"Maaafffff.... Hehe..." Ibu Risa menepuk kedua tangannya seperti pertapa. Wajah guru BK itu benar-benar menyesal gara-gara kemarin sampai kelupaan mengunci kedua muridnya di dalam gudang arsip. Belum lagi saat itu badai dan listrik di sana konslet, Ibu Guru itu merasa sudah gagal menjadi guru.
Hanna dan Rangga menyipitkan mata menatap sosok guru BK di hadapan mereka ini. Ya, mau marahpun mereka juga tidak bisa. Akhirnya, mereka berdua secara serempak mengangguk pasrah memaafkan guru mereka ini. Lagipula, yang sudah terjadi tak bisa diulangi. Selain itu... Meski kemarin bisa dikatakan hari yang sial, tidak ada satupun dari mereka berdua yang membenci hari kemarin.
"Hehehe..." Ibu Risa cekikikan. Lalu, guru BK itu mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. "Sebagai permintaan maaf, nih Ibu kasih ini buat kalian." Ibu Risa lalu menyerahkan secarik tiket paket liburan ke sebuah villa. Tapi, yang membuat Hanna dan Rangga terbelalak kaget adalah, itu tiket paket liburan bulan madu.
"I- Ibu nyuruh kami bulan madu!!!!?" Seru Hanna panik dengan wajah merah. Baru begitu saja pikirannya langsung teringat kejadian kemarin dan mulai melayang ke mana-mana mengkhayal hal yang tidak-tidak.
"E...hehe." Raut muka Ibu Risa yang tadinya tertawa dan mencoba manis berubah suram. Cekikikan tawanyapun sangat jelas dipaksakan. Aura hitam kelam seperti langit sebelum badai memancar di sekeliling tubuh guru Bk itu. "Calon tunanganku mambatalkan pernikahan kami... Jadi... Daripada aku datang sendirian ke paket bulan madu itu, mending kubuang saja ke kalian." Saat itu juga wajah Ibu Risa tampak merengut dan mau menangis tersedu-sedu. Mata wanita itu juga mulai berair, membuat Hanna dan Rangga saling tatap bingung bagaimana mesti bersikap. "Terserah kalian mau berangkat liburan gratis atau ngejual tiket itu. Ibu sudah tidak peduli lagi dengan semua ini. Sekarang, pergi dari sini. Ibu mau nonton Drama Korea." Ibu Risa yang mengusir Hanna dan Ranggapun menghidupkan laptopnya.
Kedua sejoli, Hanna dan Rangga bertatapan dan kemudian mengangguk untuk pergi dari ruang guru BK. "Jadi.... Kita mau berangkat?" Tanya Rangga melihat tiket liburan bulan madu yang ada di tangan Hanna.
"Kamu gila!!!!!?" Seru Hanna menggebu-gebu. "Ke- Kemarin aja begitu... Gimana jadinya kalau kita..." Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajah merahnya. Bibirnya yang terasa gatal juga terhisap ke dalam dan digigit.
"Tapikan kemarin aku enggak ngapa-ngapain." Balas Rangga menggerutu membuang wajahnya.
Benar juga, pikir Hanna. Kalau Rangga cowok jahanam, kemarin mereka berdua pasti sudah kejadian. AAAAAAAA!!! Gara-gara itu, Hanna jadi ingat kejadian kemarin di mana ia ketahuan Sang Ibu dan adiknya mencium pipi Rangga di depan rumah. Semalaman suntuk Sang Ibu menangis bahagia dan mengelus-ngelus kepalanya akibat itu. Wajah Hannapun semakin memerah. "Ini gara-gara kamu!" Ngek!!! Seru Hanna sambil mencubit lengan Rangga.
"Aw!!!!" Rintih cowok itu. Setelah mencubit, Hanna langsung kabur terbirit-birit. "Apaan sih!" Seru Rangga kesal dicubit tanpa alasan yang jelas.
Jam istirahat tiba. Ketika Hanna sedang dalam perjalanan balik dari Kantin menuju Kelas, langkah gadis itu tiba-tiba terhenti melihat Rangga didatangi seorang cewek yang wajahnya terasa tidak asing. "Ah!" Hanna bergidik ketika ingat itu siapa. Itukan si Erli!? Eli!? Eri! Aaahh!! Siapalah! Yang jelas itukan cewek PMR ganjen sok-sokan jadi fans Rangga kemarin itukan!!? Grrrr... Entah kenapa batin Hanna rasanya seperti terbakar dan disiram bensin melihat sosok Eri itu cekikikan di depan Rangga.
"Huh!? Apaan tuh!?" Seperti agen rahasia, Hanna bersembunyi di balik tiang Sekolah dan mengintip apa yang dilakukan Rangga dan Eri. Gadis PMR itu tampaknya menyerahkan Rangga sekotak makanan. Mata Hanna terbelalak. "Jangan diambil Rangga!!! Itu bisa jadi racun!!!" Tapi, gumaman Hanna itu jelas tidak didengar Rangga. Cowok itu dengan senang hati sambil ketawa-ketawa mengambil kotak makanan dari Eri yang entah berisi apa. Si Eripun bergoyang-goyang tersipu malu. Tch! Hanna mendesis kesal.
"Ngapain Han!?" Duk! Seseorang menepuk bahu Hanna.
"Kyaaaa!!!!" Gadis itu langsung bergidik jantungan. Kagetnya bukan main, ketika sedang konsentrasi memperhatikan pergerakan Rangga dan Eri tiba-tiba dipukul dari belakang. Dengan jantung yang menggebu-gebu dan perasaan masih kesal, Hanna berbalik. "Ghita!!! Jangan ngangetin gitu dong!!! Ah! Bete!"
"Hahaha! Maaf..." Ghita tertawa lebar. "Habisnya kamu ngapain ngintip-ngintip mencurigakan begitu? Kayak mau bunuh orang aja?" Grrr... Hanna yang masih kesal membuang muka dan berniat mengintip pergerakan Eri dan Rangga lagi. Kali ini, Eri melambaikan tangan pamit dan Rangga mengangguk, tampaknya berterima kasih. Cowok itupun masuk kembali ke dalam kelasnya. "Ooo... Karena itu..." Ghita manggut-manggut.
KAMU SEDANG MEMBACA
LATIHAN PACARAN
Romance(21+) Jomblo = Tidak lulus Sekolah. Bagaimana jadinya kalau salah satu syarat untuk lulus sekolah adalah tidak boleh jomblo? Hanna dan Rangga, dua remaja yang membenci peraturan konyol Sekolah mereka itu terpaksa pura-pura berpacaran demi lulus dari...
