Chapter 7.1: Safeguard

25 5 0
                                        

Atas perintah Raja, semua pasukan yang telah bertarung di Silver Canyon mendapat kesempatan untuk bermalam di istana Silvercliff sebelum kembali ke pos masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Atas perintah Raja, semua pasukan yang telah bertarung di Silver Canyon mendapat kesempatan untuk bermalam di istana Silvercliff sebelum kembali ke pos masing-masing. Tak hanya mereka, calon prajurit yang mengikuti tes ketiga pun juga mendapat sebuah tempat khusus yang telah disediakan di dalam istana. Ketika mereka semua tengah beristirahat, Varam mengadakan rapat yang dihadiri oleh Rakustra, Lotto, dan para jenderal kerajaan.

"Pertama-tama aku ingin mengucapkan duka cita yang mendalam bagi salah satu jenderal terbaik kita, Nazarella, yang gugur dalam pertempuran," ujar Varam. "Beliau adalah seorang jenderal setia."

"Dan kawan yang baik," Aubrey yang duduk di sebelah Gweihaven menambahkan.

Varam mengangguk sebelum mengikuti perkataan Aubrey, "Dan kawan yang baik."

"Namun kita tidak boleh berlama-lama berkabung. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dan lakukan," Varam melanjutkan perkataannya. "Rakustra, aku dengar ada kekacauan di Whitefang?"

"Benar, yang Mulia. Orang-ku mengatakan ada banyak kelabang raksasa yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah, kelabang-kelabang itu kemudian hilang secara serentak pada sekitar waktu dini hari," jawab Rakustra.

Perkataan Rakustra memancing perhatian Gweihaven. Ia menggelengkan kepala sebelum Aubrey kemudian menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa," Aubrey berbisik kepadanya.

"Lalu bagaimana keadaan rakyat?" tanya Varam.

"Beberapa terluka dan puluhan meninggal dunia, namun mereka sudah dalam keadaan aman. Cai memberi perintah untuk mengungsikan mereka di halaman istana Purevalient. Mereka masih berada disana saat ini."

Varam mengangguk. "Keputusan Cai adalah keputusan yang benar,"

Rakustra menghela napas sebelum berkata, "Cai tengah dirawat di klinik istana. Seekor kelabang raksasa menggigitnya ketika ia hendak memberi pengumuman di menara kota."

"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Varam.

"Berkat anak buah Gweihaven, ia baik-baik saja," kata Rakustra sambil menatap ke arah Gweihaven.

"Baguslah," Varam memberi jeda. "Apakah ada hal lain yang terjadi di istana Purevalient?"

"Sayangnya, yang Mulia, kita kehilangan Vesallius," jawab Rakustra.

Lotto, yang berada di sampingnya, meneteskan air mata ketika ia mendengar nama mentornya disebut. Nampaknya ia telah mengetahui kabar ini sebelumnya, namun tetap saja, ia tidak kuasa menahan kesedihannya yang baru saja kehilangan sosok sang teladan yang selama ini membimbingnya.

"Kelabang itu muncul tak hanya di dalam kota. Beberapa sempat muncul di wilayah istana, meskipun para pasukan berhasil membersihkan mereka dengan mudah, dua ekor berhasil masuk ke dalam kamar Vesallius, mereka..." Rakustra sempat menengok ke arah Lotto sebelum memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.

Ancient's Realm: Stallions & SerpentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang