedangkan Mario mengobrol dengan orang tua Safira.
"Tuh kan, timbanganku naik lagi..." Safira mengeluh sambil menepuk dahinya.
"Udah lah, nggak apa - apa. Toh abangku menerimamu apa ada--- mphhh." ucapan Maria terputus karena Safira buru - buru membekap bibirnya.
"Please... Jangan membahas itu!" pinta Safira dengan nada merajuk seperti anak kecil.
Maria menghela nafasnya kemudian meraih tangan Safira untuk ia genggam.
"Kamu temanku yang sangat berarti, Saf. Di saat orang lain mengabaikan aku. Kamu dan keluargamu dengan tangan terbuka menyambutku. Nggak salah kan jika aku ingin yang terbaik untukmu. Siapa sangka jika aku masih memiliki saudara. Artinya bisa saja aku akan berada dalam perwaliannya dan harus pergi meninggalkan kamu." Maria sengaja menjeda ucapannya untuk menarik dan menghembuskan nafas.
"Kalau aku ikut abangku, terus yang akan jagain kamu siapa?" Maria menatap mata Safira.
"Masa kamu ke mbah D sama Ibu? Kamu nggak ingat terakhir kita ke mbah D justru mengalami musibah? Aku nggak bisa bayangin jika saat itu yang kamu boncengkan adalah ibu."
Safira menatap mata Maria yang tampak berharap. "Aku menyayangi ibumu Saf. Beliau adalah sosok ibu idaman yang tidak pernah aku miliki. Egois kah aku jika aku pun ingin menjadikan ibumu sebagai ibuku dengan perantara abangku?"
"Ya tapi kan jangan buru - buru begini?" rengek Safira. Hati siapa sih yang tidak galau. Belum move on dari yang onoh tetiba ada yang mengajaknya serius.
"Ya dijalani dulu lah, Saf. Siapa tahu abangku adalah ksatria berkuda putih yang ditakdirkan untuk menolongmu dari penyihir jelek bernama Rico itu." Maria menepuk bahu Safira. Ia berharap sentuhannya bak daun kelor yang dapat menghalau keraguan Safira menerima Mario.
"Atau kamu lebih ikhlas abangku jadi milik perempuan lain? Yakin kamu nanti nggak nyesel?" cecar Maria berusaha mengingatkan. Soalnya penyesalan itu biasanya kan selalu datang di akhir. Karena kalau datang di awal namanya pendaftaran.
"Kalau kamu jadian sama abangku ada garansinya loh."
Safira hanya nyengir. Pacaran bergaransi? Memangnya Mario itu alat elektronik?
"Garansi apaan?"
"Garansi kalau abangku nakal sama kamu, nanti aku jewerkan."
********
"Abang tadi ngobrol apa aja sama ibu?" selidik Maria saat keduanya dalam perjalanan pulang ke kontrakkan. Tak lupa ia menatap wajah abangnya yang terlihat sumringah.
"Biasa lah, tanya jawab antara camer dengan calon menantu." jawab Mario dengan pedenya.
Maria tertawa geli kemudian menghembuskan nafasnya. "Aku juga berharap Abang berjodoh dengan Safira."
"Amiiin. Tapi sepertinya agak susah ya. Teman kamu itu belum bisa move on katanya. Memangnya siapa sih si brengsek yang sudah membuat Safira seperti itu? "
"Jadi Abang udah nembak Safira dan dia memberi alasan belum move on?" tanya Maria sambil menatap abangnya.
"Ya begitulah."
"Makanya, Bang. Aku yakin sekali Abang yang bakalan bantuin Safira melupakan si buluk bangsat itu." ucap Maria dengan penuh semangat. Tentu saja siapa sih Rico jika dibandingkan dengan Mario.
"Memangnya mantannya Safira itu siapa sih?"
"Itu loh, Bang. Si petugas bongkaran alias Rico."
Jawaban Maria membuat Mario teringat dengan hasil audit yang ia lakukan. Selama ini SPBU tempat Safira bekerja selalu gagal di laporan pencatatan bongkaran. Ternyata mantannya Safira adalah biang keroknya.
"Terus, lelaki yang bernama Yudha itu bener cinta pertama kamu?"
Maria menatap abangnya dengan wajah pias. Lha kenapa yang dibahas tiba - tiba berbelok arah begini sih? Dari mana Mario tahu tentang perasaannya pada seorang Yudha?
Tbc
Loh eh... Loh eh...
Aku paling seneng banget sibling goalsnya Maria dan Mario. Ini impianku banget ingin punya kakak cowok. Di real life sih aku anak sulung. Nemu punya kakak ketemu gede modelan bang Jambrong. Ampun Di je... Hahahaha....

KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Cinta Telah Bicara (End)
RandomSilakan dibaca tapi jangan ATM ya. Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot men...