Selepas Senja

117 13 0
                                        

Senja mulai menyemburatkan rona jingganya. Burung-burung mulai pulang ke sarang. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan. Suara tilawah mulai menggema di meunasah. Ketenangan menghampiri tiap-tiap jiwa. Senja, suasana yang digemari para pujangga. Suasana yang mengantar cakrawala menyentuh batas-batas kerinduan.

Seorang gadis meringkuk di tanah gersang yang demikian luas itu. Angin senja perlahan memainkan anak rambutnya yang terurai tak beraturan. Dari sekian jam lalu, dia bergeming di tempat yang sama, berteman pohon-pohon kamboja yang harumnya justeru menyesakkan dada.

"Maafkan aku, Ayah," bisiknya dengan satu dua air mata yang masih tersisa.

Gundukan tanah di hadapannya masih merah, pertanda belum lama ada seseorang yang dikubur di kalangnya. Ya, makam itu tempat persinggahan seorang lelaki yang berarti sekali baginya. Lelaki yang sejak 25 tahun lalu menuruti semua pintanya. Lelaki yang selalu menaruhnya di pundak saat dia masih terseok-seok berjalan. Lelaki yang selalu ada saat dirinya limbung dan kehilangan arah. Lelaki itu adalah seseorang yang dipanggilnya ayah.

"Suatu saat kamu yang akan membawaku ke Makkah, Nak." Ucapan sang ayah masih terngiang selalu di telinganya, membuat air mata gadis itu kembali menderas.

"Maafkan aku, Yah." Lagi-lagi kalimat itu yang dia ucapkan. Bibirnya bergetar.

Suara tilawah samar berganti dengan suara azan. Si gadis pun beranjak setelah mencium nisan bertuliskan nama sang ayah. Namun, baru sejengkal melangkah, dia mendengar sirine mobil polisi meraung semakin dekat ke area pemakaman.

"Angkat tangan! Anda sudah dikepung!"

Hanya butuh waktu beberapa kedipan mata, pemakaman yang sepi itu mendadak ramai. Delapan orang petugas turun dari mobil sembari mengacungkan pistolnya masing-masing ke arah si gadis.

Tak ketinggalan, beberapa wartawan koran dan televisi yang mengikuti, mulai memotret sana-sini. Si gadis tertunduk letih. Perlahan diangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

"Tangkap saya, Pak. Saya pantas mendapat ini," ucapnya lirih, masih dengan bibir yang bergetar.

Senja telah usai. Suara azan telah berganti puji-pujian dan salawat. Kepak camar di tubir pantai tak lagi terdengar. Tiga orang petugas mendekati si gadis dan dengan kasar memborgol kedua tangannya.

Seorang wartawan tampak tersenyum ceria, membayangkan besok dia akan disanjung-sanjung bosnya karena membawa kabar yang luar biasa. Dicoretkannya pena di atas buku catatan yang dia bawa. Sebuah headline yang esok pagi akan menggegerkan jagat nusantara.

Psikopat Buron, Marylin Subekti, Berhasil Ditangkap Pihak Kepolisian di Atas Pusara Korban Mutilasinya.

-end-

Ceritanya dia frustasi karena gak bisa memenuhi permintaan sang ayah ke Mekkah, sampai berbuat begitu (selain karena memang udah 'sakit' sih). Jangan lupa vote! :)

AlohomoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang