Ingatan

77 9 0
                                        

"Kau sudah ingat sesuatu? Namamu?" tanya sang dokter pada pasien yang terbaring dengan tatapan kosong di ranjang rumah sakit.

Lagi-lagi si pasien hanya menggeleng lemah. Dokter mengembuskan napas pasrah, lalu menuliskan sesuatu di rekam medis yang dia bawa. Penetapan diagnosa.

"Bram." Pasien itu mengeluarkan suara pelan. Satu nama yang sama. Bram, kata pertama yang diucapkannya sejak kemarin dia siuman.

"Ya, sebentar lagi dia akan ke sini," sahut sang dokter.

Baru saja ucapannya berhenti di ujung kata, seorang pria melangkah ke dalam ruangan. Sang dokter pamit keluar, melewati pria itu seraya menepuk bahunya.

"Tolong dia," katanya dengan mimik wajah yang muram.

Ia lantas terduduk lemas di kursi tunggu yang ada di luar ruangan. Dilihatnya bergantian antara catatan di rekam medisnya dengan apa yang sedang terjadi di balik pintu.

Sungguh, sebagai seorang lelaki dan dokter, ia telah bersumpah untuk tidak menangis. Tapi, tidak kali ini. Melihat istri yang begitu dicintainya tengah memeluk mesra mantan pacarnya, air mata itu tak kuasa lagi ia bendung.

Andai saja keadaannya berbeda, tentu kau sudah kubunuh, Bram! Batinnya remuk redam.

-end-

Hiks! Jangan lupa voment, ya! :)

AlohomoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang