29. Never Meant To Be

1.1K 141 22
                                        

Upacara di Hari Senin selalu menjadi hal yang menyebalkan. Teriknya matahari di Senin pagi membuat mata Bita menyipit untuk menghalau cahaya itu masuk menembus retina mata. Dari barisan tengah kelas IPA satu, Bita berusaha mencuri pandang, tatapnya menyapu seluruh deret anak IPS yang berbaris di sebelah tenggara.

Ini sudah tepat tiga hari Bita tidak melihat Akbar.

Tidak di lingkungan rumah, tidak juga di lingkungan sekolah. Cowok yang tadinya selalu muncul tiba-tiba bahkan saat Bita tidak mengharapkannya mendadak lenyap dari tatapan mata. Akbar seolah menghilang dari muka bumi. Laki-laki itu tiba-tiba saja seperti membangun tembok tinggi untuk pembatas diantara mereka berdua.

"Udah dibilang di bawah nggak ada duit jatoh," Suara seorang laki-laki membuat Bita mengangkat kepalanya.

Perempuan itu tidak tersenyum. Tatapnya datar. Ia kehilangan selera untuk bersekolah hari ini. Bita kembali menunduk menatap ujung sepatunya. Terik matahari yang tadi langsung menyoroti kepalanya tiba-tiba lenyap. Karena Arya yang berdiri di sampingnya sukses menghalang cahaya itu.

"Ta?" panggil Arya pelan.

Bita menoleh. Tanpa bicara apa-apa. Tapi tiga detik kemudian perempuan itu menyadari sesuatu.

"Lo kok di sini?" tanya Bita karena seingatnya, Arya tadi berada di barisan belakang tentu saja dengan para siswa lelaki badung rombongan perusuh IPA I.

"Kenapa emang?"

"Kan tadi lo dibelakang?"

"Ya emang nggak boleh ke depan?" Arya menjulurkan lidahnya cepat.

"Ya heran aja."

"Kan pengen ngerasain aja."

"Panas tau."

"Iya tau." Arya menggangguk. "Pengen ngerasain aja, gimana sih rasanya kalau lebih dekat dengan jodoh."

"Hah?" Bita menyipitkan matanya. Ia tidak paham apa yang dibicarakan Arya. Padahal laki-laki itu sedang menggombal dengan gombalan yang baru saja ia dapatkan dari Guntur.

"Nggak—" Arya menggeleng cepat. "Gapapa."

"Ar?"

"Iya?"

"Akbar hari ini sekolah?"

Akbar lagi...

***

Akbar menyesap kopi americano yang baru ia pesan limabelas menit yang lalu. Tangan anak lelaki itu menangkup cangkir berwarna gelap yang ada di hadapannya. Hari ini, Akbar tidak masuk sekolah.

Suasana kafe di dekat rumah tidak terlalu ramai karena ini masih pagi. Hanya ada Akbar yang hari ini menggunakan kemeja flannel warna abu-abu yang digulung lengannya sampai siku, dan seorang laki-laki yang usianya sekitar 23 tahun tengah sibuk dengan benda kotak yang layarnya menyala.

Ponselnya kemudian bergetar.

Lula: Sayang dimana?

Cowok itu kemudian meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Apa yang baru saja masuk ke ponselnya sama sekali bukan yang diharapkan Akbar.

Akbar tidak tahu mengapa? Tapi yang jelas, semakin hari, ia semakin tahu bahwa yang dia butuhkan adalah kehadiran Bita.

Akbar menyayangi Lula.

Sungguh, Akbar sangat menghormati gadis itu.

Tapi Akbar tidak merasa sebahagia saat ia bersama Bita. Saat ia bersama Lula.

Perempuan itu rasanya tidak lagi tepat untuknya. Dan salahnya, Akbar justru membuat jarak antara dirinya dengan Bita karena ucapan gadis itu disela tangis rasanya seperti adegan yang diputar berulang-ulang di kepala.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 23, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Somebody ElseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang