7. Long Night, Long Journey

13.1K 1.5K 115
                                        

BITA mengekor dibalik punggung Akbar. Sementara Akbar memimpin selangkah di depan dengan mata yang terus bergreliya menatap ke sekitar mereka. Sepasang remaja itu sudah berjalan kurang lebih duapuluh meter.

Area persawahan yang sudah gelap langsung menjadi pemandangan yang disuguhkan di depan mata Bita. Perempuan itu masih sibuk, ia membetulkan posisi ikat rambutnya sekaligus mengencangkan karet warna hitam itu agar bisa menahan semua rambutnya yang tadi dibuat berantakan oleh angin.

Akbar masih di depannya. Mata lelaki itu juga tampak mengamati keadaan sekitar. Mencoba mencari-cari hewan kecil dengan pantat menyala kuning yang sangat ingin dimiliki Bita.

"Kayaknya gak ada deh, Bar," kata Bita setelah dia selesai mengikat rambutnya. Lehernya memanjang. Melihat lebih luas area persawahan yang sudah sepi. Tidak ada rumah-rumah penduduk. Kalaupun ada, jaraknya jauh sekali dengan tempat mereka berdiri sekarang.

"Kayaknya sih gitu." Akbar menoleh ke lawan bicaranya, "maaf ya, Ta. Soalnya tdi gue pikir di sini ada kunang-kunang."

"Gapapa," kata Bita. "Kita cari ke sebelah sana, yuk?"

Yang dimaksud Bita adalah daerah kebun tebu dan ilalang tinggi yang tidak jauh dari tempat keduanya berdiri. Bagus sekali. Bita seperti orang kesetanan sekarang. Ini sudah pukul setengah tiga pagi dan dia tanpa rasa takut menunjuk hamparan luas kebun tebu yang ada di sekitar area persawahan. Dan sialnya lagi, Akbar juga bukan sosok lelaki pengecut yang langsung menolak begitu saja.

Dia suka tantangan. Dan Bita juga menyukainya. Jadi? Sudah bisa dipastikan, dua remaja kurang kerjaan ini langsung melangkah dengan penuh keyakinan masuk ke area kebun tebu yang tumbuh tinggi menjulang.

"Di sini gelap banget!" kata Akbar, lelaki itu berdiri di belakang Bita. Menjaga perempuan itu dari belakang. Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan langkah lebih jauh.

"Gue bawa senter!"

"Mana?"

"Bentar, dimana tadi, ya?" Bita terlihat bingung sampai dia mengingat bahwa senter yang tadi dia bawa dari kamar, ternyata ia titipkan di jaket yang sampai sekarang dipakai Akbar. "Oh! Kan gue titip sama lo?"

"Oiya, gue lupa!"

Akbar langsung merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan senter kecil itu dari sana. Setelah menyerahkan benda bercahaya itu pada Bita, Akbar langsung melepaskan jaket biru navi itu dari tubuhnya dan memasangkannya di tubuh Bita.

"Apaan?" bisik Bita begitu jaket milik yang lelaki tersampir dibahunya.

"Lo aja yang pake."

Bita terkesiap. Dia sempat terdiam lima detik sebelum kemudian akal sehatnya dapat bekerja lagi. Perempuan itu langsung mengeratkan kain tebal itu ke tubuhnya. Sebetulnya, Bita sedikit merasa aneh. Seingatnya, selama ia dan Bimo menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Bimo belum pernah melalukan hal sesepele meminjamkan jaket saat Bita lupa membawa jaket sendiri.

"Bita? Ayo?"

"Iya!" Panggilan Akbar membuat Bita langsung melangkah maju. Tetapi baru lima langkah kedepan, keberanian Bita seolah menciut begitu saja. Ia lalu berhenti dan medongakkan kepala sampai dia bisa melihat wajah Akbar yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa?" tanya Akbar.

"Perasaan gue gak enak."

"Hah?"

"Ish," Bita memutar bola matanya. "Gue serius, Bar. Apa kita balik aja?"

"Lo yang bener aja?" sergah Akbar. "Kalo misal setelah kita lewatin kebun tebu ini terus ada kunang-kunang gimana?"

Somebody ElseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang