part | 23

246 20 0
                                        

*Aku Seorang Mualaf*

"_______________________________"

IkhyaLilHusna
~_______________________~

________❇Happy reading❇_______

🍀

"Maaf bisa saya bicara dengan keluarga pasien?" ucap seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan dimana Rachel rawat.

"Saya guru sekolah nya dok." jawab Bu Indah selaku wali kelas Rachel.

"Maaf bu, saya perlu bicara dengan keluarga pasien tidak bisa diwali'kan." lugas Dokter tadi.

"Karin, tolong kamu hubungi orang tuanya Rachel yah, handphone Ibu tertinggal."

"Baik bu." jawab Karin lalu dia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelfon orang tuanya Rachel.

"Halo pak Rama, maaf mengganggu Karin cuma mau ngasih tau kalau Rachel masuk rumah sakit."

Ternyata Karin menghubungi Rama-Ayahnya Rachel.

Astaga ini gawat!
Tak seharusnya Karin menghubungi Rama!
Tapi mau bagaimana lagi, Karin memang tidak tau bukan jika saat ini Rachel tidak satu rumah lagi dengan ayahnya.

"Baik, saya akan kesana." jawab Rama yang hanya dengan menjawab sesingkat itu tanpa merasa khawatir pada anaknya sendiri.

Di sisi lain, Rama menunjukkan wajah seringainya yang sangat mengerikan.

"Bagus, saya tidak perlu lagi mencari Anak itu."

******

"Craaangg..." suara pecahan gelas begitu nyaring sehingga tuannya terkejut.

"Astagfirullah, mamah! Mamah kenapa?" Fatimah langsung menghampiri Claudia yang masih terbengong berdiri.

"Ya Allah, nyonya kenapa?" bi ijah pun yang sedang memasak ikut menghampiri Claudia.

"Aduhh... Maaf yah, mamah kurang hati-hati."

"Iya mah, gak apa-apa kok. Ini nanti biar bi ijah aja yang beresin. Mamah duduk dulu." Fatimah menuntun mertuanya kearah sofa dan duduk bersebelahan.
"Bi ijah tolong diberesin yah." ujar Fatimah.

"Baik non." bi ijah mengangguk dan langsung membereskan pecahan gelas.

"Mamah kenapa?" tanya Fatimah dengan mengelus punggung Claudia.

"Gak tau? Tiba-tiba perasaannya mamah jadi gak enak gini yah?" ucap Claudia yang mulai gelisah.

"Udah, mamah mungkin butuh istirahat. Mamah gak usah mikirin yang enggak-enggak yah." kata Fatimah berusaha menenangkan mertuanya.

"Enggak, ini beneran perasaan mamah gak enak. Ada apa yah?" terlihat raut wajah yang begitu gelisah, dan jantungnya pun entah kenapa berdegup lebih kencang.

Walaupun hubungan Claudia dengan Rachel tidak terlalu akrab, tetapi Claudia tetaplah seorang ibu yang mempunyai naluri yang kuat terhadap anaknya.
Claudia berdiri, berusaha menenangkan dirinya namun tetap saja rasa gelisah itu masih tetap ada bahkan deguban jantungnya lebih cepat.

"Rachel?! Rachel ke mana? Kok dia jam segini belum pulang?" dia baru sadar jika anak perempuannya belum pulang padahal sudah hapir menjelang sore.

"Bi ijah! biasanya Rachel pulang sekolah jam berapa?" tanya Claudia pada bi ijah yang selesai membersihkan pecahan gelas.

"Kalau biasanya sih udah pulang dari tadi sih, nyonya." jawab bi ijah.

"Mamah takut terjadi sesuatu sama Rachel."

"Mamah gak usah mikir yang aneh-aneh. Mungkin Rachel pulang telat karena dia punya les tambahan kan, setau Fatimah Rachel itu kelas dua belas, jadi wajar aja kalau semisalnya ada les tambahan." kata Fatimah berusaha menenangkan.

"Tapi tetap saja, perasaan mamah gak enak."

******

Terlihat di dalam ruangan yang terdapat seorang gadis yang terbaring diatas bangkar rumah sakit karena kejadian pingsan saat di sekolahan tadi, membuat panik sahabatnya dan guru-gurunya sehingga salah satu sahabatnya memutuskan untuk menghubungi keluarga Rachel.

Dan sekarang Rama-Ayahnya Rachel sudah berada di samping bangkar dimana Rachel terbaring lemas yang masih tak sadarkan diri.
Dia menyilangkan kedua tangannya dengan menatap kearah Rachel dengan tatapan tajam, seakan seekor harimau yang sedang menahan amarahnya pada mangsanya.

"Emhh..." suara erangan yang keluar dari mulut Rachel yang kini tengah mulai membuka matanya sedikit demi sedikit dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Ini dimana?" ujar Rachel yang mengedarkan pandangannya, lalu berhenti di satu titik dimana Ayahnya tengah berdiri sambil menatapnya tajam.
"A... Ayah...?" Rama melangkahkan kakinya mendekat bangkar Rachel.
Sedangkan jantung Rachel berdegub kencag karena takut.

"Sudah bangun? Bagaimana apa masih ada yang sakit?" ucap Rama yang tiba-tiba terlihat khawatir.

Rachel mengkerutkan keningnya.
Mengapa ayahnya tiba-tiba seakan khawatir akan keadaanya?
Padahal tadi tatapannya sangat tajam?

"Ng... Nggak ada." balas Rachel dengan nada terputus.

"Lihat? Kamu sedang terbaring dirumah sakit, dan Ibumu tidak tau sama sekali dengan keadaan anaknya? Dia gak pantas jadi ibu kamu." ucap Rama secara tiba-tiba.

Rachel mulai bingung dengan yang dikatakan ayahnya.
"Maksud papah, apa?"

"Kamu ikut papah yah, ikut papah ke Australia. Papah janji, papah akan kasih apapun yang kamu mau." kata Rama dengan nada lembut.

Rachel menggelengkan kepalanya.
"Gak mau pah. Rachel mau disini, sama mamah sama kak Davin." rahang Rama mengeras saat Rachel menolak ajakannya lagi.

"Kenapa kamu gak nurut sama papah Hah?!" bentak Rama pada Rachel dengan nada yang tinggi.

"Kenapa papah begitu gak suka sama mamah? Apalagi sama kak Davin? Kenapa sih Papah sama mamah dan kak Davin gak baikan aja? Rachel cuma mau punya keluarga yang utuh, Pah.." ucap Rachel lirih.

"Rachel kepingin, ngerasain gimana sih rasanya kumpul bareng sama keluarga? Sambil ketawa? Makan bareng? Weekand bareng? Rachel gak pernah ngerasain hal itu semua, seumur hidup Rachel. Gak pernah pah." Rama hanya diam mendengar curahan Rachel yang kini tengah menagis.

"Rachel merasa, Rachel adalah anak yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidup."




Alhamdulillah Up juga😚
Lama yah nunggiinnya?
Maaf yah🙏
Author lagi sibuk🙏 semoga alurnya masih nyambung yah😹
Kalo bingung, baca ulang lagi aja😸

Jangan lupa Votekomen💬
😍😳😙😘😚

Aku seorang MualafCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang