Chapter 13.1: Crossroad I

30 4 2
                                        

Masih mengendarai kuda milik Aubrey, Nazarella pergi menjauh dari kota Olderau seorang diri. Di tengah perjalanannya, ia sempat melihat cahaya suluh yang berwarna kemerahan, bak sebuah lautan api yang kian mendekat dari arah kota Whitefang. Melihat cahaya itu dari kejauhan, Nazarella membuang muka dan segera memacu kudanya ke selatan.

Dirinya seperti tanpa tujuan. Ia seringkali melihat kesana kemari untuk mencari sesuatu, atau seseorang. Satu jam berlalu sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah hutan tanpa nama. Suasana disana sangat gelap dan lembab, banyak suara serangga yang juga terdengar dengan jelas.

Pada akhirnya, Nazarella turun dari kudanya dan berkata, "Tunjukkan dirimu."

Setelah Nazarella berkata demikan, keluarlah kabut berwarna hitam pekat yang menyelimuti sekeliling Nazarella. Dari balik kabut itu, datanglah Namlea, ia masih mengenakan jubah hitam, lengkap dengan tudung yang menutupi sebagian besar wajahnya. "Lama tak jumpa, Romano."

"Rupanya selama ini kau mengawasiku?" tanya Nazarella.

"Aku selalu mengetahui setiap gerak-gerikmu," jawab Namlea sambil datang mendekat.

"Yang aku inginkan hanyalah sebuah pertanda darimu...," gumam Nazarella kesal.

Namlea mengangguk. "Dan telah kuberikan dengan pantas."

"Apa yang kau lakukan adalah sebuah kekacauan! Aku tidak pernah memintanya!"

"Rupanya kau masih berada di pihak mereka," simpul Namlea. "Yang aku lakukan hanya sebuah eksperimen kecil. Aku belum berniat menghancurkan kerajaan ini,"

"Walaupun kau berniat, kau tidak akan bisa melakukannya!"

Namlea tertawa. "Aku tahu,"

"Lalu apa maksudmu melakukan itu semua?"

"Aku tidak bisa memberitahumu," balas Namlea. "Aku harus mengetahui dimana kesetiaanmu itu berada, Romano."

Nazarella terdiam, ia tidak memberikan tanggapan selain terus menatap sosok Namlea yang berdiri di hadapannya. Oleh karenanya, Namlea kembali berkata, "Aku kira, setelah sekian lama... kau telah mendapat jawaban."

"Aku mempunyai jawaban," balas Nazarella.

"Benarkah?" Namlea tertawa. "Katakanlah padaku, apa jawabanmu itu,"

"Aku, juga telah hidup selama ratusan tahun dan aku lelah akan semuanya ini. Selama masa hidupku aku tak pernah merasa ingin menggapai sesuatu, namun sekarang, aku tahu apa yang menjadi keinginanku... aku ingin mengabdi kepada ibuku. Aku akan membalas kematiannya."

Namlea menyeringai seraya membuka tudung kepalanya. "Jawaban yang baik,"

"Sekarang kau tahu. Jadi katakanlah apa yang hendak kalian lakukan,"

Namlea kembali tertawa. "Tidak secepat itu, Romano."

"Kau tidak mempercayaiku?"

"Sulit untuk mengatakannya," balas Namlea. "Aku membutuhkan jaminan!"

"Aku adalah anak Hilya Wiltorn, tidakkah itu cukup untuk meyakinkanmu?!"

"Dengar Romano, Pengalaman membuatku menjadi orang yang sangat berhati-hati," kata Namlea seraya membalikkan badan, menjauhi Nazarella. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Jika kau berhasil membuatku puas, barulah aku akan mempercayaimu."

"Melakukan apa?"

Sambil duduk di atas batu besar, Namlea berkata, "Besok, ada belasan ribu orangku yang akan singgah di hutan Alder selama satu malam," ia memberikan sedikit jeda sebelum melanjutkan perkataannya, "Aku ingin kau untuk membunuh mereka semua."

Ancient's Realm: Stallions & SerpentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang