Prinsip

57 9 0
                                        

"Lagi mikir apa, Sayang?" Mas Firman mengagetkanku yang sedang termenung di tepi ranjang, membuatku menoleh dan mendapati lengkungan di bibirnya yang penuh.

"Nggak ada, Mas."

"Kamu nggak pernah bisa bohong sama Mas, kan? Kali ini juga nggak," sahutnya.

"Tadi Mama telepon Mas, besok sore ada acara arisan keluarga di rumah Om Rendra."

Aku menyerah meski sebenarnya tidak ingin membicarakan ini sama sekali.

"Oke, besok kita ke sana, ya?" jawab Mas Firman masih dengan senyum tulusnya.

Aku menggeleng. Nggak lagi, Mas.

"Semua akan baik-baik, Sayang," ujarnya seraya mengelus kepalaku dan beranjak keluar kamar.

Tidak, tentu tidak akan baik-baik saja. Terakhir kali kami menghadiri acara arisan keluargaku, senyum di wajah Mas Firman hilang tiga hari lamanya. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Sudah cukup jelas, keluarga besar tidak bisa menerima prinsip hidupku dan Mas Firman yang berseberangan dengan mereka.

"Kamu tahu Boy, kan, Rein? Dia sekarang sudah diangkat jadi manajer. Anak muda yang cemerlang," ucap Om Rendra dengan entengnya waktu itu, "kalau nggak salah, dulu dia pernah dekat sama kamu, kan? Kenapa kamu tolak?" lanjutnya.

Deg! Sebuah palu godam seperti dihantamkan tepat ke ulu hatiku. Entah apa kabar hati Mas Firman yang terang-terang mendengar pernyataan Om Rendra. Dia mendadak jadi pendiam sepanjang sisa acara.

Tak segan pula mereka bertanya kenapa kami tidak beli mobil saja daripada naik motor butut terus begini. Kenapa setelah menikah Mas Firman justru keluar dari pekerjaannya di bank dan memilih menjadi staf TU di sekolah swasta.

Tak jarang mereka juga membandingkan keadaan sederhanaku dengan para sepupu yang semuanya hidup mewah. Parahnya, mereka tertawa saat mendengar penjelasan kami. Adakah yang lebih menyakitkan dari itu?

"Rein, menurut Tante Papamu pasti akan sedih di alam sana. Bayangkan, kamu itu sudah dikuliahkan tinggi-tinggi sampai S2, disiapkan buat ngelola pabrik Papamu, kok sekarang malah diam saja di rumah kontrakan kecil begitu. Firman kan, yang larang kamu?" Satu lagi pertanyaan menohok dari Tante Risna saat kami berkesempatan ngobrol berdua.

Aku hanya tersenyum, tidak menanggapi celoteh itu. Kupikir Papa justru akan bahagia karena aku mendapat suami yang bisa mengajarkanku mengirim doa padanya. Satu hal penting ini dulu tidak pernah beliau ajarkan padaku. Apa menurut mereka yang akan membuat almarhum Papa tersenyum adalah harta bendanya yang bahkan sekarang jadi rebutan?

Sejak itu, kami tidak pernah lagi hadir di acara arisan keluarga. Tiga bulan lamanya, berturut-turut, sampai Mama meneleponku pagi ini. Sebenarnya, setiap bulan Mas Firman membujukku untuk pergi, untuk tidak memutus silaturahmi. Tapi aku bersikeras tidak mau menampakkan batang hidung jika nantinya hanya akan menggores hati Mas Firman. Sudahlah, aku tidak akan datang jika hanya untuk menerima omongan miring yang menyakitkan.

Notifikasi chat yang berbunyi dari ponsel membuat lamunanku buyar. Satu pesan dari Mama.

Rein, Mama tadi lupa bilang.

Terputus. Mama masih online, sedang mengetik pesan.

Besok itu sekalian acara syukuran Om Rendra, dia diangkat jadi direktur utama perusahaan.

Terputus lagi. Ingin kubalas untuk memberitahu Mama bahwa kami tidak akan datang, tapi Mama lagi-lagi sedang mengetik pesan.

Kamu tahu sendiri kan, rekan kerja Om Rendra kebanyakan beda keyakinan sama kita. Mama nggak mau mereka mikir macam-macam tentang keluarga kita pas lihat kamu. Jadi, Mama minta kamu berpakaian biasa aja, ya. Lepas cadarmu.

Pecah sudah. Aku tidak bisa lagi menahan bendungan di mata yang sedari tadi kutahan untuk tidak keluar.

-end-

Tantangan hijrah :)

Jangan lupa voment, ya!

AlohomoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang