Chapter 5.1: Pandemonium

35 5 0
                                        

Ucapan selamat terus berdatangan dari prajurit yang berjaga di selasar-selasar Istana Silvercliff ketika Varam dengan cepat berlari menuju kamar tempat Andini beristirahat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ucapan selamat terus berdatangan dari prajurit yang berjaga di selasar-selasar Istana Silvercliff ketika Varam dengan cepat berlari menuju kamar tempat Andini beristirahat. Collin, Nazarella dan Mey berada jauh di belakang Varam, dengan muka berseri mereka dengan cepat menyusuri koridor demi koridor.

Ketika Varam telah sampai dan membuka pintu, terlihatlah Andini yang sedang bercengkrama dan bercanda dengan Cai, Lotto, dan Rakustra. Segera setelah melihat kedatangan sang Raja, Lotto segera bangkit dari kursinya dan beranjak mendekati Varam. Cai dan Rakustra menyusulnya beberapa saat kemudian, setelah berpamitan dengan Andini.

Lotto adalah lelaki ras Human, rambutnya lurus pendek kecokelatan dan bertubuh kurus. Ia adalah seorang pustakawan yang merangkap sebagai calon ahli siasat kerajaan yang saat ini sedang dalam masa pembinaan. Lotto dibawa dari wilayah Barat oleh sang asli siasat kerajaan, Vesallius, karena ia melihat potensi yang ada di dalam dirinya. Ini juga satu-satunya alasan mengapa Varam menerima Lotto, karena ia percaya akan penilaian Vesallius. Meskipun masih berumur tujuh belas tahun, prestasi yang dimiliki Lotto sudah lebih dari cukup dan sangat membanggakan. Apalagi sifatnya yang karismatik, membuatnya disegani bahkan oleh orang tua sekali pun.

"Selamat, yang Mulia. Berkah Tuhan memang selalu menyertaimu!" ujar Lotto membungkuk memberi hormat dan mencium tangan Varam.

"Terima kasih, Lotto," Varam tersenyum. "Bagaimana keadaan Vesallius?"

Lotto menjawab sambil menegakkan dirinya. "Sayang sekali. Beliau masih terbaring sakit di tempat tidurnya...."

Varam mengangguk. "Baiklah. Tunggu aku bersama dengan Cai dan Rakustra di ruang rapat, aku akan segera menyusul."

"Baik, yang Mulia." balas Lotto sambil meninggalkan ruangan.

Cai dan Rakustra turut memberikan selamat kepada Varam sebelum menyusul Lotto keluar.

Varam menatap istrinya dengan senyuman bangga sebelum menghampiri dan memeluknya erat. "Aku sangat bersyukur,"

Masih memeluk suaminya, Andini berkata, "Tabib berkata bahwa janinku berusia hampir tiga bulan," sambil tertawa kecil, Andini melanjutkan perkataannya, "Aku akan kembali gendut!"

Varam memegang pundak istrinya. "Kau tetap bidadariku yang selalu bertambah cantik."

Tak lama kemudian, Collin tiba di kamar Andini, disusul oleh Nazarella dan Mey yang berada di belakangnya. "Ibu!" Collin berseru sambil berlari menuju ibunya dan memeluknya erat. "Aku akan jadi kakak, ya?"

Andini tertawa. "Jadilah kakak yang dapat membuat adikmu bangga, Collin!"

"Paduka Ratu, selamat atas berkat yang kau terima," ujar Nazarella yang datang mendekat ke arah Andini, mencium tangan kanan sang Ratu setelah memberinya hormat.

"Terima kasih, jenderal," balas Andini sembari membangkitkannya. "Bantu aku menjaga anakku ini, ya?" Andini tersenyum.

"Aku berjanji aku akan menjaganya." jawab Nazarella tersenyum kecil kemudian membalikkan badannya untuk pergi.

Ancient's Realm: Stallions & SerpentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang