15. ANTARA CINTA DAN TANGGUNG JAWAB

1.3K 103 2
                                        

RENATA
.
.
"Aku mendirikan JC untukmu, mengikatmu dengan pekerjaan, berharap kau bersedia menjadi partner hidupku juga," kata Jonas waktu kusampaikan berita saham Kenzo menjadi milikku, "sekarang aku jadi minder, karena kau berlipatkali lebih kaya."
"Kita kan tetap jadi partner kerja," kataku.
Jonas terdiam.
"Jo, kita beruntung, bukan orang lain yang investasi, sekarang kita bisa wujudkan mimpimu, buka 5 dapur seDKI."
"Belum," kata Jonas, "biarkan tetap dua, team inti kita hanya empat, kalau dipecah, pelayanannya tidak maksimal."
.
Akhir pekan itu aku ikut ke Bogor, sudah dapat firasat Adam akan datang. Tidur di kamar yang sama, sebelum sempat mengunci pintu tembus, Adam sudah merangsek masuk, mencumbuku.
"Kau hanya menginginkan tubuhku," tuduhku kewalahan menahan serangannya.
"Renata, aku serius! Menikahlah denganku. Berapa kali aku harus melamarmu?"
Lalu ia berlutut satu kaki, menyodorkan sebuah kotak lebih besar dari kotak cincin, "kau tak mau cincin, kali ini kulamar kau dengan kalung. Tatik Renata, menikahlah denganku."
Tatik? Aku melihatnya membuka kotak perhiasan itu, dan aku menangis, itu kalung Ibu yang hilang di malam pertama bersama Adam.
"Maafkan aku yang bodoh ini," Adam bangkit dan memasangkan kalung itu di leherku, "Alvin menyuruhku melihat rekaman CCTV tapi kuserahkan semua kepadanya, kusuruh mencari Tatik, tanpa tahu yang kucari selalu ada di dekatku."
Adam memasangkan cincin juga, "aku mencintaimu, Renata, sempat bingung juga, bagaimana kalau Tatik muncul di saat kau sudah menerimaku? Aku mencintai Renata, tapi ingin bertanggungjawab telah merenggut keperawanan Tatik."
Aku tak menjawab, hanya menyusupkan kepalaku di dadanya.
Malam itu Adam membuktikan keseriusannya, kami hanya tidur berpelukan, no sex. Aku merasa aman dan nyaman.
*
.
ANDREW
.
Lama-lama aku bisa kembali tinggal di rumah Papa, hampir tiap hari aku ke sana. Segala urusan yang dulu kubicarakan lewat telpon, sekarang kudiskusikan langsung. Papa senang. Aku lebih senang, bisa melihat Renata. Papa menyertakannya dalam tiap diskusi, sepertinya ada rencana memberikan perusahaan lagi. Keempat kakakku masing-masing pegang satu perusahaan mandiri yang dikelola para suami, tapi urusan rapat pemegang saham Papa menuntut mereka hadir.

Renata pegang JC, perusahaan yang tadinya akan kugunakan sebagai senjata memaksanya menikah denganku. Sejak pengalihan saham atas namanya, belum ada rapat pemegang saham.
Aku punya saham jumlah yang sama, tapi tak punya perusahaan mandiri, karena Papa menunjukku jadi CEO di perusahaan induk. Kata Mama, Papa akan mengalihkan seluruh bisnisnya kepadaku di ulang tahun ketigapuluh. Aku senang menunggu saat itu. Setelah aku punya kuasa, tak tergantung lagi kepada Papa, aku akan menikahi Renata.
.
Renata memakai lagi kalungnya yang lama, kalung emas dengan pendant tulisan nama Tatik. Seingatku ia cerita kehilangan kalung itu di malam jahanam, bagaimana ia memperolehnya lagi? Terutama, bagaimana aku menanyakannya?

Waktu itu bulan purnama, langit cerah, kemilau bintang kelihatan redup tertutup sinar bulan yang mencorong.
"Rey, lihat bintang, yuk!"
Itu kebiasaan waktu kecil dulu, menggelar tikar di halaman belakang, rebahan memandang angkasa.
"Rey, bintang jatuh!" seruku, "make a wish!"
Bertahun-tahun yang lalu kami pernah begitu, membicarakan banyak hal tidak penting.
Aku menoleh, Renata tampak cantik, pendar sinar bulan di wajahnya membuatnya seperti bidadari. Kebetulan ia juga menoleh, tersenyum.
"What did you wish?" tanyanya.
"Sama seperti dulu, menikah denganmu."
Aku yakin wajahnya memerah. Kuberanikan diri berguling mendekat, "Rey ...."
Kucium bibirnya lembut, manis, ia mendesah, aku menahan diri, sudah setahun lebih ... aku ingin meremasnya, menindihnya, apakah sekarang ia masih vaginismus? Namun aku kuatir, bila aku melakukan lebih dari cium, ia akan menjauh lagi.
.
Seberkas sinar bulan melintas memantul di kalung yang melingkar di lehernya, ketika kulepaskan pagutan bibirnya.
"Rey, kalungmu sudah ketemu? Dimana?" tanyaku curiga.
Renata tidak menjawab, ia bangkit mau menghindar, kutarik dan kutindih tubuhnya, "aku ingat kau bilang kalungnya hilang di malam jahanam itu, berarti ... kau sudah bertemu lagi dengan si pemerkosa? Siapa dia?"
Renata berusaha melepaskan diri, kamipun bergumul, geliatnya membangkitkan nafsuku.
"Aku harus memilikimu, Renata!"
Aku gelap mata, kujepit ia tak bisa bergerak, kugerayangi, selipkan dua jari, tak ada gerakan menjepit saat aku mengobok-oboknya sampai basah. Nekat, kubenamkan diriku sedalam-dalamnya, Renata mengerang, tidak menjepit. Aku menarik diri, siap menghujamkan lagi, ia melipat lututnya menghantamku. Penyatuan kami terlepas, ia lari masuk ke dalam, Cinderella meninggalkan sepatunya, Renata meninggalkan celana dalamnya, dan bagian tengah tubuhku yang terbuka, tegak.
Shit!
Aku butuh Laila.
.
"Aku belum sempat suntik," gadis itu mengelak, lalu aku harus bagaimana?
"Coitus interuptus!" kataku membuka celana dalamnya. Aku tak butuh pemanasan, butuhnya pelampiasan, bayangan aku berhasil mendobrak Renata masuk sampai dalam ... sambil mendesiskan nama Renata berulangkali aku melupakan siapa yang kugauli, sampai ia mendorongku, "Sialan, Dru! Kau buang di dalam!"
.
Papa muncul di Rapat Pemegang Saham, memperkenalkan Renata, mengajukannya menjadi wakil CEO.
Aku senang, tapi di kantor Renata sangat dingin, bertindak profesional. Ia cepat belajar, Kenzo mengaguminya. Aku yang kegerahan, ia begitu dekat tapi tak terjangkau.
Tak ada kesempatan quickie di kantor, aku membawa Laila pulang, menidurinya setiap malam, melampiaskan gairah yang terbangunkan dari melihat Renata.
.
Sebulan sebelum ulang tahunku, Papa mengundangku, Mama, dan Jennifer makan malam, beliau datang berdua dengan Renata, tanpa Bunda Tatik.
Disodorkannya sebuah map, hasil tes DNA.
"Aku sudah lama tahu Andrew bukan anakku," katanya kalem, kulirik Mama yang duduknya jadi tidak tenang, "tes itu hanya pembuktian saja ... karena itu Jennifer, sekali lagi aku dengar kau menyebut Renata anak pelakor, tantemu ini kubuang ke jalan."
Sepupuku menunduk, tak berani menatap Papa, apalagi Renata, pelan mengunyah makanan yang terlanjur masuk ke mulutnya.
"Berarti aku bisa menikah dengan Renata!" ujarku gembira.
"Itu rencanaku dulu," Papa meneguk minumannya, "kau menerima warisanmu, dan menikah dengan Renata."
"Tapi, kudengar Jennifer selalu menghinanya anak pelakor, karena itu sudah kubuka identitasnya, Renata anakku, menjadi wakilmu di perusahaan." Papa tersenyum menang, punya rencana busuk apa dia? "Sekarang kau tak bisa menikahinya."
"Bisa, Pa, buka identitasku."
"Bayangkan, kubuka identitasmu, kau kehilangan warisanmu ... sepadankah kau menikahi putriku?"
Aku menggertakkan gigi.
"Oh ya, aku berubah pikiran, aku batal mewariskan harta yang seharusnya kuberikan kepada anak lelakiku, karena kenyataannya kau bukan anakku."
"Sepuluh persen saham tetap menjadi milikmu, tak bisa dan tak akan kutarik kembali, begitu juga apartemen di Senopati dan SCBD. Kau tetap menjadi CEO dengan satu syarat ...."
Kami bertiga memandang Papa, Renata cuek, tampaknya sudah tahu apa langkah beliau berikutnya.
"Tunjukkan tanggung jawabmu."
Papa menyodorkan map lain, surat pengunduran diri Laila, dan hasil tes kehamilan, positif enam minggu.
"Nikahi Laila, berhenti mengusik Renata."
Aku kaget, Laila mengambil keputusan tanpa memberitahuku.
"Demi nama baik ibumu, aku tak akan mengungkap hasil tes DNA, pernikahanmu dengan Laila akan diadakan seperti seharusnya pernikahan putra mahkota Surya Group ... tapi jangan berharap lagi soal warisan, jangan berpikir korupsi, Renata di sana untuk mengawasimu."
Shit! Aku meremehkan lelaki tua yang selama ini kupanggil Papa.
.
bersambung
.
Surabaya, 23 Desember 2019

TRAUMA RENATACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang