Fake Plastic Trees

8.6K 299 16
                                        

Hari di mana tes pengetahuan pasangan tiba. Gulp... Hanna menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mengebut gara-gara gugup bukan main. Di sampingnya, ada Rangga yang menguap lebar. Saat ini, seluruh murid kelas 12 sedang duduk menunggu giliran per pasangan untuk masuk ke dalam ruang tes. Rasanya, mirip seperti pasangan suami istri yang sedang menunggu antrian menuju Dokter Kandungan, hanya saja saat ini mereka ada di Sekolah aneh yang punya aturan aneh, menunggu giliran masing-masing.

Hanna juga bisa melihat ada Rendy dan Ghita duduk di depan mereka, dan tidak lama setelah itu, Rendy dan Ghitapun mendapat giliran untuk dipanggil ke dalam. Hah... Hanna menghembuskan nafas panjang sambil menekan dadanya. Melihat itupun Rangga jadi tahu kalau pacar palsunya itu saat ini sedang gugup bukan main. "Hei, santai. Enggak usah gugup. Kita kemarin sudah latihan menjawab soal-soal di rumahmukan?"
"Mm..." Hanna mengangguk. Tapi, mengingat kejadian di rumahnya tempo hari justru memperburuk suasana. Gadis itu jadi menggeliat-geliat malu atas apa yang terjadi di sana.
"Kalau kamu gugup begitu, justru malah makin rawan buat ketahuan." Seru Rangga sambil melipat tangannya.

"M- Memangnya kamu enggak gugup apa!? Bagaimana kalau nanti kamu tidak bisa atau salah jawab dan kita ketahuan pura-pura!?" Bagaimana kalau.. Bagaimana kalau... Pertanyaan-pertanyaan itu muncul memenuhi kepala Hanna kalau gadis itu berada dalam tekanan seperti ini. Kebiasaan overthinkingnya membuat gadis itu semakin gugup dan gugup. Grab... Lalu, tiba-tiba Rangga menurunkan tangannya dan kemudian menggenggam tangan Hanna yang gemetaran. Mata gadis itupun terbelalak kaget, tapi hangatnya genggaman tangan Rangga membuat gadis itu sedikit merasa nyaman dan tenang.
"Enggak. Karena aku sudah tahu segalanya tentang kamu." Ucap Rangga santai, tanpa sadar perkataannya barusan seperti anak panah yang menembus jantung berdegup Hanna, dan membuat jantung gadis itu terasa meledak sesaat.

"A- Apa yang kamu katakan!?" Seru Hanna berwajah merah panik sambil mengangkat tangan menutupi tubuhnya. Paha gadis itupun merapat. Ucapan Rangga barusan membuatnya ingat momen di ruang arsip dan kemarin ketika cowok itu menggenggam pakaian dalamnya. Tahu segalanya... Perkataan Rangga membuat Hanna seolah-seolah merasa sudah dibongkar oleh Rangga dan dilihat dalam keadaan tak berbusana, seperti sebenar-benarnya manusia.
Ranggapun berkedip sejenak sebelum akhirnya sadar kalau ucapannya barusan berdampak rancu. "Ma- Maksudnya enggak segalanya... Cuma sebagian, hehe." Ucap cowok itu.
"Berisik! Bego!" Seru Hanna membuang wajahnya.

Setelah Rendy dan Ghita keluar, dan beberapa pasangan lainnya, akhirnya tibalah giliran kedua sejoli palsu itu dipanggil untuk masuk ke dalam. Gulp... Hanna menelan ludah. Kebiasaan berpegangan tangan mereka berdua membuat keduanya sama-sama tidak sadar kalau mereka saat ini menjadi bahan omongongan, karena sebagai satu-satunya pasangan yang masuk ke dalam sambil berpegangan tangan, seolah tidak peduli dengan dunia sekitar.

Begitu di dalam, mereka disambut Ibu Risa yang mengkerutkan alis melihat kemesraan genggaman tangan Hanna dan Rangga. Grrr!!! Tampaknya Ibu Guru itu masih sensitif melihat sesuatu yang berbau cinta-cintaan gara-gara pernikahannya batal. "Sampai kapan kalian mau pegangan tangan begitu!? Kalian mengejek Ibu karena enggak megang tangan siapa-siapa!?"
Hanna dan Ranggapun saling tatap. Sama-sama tidak mengerti apa yang sudah mereka lakukan sehingga membuat sosok guru BK mereka ini jadi marah begitu. "Ya sudah cepat sana! Pisah! Rangga ke sana! Hanna ke sana!" Angguk Ibu Risa sebal menunjukkan jalan yang terpisah bagi kedua sejoli itu.

Hanna dan Rangga kemudian duduk di kursi masing-masing. Mereka berdua dipisahkan oleh sekat, di mana, di sekat masing-masing sudah ada satu pengawas yang menunggu. Rangga disuruh mengenakan headphone dan cowok itu menurut tanpa banyak tanya. Alunan musik yang ada membuat cowok itu tak bisa mendengar sekitarnya, sehingga ia tidak tahu dan tidak sadar kalau Hanna ada di sebelah sekatnya.

"Ini. Jawab." Pengawas di Hanna menyerahkan secarik kertas dengan pertanyaan, "Apa makanan favoritmu?" Hannapun menjawabnya. Begitu mendengar Hanna sudah menjawab, pengawas yang mengawasi Rangga baru memberikan secarik kertas berisikan pertanyaan yang sama kepada Rangga.
"Apa makanan favorit Hanna?" Gumam Rangga. "Hmph!" Cowok itu mendengus terkekeh. Pertanyaannya gampang sekali! Inimah yang kemarin kami latihan! "Spaghetti!" Ucap Rangga lantang.
Pengawas Hannapun manggut-manggut karena jawaban Rangga benar.

LATIHAN PACARANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang