"Hei.... Hanna..." Ghita mencoba memanggil sahabatnya yang saat ini melamun di kantin. Bukannya menghabiskan makan siangnya, Hanna malah terlihat ngelamun dengan tatapan kosong dan tangan yang tak henti-henti mengelus pipinya. "Halo??? Hanna????" Ghita melambaikan tangannya ke depan wajah Hanna. Tapi, sepertinya pikiran gadis itu memang sedang tidak ada tubuhnya.
"Hehe..." Hanna tiba-tiba tertawa kecil tanpa sebab dengan wajah memerah sambil terus mengelus pipinya.
"Ya ampuuunn Hanna!!!? Kamu kesurupan!!!?" Grab! Ghita yang panik melihat Hanna cekikikan sendiri mencengkram lalu menggoyang tubuh Hanna kuat.
"A- Apa!?" Setelah diguncang hebat barulah pikiran Hanna kembali ke tubuh gadis itu. Kepalanya sampai pusing gara-gara ikut digoyang Ghita. "S- Stop Ghit!!!!" Duk! Hanna mendorong tangan Ghita menjauh dari pundaknya.
"Kamu kenapa Han!!!? Kok ketawa-ketawa sendiri!? Aku khawatir! Apa kamu mulai gila!?" Mata Hanna lantas terbebalak dan tenggorokannya jadi tersedak gara-gara dibilang mulai gila oleh sahabatnya yang sekarang duduk di seberangnya ini.
"G- Gila kenapa!? Enggaklah! Aku masih sehat!"
Bibir Ghita lantas memanyun. Mata gadis itu juga menyipit, seperti mau menyelidiki sesuatu di tubuh Hanna.
"Hmm... Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kencanmu sama Rangga kemaren?"
Hik! Hanna bergidik dan itu membuat Ghita tersenyum lebar selebar-lebarnya karena sudah tahu apa jawaban yang membuat sahabatnya ini seperti kesurupan. "Haaaa.... Jadi karena itu?"
"A- Apanya!?" Seru Hanna terbata-bata dan mulai lanjut memakan makan siangnya yang sudah mulai mendingin.
"Kalian ngapain kemarin? Apa jangan-jangan kalian.... Wik Wik?" Pok! Pok! Ghita menepuk tangannya, memperagakan sesuatu hal yang mesum. Wajah Hanna langsung memerah, dan sendok yang mau menyuap makanan ke mulutnya jadi berhenti di tengah jalan.
"E- Enggaklah! Kamu ngomong apaan! Enggak mungkin!" Hap! Dengan perasaan sebal, Hanna menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya lalu mulai mengunyah kuat-kuat nasi yang sebenarnya bisa langsung ia telan.
"Hmmm...." Ghita tersenyum menyebalkan, mencoba menggoda Hanna lebih lanjut. "Pasti ada yang terjadi sampai kamu jadi begini..."
"Hmph!" Hanna menggelengkan kepala dan lanjut menyuap dan menguyah nasi. Mencoba masa bodoh dengan Ghita.
"Enggak perlu malu Han.... Cerita dong.... Masa sama sahabat sendiri enggak mau cerita... Aku kepo niih!!" Ghita menggeliat-geliat, seperti fangirl yang tidak tahan dengan gemasnya drama yang biasanya ia tonton.
"Sudah kubilang enggak ada! Apa sih...." Seru Hanna sebal sampai mengkerutkan alis. Merasa Hanna tidak mau cerita, senyuman Ghitapun berubah menjadi cemberut.
"Enggak seru ah!" Ghita melipat tangannya, sedikit kesal.
"Bodo amat." Sahut Hanna lebih kesal lagi.
Ghita lalu terdiam beberapa detik memperhatikan Hanna makan. "Ganteng. Misterius. Suaranya mmmhhh!" Ghita mencium jemarinya, seperti seorang chef yang puas dengan sebuah masakan. "Menurutku ya, Rangga itu hot! Masa kamu enggak ada hasrat buat ngapain gitu?"
Hanna kemudian menunduk memikirkan ucapan Ghita. Gadis itu teringat waktu akhir pekan kemarin, di mana Rangga membuatnya basah gara-gara mau menciumnya di dalam bioskop. Meskipun setelah itu, rasanya Hanna mau meledak gara-gara kesal bukan main karena ternyata cowok itu hanya ngeprank dia saja. T- Tapi setelah itu dia beneran nyium aku sih.... Ma- Mana di depan rumah lagi! Dasar cowok gila!
"Hei." Tiba-tiba datang seseorang dengan suara yang sudah sangat Hanna kenal. Rendy, datang dan duduk di samping Ghita. Dari bibirnya yang diperhatikan Hanna, sepertinya cowok itu baru selesai makan bersama teman-temannya.
"Eh! Hei... Sudah selesai makannya?" Ghita tampak ceria menyambut kehadiran Sang Pacar yang ikut bergabung di jam istirahat ini.
"Sudah sayang. Kalau aku gabung bakal ganggu kalian berdua enggak nih?" Rendy dan Ghita sama-sama melihat ke arah Hanna. Tampaknya kedua sejoli itu tidak mau membuat Hanna merasa tidak nyaman kalau menjadi obat nyamuk.
"E- Ehehe... Enggak apa-apa kok." Jawab Hanna mencoba bersikap biasa saja. Mau bagaimana lagi? Ia juga tidak bisa bilang untuk menolak kehadiran Rendy di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
LATIHAN PACARAN
Romance(21+) Jomblo = Tidak lulus Sekolah. Bagaimana jadinya kalau salah satu syarat untuk lulus sekolah adalah tidak boleh jomblo? Hanna dan Rangga, dua remaja yang membenci peraturan konyol Sekolah mereka itu terpaksa pura-pura berpacaran demi lulus dari...
