Prolog - Aturan Aneh Sekolah

33.1K 508 30
                                        

Tok... Tok... Seorang gadis cantik berambut hitam melebihi bahu mengetuk pintu masuk ruang guru. Gadis itu menelan ludah, gugup bukan main karena untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya ia dipanggil ke ruang guru BK begini. Duhh... Kenapa nih!!? Memangnya aku ngelakuin hal apa jadi dipanggil begini? Perasaan aku bukan murid nakal?!

Gadis itu tak bisa memyembunyikan wajah khawatirnya. Keringat sedikit mengalir dari kening, menyapu bedak tipis make up yang ia kenakan. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau dipanggil ke ruang guru BK pasti ada masalah yang ingin dibicarakan. Tok... Tok... Rasa gugupnya semakin menjadi-jadi ketika dari dalam belum ada yang menyahut menyuruhnya masuk. Apa aku pergi saja terus pura-pura sudah ke sini? Enggak-enggak! Gadis itu menggelengkan kepalanya. Bisa tambah runyam entar kalau begitu....

Mamaaaa... Papaaa... Apa aku bakal dikeluarkan dari Sekolah? Apa ini karena nilaiku yang rendah? Tapikan itu masih di atas nilai ambang batas!!!! Masa gara-gara itu sih!!! Aaaaaa!!!!
Di saat gadis itu frustasi sedikit mengacak rambut karena hanyut dalam pikiran negatifnya sendiri, tiba-tiba pintu ruang gurupun terbuka. Gulp... Gadis itu langsung merapikan rambut dan menghisap bibir, mempersiapkan diri.

"Hanna? Ayo masuk." Seorang wanita berambut panjang kecoklatan dan memakai kaca mata bulat seperti kaca mata Harry Potter datang membukakan pintu. Di kemeja yang sedang dipakainya tertulis sebuah nama, Risa. Ibu Risa adalah guru BK yang tadi pagi memanggil Hanna dan menyuruh gadis itu untuk datang ke ruang guru BK karena ada hal yang ingin disampaikan Ibu guru itu.

Hanna mengangguk dan kemudian masuk ke dalam. Tidak ada siapa-siapa di dalam, di depan meja kerja Ibu Risa hanya ada dua buah kursi kosong, dan setelah Ibu Risa mengangkat tangan mempersilahkan duduk, Hanna memilih salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan Ibu Risa. Hanna yang duduk akhirnya mengetahui alasan Sang Guru BK lambat membukakan pintu. Di atas meja kerja Ibu Risa, ada laptop yang sedang menyala dan Hanna yang melihat layar laptop itu jadi mengernyitkan alis.
Itukan drama korea? Memangnya jam sekolah begini boleh nonton drakor?

Duk! Ibu Risa yang sadar kalau Hanna baru saja mengetahui kegiatannya tadi, langsung menutup layar laptop dengan kekuatan yang berlebihan sampai bunyi yang ada membuat kepala membayangkan ada layar lcd yang retak. Ehem! Ehem! Ibu Risa berdeham mencoba mencairkan suasana dan menutupi dirinya yang salah tingkah. "Hanna. Kamu tadi lihat apa?" Ucap Ibu Risa sambil tersenyum.

Gulp... Bukannya merasa nyaman, Hanna justru merasa terancam. Itu adalah senyuman penuh arti yang Hanna tahu kalau ia salah jawab, mungkin masalah yang menjadi alasan kenapa dia dipanggil ke ruang BK pasti bakal bertambah. "E- Ehehe... Enggak ada kok Bu." Hanna hanya nyengir sambil mengggaruk pelipis. Ibu Risapun manggut-manggut.

"Jadi, apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?" Deg... Jantung Hanna rasanya mau copot ketika disodori pertanyaan begitu. Apa ini? Apa Ibu Risa mau mengetesku? A- Apa jangan-jangan Ibu Risa berharap aku tahu apa salahku sehingga hukumanku jadi lebih ringan? A- Apa nanti hukumanku tambah berat kalau aku salah jawab yang berarti aku tidak tahu salahku!!?? Aaaaaaaa!!!!? Bagaimana ini!!!?

Tik! Tik! Ibu Risa menyentikkan jari memanggil kesadaran Hanna kembali. "Halo? Hanna? Kenapa ngelamun begitu?"
"Eh? A- Anu Bu.... Apa karena nilai saya rendah?" Jawab Hanna sambil sedikit menundukkan kepala dan pandangan tak berani menjawab Ibu Risa sambil melihat mata guru BK berumur 30 tahunan itu.

Hah... Ibu Risa nampak menghembuskan nafas panjang sampai bahunya menurun sekaligus meregangkan badan. "Ini terkait, aduh!" Krek... Gara-gara salah peregangan, Hanna jadi bisa mendengar ada suara retakan persendian dari guru BK di depannya itu. Perkataan Ibu Risapun jadi sedikit terhenti ketika wanita itu mesti menekan-nekan tulang punggungnya dulu sedikit.
"I- Ibu enggak apa-apa?"
Hah... "Kampret! Masa masih muda begini sudah sakit tulang sih!!!!?" Gerutu Ibu Risa.
Muda? Bukannya umur Ibu ini sudah 30 tahunan? "Ehehe..." Hanna hanya tertawa kecil saja merespon. Sebagai sesama perempuan ia tahu kalau membahas umur sama saja cari mati.

LATIHAN PACARANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang