Duapuluh Tiga

11.8K 1.8K 382
                                        

Yudha baru selesai memandikan dan memasak makan malam untuk ibu dan Arina. Karena bu Asri mengalami keseleo dan tidak dapat melakukan aktivitas rumah tangga, akhirnya Yudha memboyong keluarga kecilnya untuk sementara tinggal di rumah sang ibu.

"Kakak makan sendiri ya, Papa mau menyuapi nenek dulu supaya cepat sembuh!" Yudha menatap mata puterinya sambil menyalurkan telepati supaya Arina mengerti.

"Ayay Captain!" jawab Arina plus sebuah anggukkan. Yudha merasa lega. Ia bersyukur bidadari kecilnya mau memahami kondisi sulit yang sedang mereka hadapi.

Di dalam kamar, ia melihat sang ibu tengah berbaring sambil menepuk - nepuk si kecil yang tidak mau ditidurkan jika tidak digendong.

"Ibu bisa makan sendiri atau Yudha suapi?" pertanyaan sang putera membuat bu Asri merasa terharu. Meskipun Yudha sudah repot dengan perannya sebagai single parent, namun puteranya masih mau merawat sang ibu.

"Ibu masih bisa makan sendiri. Kamu gendong Arka saja supaya ia segera tidur!" titahnya dan disetujui oleh Yudha.

Setelah membantu sang ibu untuk duduk di ranjang dan menyerahkan nampan, pria itu segera menggendong Arka.

"Gimana, Yud. Kamu bisa kan mempertimbangkan permintaan ibu? Soalnya mencari asisten itu tidak mudah lho." Bu Asri memecah kebisuan yang terjadi antara mereka.

Yudha tampak bingung. Sebenarnya tanpa diminta oleh sang ibu pun, ia pernah berniat menjadikan Maria sebagai asisten. Sayangnya wanita itu lebih memilih untuk mencari kenyamanan dengan menjadi seorang simpanan pria. Seandainya ibunya tahu, pasti beliau akan sangat terkejut mendengar fakta itu.

"Emh.... Dulu Yudha sempat menawari Maria menjadi baby sitternya Arka." Yudha terlihat salah tingkah.

"Eh benarkah? Kapan itu? Lha mbok iya." Bu Asri tampak antusias dengan jawaban puteranya.

"Itu saat Yudha melihat Maria diusir oleh orang suruhan pemilik baru rumah sebelah."

"Berarti sudah lama dong? Terus gimana?" Bu Asri mulai kepo. Ternyata sebelum ia memiliki rencana, sang putera sudah sadar lebih dulu. Lagipula seharusnya Yudha sadar dong ya? Bu Asri saja sadar jika Maria itu sangat menyukai Yudha sejak dulu. Tapi bu Asri yang saat itu latah mengikuti arus jadi tidak memiliki pendirian. Ia terlanjur merasa euforia menjadi keluarga sosialita, ketika akhirnya Yudha memperkenalkan gadis lain yang lebih baik dari Maria. Sejak hari itu bu Asri jadi melupakan sosok anak gadis tetangga sebelah rumah.

"Maria menolak, Bu. Katanya nggak bagus mempekerjakan anak seorang penjahat kambuhan." curhat Yudha penuh sesal.

Ucapan sang putera membuat bu Asri menghentikan suapannya. Nafsu makannya tiba - tiba lenyap. Rasa sesal itu pun muncul. Mungkin benar kata pepatah. Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Siapa tahu orang yang kamu remehkan, ternyata justru orang yang dapat membantumu terbebas dari kesulitan.

Kalau Maria tidak mau, lalu siapa yang akan ia pilih sebagai kandidat calon mantu? Mengingat semua anak gadis di komplek serta puteri teman - temannya sudah sold out.

"Coba kamu jelaskan jika ibu sedang sakit. Mungkin Maria mau berubah pikiran!" bujuk bu Asri. Siapa tahu Maria jadi terketuk hatinya setelah mengetahui jika beliau sedang sakit.

"Itu sepertinya juga tidak mungkin, karena Maria bilang---." Yudha menjeda ucapannya. Sangat tidak sopan jika ia mengatakan jika Maria menjadi seorang wanita simpanan. Ia tampak berpikir untuk menemukan alasan yang lebih halus.

"Maria sepertinya sudah menikah, Bu."

"Ah masa?" Bu Asri tampak terkejut. Jika benar Maria menikah, pasti bu Rete sudah menyebar gosip di arisan dong. Karena untuk mengurus pernikahan dimulai dari meminta ijin ketua Rete setempat.

Ketika Cinta Telah Bicara (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang