Tes pertama hampir usai. Rombongan raja telah keluar dari hutan sebelum Diadum meniup sangkakala untuk para calon prajurit agar kembali ke halaman istana Purevalient.
"Bagaimana Collin, apakah kau masih ingin ikut melihat tes kedua sore nanti?" tanya Varam sembari memberikan senyuman hangat kepada anak semata wayangnya itu.
"Tentu saja ayah! Ini benar-benar mengasyikkan!" Collin langsung menjawab dengan nada riang, ia tak henti-hentinya berjalan kesana kemari, sesekali mengintip satu per satu jendela yang terdapat di kereta kuda yang keluarganya tengah kendarai, melihati pemandangan yang tak biasanya didapatkan di dalam istana dan kawasan kota.
Andini tidak memberi reaksi apapun. Ia hanya terdiam, pandangannya tertuju melihat keluar jendela, memandang jauh aliran sungai yang mengalir di balik gugusan-gugusan pohon berwarna hijau.
Melihat istrinya yang tampak lesu, Varam memegang pahanya dan berbisik, "Dia akan baik-baik saja, sayangku, janganlah kau khawatir,"
Andini menoleh ke arah suaminya dan mengangguk. "Kepalaku hanya sedikit pusing,"
"Lebih baik kau beristirahat, biar aku yang menjaga Collin." ucap Varam sambil membelai rambut pirang Andini.
"Aku baik-baik saja," balas Andini sambil menurunkan tangan Varam, "Mungkin aku pusing karena jalanan yang tak rata di hutan,"
"Baiklah, namun kau harus segera memberitahuku apabila rasa sakitmu tak kunjung reda."
Andini membalasnya dengan anggukan.
Tes kedua akan diadakan di danau terbesar benua Heilei, Grand Lake. Danau ini sangat dekat dengan kota Argentburg. Sehingga untuk menghemat waktu, para rombongan raja langsung berangkat menuju istana Silvercliff. Butuh sekitar lima jam sebelum mereka dapat sampai ke gerbang kota Argentburg.
Di tengah perjalanan, Nazarella menyadari seekor merpati putih yang terbang dan mendarat di atas pundaknya. Dengan segera, Nazarella mengambil pesan yang terikat di kaki merpati itu, membukanya, dan kemudian membacanya dengan seksama.
Nazarella menghela napas panjang dan berusaha untuk tetap tenang sebelum memasukkan pesan itu ke sakunya. Ia berjalan menuju kereta dan mengetok jendelanya. "Paduka Raja, Paduka Ratu, apakah engkau keberatan jika kita berjalan lebih cepat?" Ia segera bertanya setelah Andini membuka jendela kereta.
Varam sempat berpikir sejenak sebelum membalas, "Ya, silakan."
Setelah Nazarella mendapat persetujuan dari Varam, ia segera mendekati kedua kuda yang berada di depan dan membisikkan sesuatu pada mereka. Seolah mengerti akan perkataan Nazarella, kedua kuda tersebut meringkik dan mulai berjalan lebih cepat. Walaupun terlihat kebingungan, namun Collin begitu bersemangat karena kereta melaju dengan kencang. Berbanding terbalik dengan Andini yang hanya bisa memejamkan matanya dan memegang erat tangan Varam. Goncangan demi goncangan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Mereka pun tiba satu jam di istana lebih cepat dari rencana. Andini yang terlihat pucat segera berlari keluar dari kereta kuda dan masuk ke dalam begitu kereta sampai di halaman istana Silvercliff. Mey yang hendak menyambutnya hanya kebingungan melihat Andini, lalu berusaha menyusulnya masuk ke dalam untuk memastikan keadaannya.
"A- Ada apa dengan ibu, ayah?" tanya Collin cemas.
"Ibumu sedang tidak enak badan, mungkin karena guncangan yang hebat tadi," Varam tersenyum seolah memberi jaminan kepada Collin kalau ibunya baik-baik saja. Ia kemudian menoleh ke arah Nazarella dan raut wajahnya berubah serius. "Naza, ada yang ingin kau sampaikan padaku?"
Nazarella menunduk, segera memberi jawaban, "Izinkan aku bicara berdua denganmu, tuanku."
Varam mengangguk dan berjalan memasuki Istana, diikuti oleh Nazarella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ancient's Realm: Stallions & Serpents
Fantasy=-=-=-=-= BUKU PERTAMA DARI SERIAL "ANCIENT'S REALM" =-=-=-=-= Setiap cerita mempunyai dua sisi. Orang-orang melihat kerajaan Varamith sebagai kerajaan terbesar dan terkaya, dipimpin oleh sosok yang murah hati dan dicintai banyak orang. Semuanya ter...
