Buk! Buk! Buk!!!! "Aaahhhh!!! Aahhhh!!!" Ghita mendesah nyaring. Saat ini, suasana gelap menyelimuti karena memang langit malam sudah waktunya berkuasa. Cahaya lampu di kamar gadis itu sendiri juga sengaja sedang dipadamkan, membuat cahaya yang ada hanya berasal redup-redup dari luar jendela. Buk! Buk! Buk!!! "Aahhhh!! Aaahhhh!!" Ghita memeluk erat Rendy yang saat ini dengan sekuat tenaga menggenjotnya tanpa henti.
"Ugghjh!!!" Lalu, Kapten Ekskul Basket itupun mengkerutkan alis ketika ia sudah sampai pada batasnya. Dengan cepat, cowok itu mencabut diri dari Ghita dan menyemburkan semua cairan DNAnya ke perut Ghita.
Hah... Hah... Hah... Keduanya sama-sama bernafas terengah-engah. Bruk.. Ghita yang tepar membaringkan kepalanya di atas bantal tanpa sama sekali ada tenaga yang tersisa. Srek... Srek... Setelah membersihkan diri dengan tissue, Rendypun duduk di tepi kasur. Mencoba mengumpulkan tenaganya. "Kamu enggak mau tinggal? Orang tuaku enggak ada." Ucap Ghita menatap Rendy dengan nafas yang masih terbata-bata. Gadis itupun menarik selimut, menutupi dirinya yang saat ini memakai seragam sekolah tapi sudah acak-acakan tak karuan.
"Hmm.." Rendy menggelengkan kepala. "Aku mau pulang." Ucap Kapten Basket itu tenang.
"Kamu enggak mau nemanin pacarmu yang takut sendirian ini?" Mendengar pertanyaan itu, Rendypun menggerakkan leher menoleh ke arah Ghita yang terbaring. "Hahaha... Canda. Tentu saja urusan kita sudah selesai sampai di sini. Karena kita cuma FWB."
Hah... Rendy menarik nafas panjang lalu mulai merapikan diri sambil menatap pantulan bayangannya di cermin. Dengan tatapan sayu, cowok itu mengancing setiap kancing seragamnya sesuai pada tempatnya. "Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu setelah melihat Hanna bahagia bersama cowok barunya itu?" Goda Ghita cekikikan.
"Berisik." Jawab Rendy singkat dan dingin. "Sudah kubilang, jangan bahas-bahas itu lagi."
"Hahahaha! Maaf... Habisnya ini lucu aja." Ghita tertawa nyaring. Setelah menemukan sedikit kekuatan, gadis itupun ikut merapikan diri, duduk di tepi kasur.
"Apa lucunya?" Tanya Rendy menatap Ghita yang masih sibuk membenarkan posisi pakaian dalamnya.
"Hanna yang kamu kira enggak bakal mau pacaran dengan siapapun karena menolak semua cowok, ternyata sekarang jadian dengan orang yang enggak diduga-duga. Kamu kecewa?" Ghita menahan dagunya dan tersenyum menatap Rendy yang membuang muka dan hanya diam saja.
"Aku pulang dulu." Cup... Rendy mencium bibir Ghita. Gadis itupun mengangguk, sambil melihat kepergian Rendy dari kamar dan rumahnya.
*****
"Eh!?"
"E- Eh!?" Hanna dan Rangga sama-sama terdiam ketika melihat satu sama lain saat ini, saat jam istirahat. Keduanya sama-sama memerah dari ujung kaki ke ujung kepala, mengingat kejadian kemarin waktu mereka ikut paket bulan madu yang diberikan Ibu Risa. Mata keduanya sama-sama terbuka lebar, dengan pupil yang sama-sama membesar. Mulut keduanya menganga, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Seolah-olah, pita suara mereka membeku. Rasanya, kemarin itu terjadi seperti mimpi.
"Ehem! Ehem!" Rangga berdeham mencoba mencairkan suasana. Berkat dehaman Rangga itu juga, Hanna jadi sadar dan rohnya kembali ke dalam tubuh. Gadis itupun mengangguk dan menunduk, sambil menaikkan rambut panjangnya ke atas daun telinga. "S- Sa!"
"Hm?" Intip Hanna melihat Rangga yang tak menyempurnakan perkataannya karena tersendat-sendat seperti mesin mobil yang mau mogok.
"Sampai jumpa di perpus." Ucap Rangga yang kemudian lanjut pergi kembali ke kelasnya.
P- Perpus? Hanna terdiam. Perpuskan tempat sepi yang selama ini cuma kami berdua doang yang ke sana. Itu berarti, tadi Rangga ngajakin aku buat kayak kemarin lagi....? KYAAAAAA!!!!! Wajah Hanna meledak-ledak. Gadis itu menggeliat-geliat seperti orang gila yang bergabung dengan cacing kepanasan. Tingkah gadis itupun mengundang tawa orang-orang yang berpasapan dengannya.
"Hmmm!!! Hmmmm!!!!" Tuk.. Tuk.... Hanna mengentuk-ngentukkan jarinya di atas meja kelasnya. Dirinya merasa gelisah dengan jantung yang terus menggebu-gebu. Hal itu membuat pikirannya sama sekali tidak memperhatikan penjelasan guru di depan, malah melayang ke mana-mana membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi nanti, saat jam pulang sekolah dan dia serta Rangga ada di perpustakaan berdua saja. KYAAAA!!!! Gadis itu menyentuh pipinya dan menggeliat-geliat.
KAMU SEDANG MEMBACA
LATIHAN PACARAN
Romance(21+) Jomblo = Tidak lulus Sekolah. Bagaimana jadinya kalau salah satu syarat untuk lulus sekolah adalah tidak boleh jomblo? Hanna dan Rangga, dua remaja yang membenci peraturan konyol Sekolah mereka itu terpaksa pura-pura berpacaran demi lulus dari...
