Manis tetapi Bukan Si Manis ; 13

10K 797 79
                                        

Bilah kokoh yang bergerak ritmik di antara pahanya membuat Jennie terbangun geli. Kali pertama membuka mata, netranya menangkap siulet pria yang terengah-engah panas. Matanya membelalak atas pemandangan Taehyung yang begitu kacau menghujamnya bertubi-tubi. Jennie yang setengah sadar segera meraih kesadarannya secara penuh, memaksa Jennie ikut terlarut dalam gairah hewani di pagi hari. 

"A─ahhh, selamat pagi...."

Nada yang kurang ajar namun begitu seksi dengan suaranya yang serak. Rambut Taehyung begitu hitam legam dan berantakan. Pria itu membasahi bibirnya saat Jennie mulai mengikuti situasi. Taehyung telah kehilangan rasa malu, sudah menjadi amat gila dengan dahaga seksual yang tak kunjung reda. 

Hentakan demi hentakan terus berlanjut, kasur yang menjadi saksi bisu perbuatan mereka semalam kini kembali bergoyang, menderit penuh derita. 

Menyentuh puncak surga, keduanya memeluk satu sama lain. Kemudian sama-sama mengatur napas. 

"Aku, aku harus mandi." Jennie yang telah mendapatkan kewarasannya lebih dulu, buru-buru bangkit. Beranjak tanpa menunggu pihak lain melakukan suatu aksi. 

"Tidak ingin mandi bersama?"

Jennie reflek menyilangkan tangannya di dada, berniat menutup aset dadanya. Spontanitas yang sia-sia karena pria itu telah menjamah seluruh tubuhnya tanpa terlewat. Gadis itu meringis malu. "Tidak perlu!"

Taehyung terkekeh. Rambutnya yang basah akan keringat membuatnya kian terlihat menawan. Menjadikan Jennie terkesima untuk kesekian kali. Pria itu berkata ringan, "Oke. Semalam dan tadi sudah cukup."

Jennie samar-samar mengingat saat ia terbangun di dini hari, Taehyung masih sibuk menggarap tubuhnya. Namun rasa kantuk membuatnya kembali dalam mimpi sehingga mengabaikan apa yang pria itu lakukan. Jennie memandang Taehyung dengan menyipitkan matanya, penuh curiga. "Kenapa aku semalam merasa kau masih melakukan itu bahkan saat aku tertidur?"

"Aku tidak."

Ah, Taehyung adalah pengelak yang licik. 

Tak mau ambil pusing, Jennie hanya mengendikkan bahu. Menjabarkan niatnya untuk mandi. 

Jennie bersenandung kecil saat di dalam kamar mandi. Ia telah merasakan  kenyamanan dengan Taehyung sehingga tidak perlu menjaga image di depannya. Ia bahkan mulai merajut asa atas keinginannya untuk memiliki hubungan yang baik dengan sang suami. Jennie berpikir untuk jangka waktu ke depan bahwa ia tidak akan membuat suaminya merasa kecewa, tidak ingin membuatnya mengeluh sedikit pun. Jennie memutuskan untuk bersikap baik demi hubungan yang berlangsung selamanya. 

Rasa perih menyambar selangkangannya, namun Jennie menahannya. Rasa sakit itu bukan apa-apa. Bahagianya digambarkan dalam semburat merah di pipi putihnya. Ingatannya kembali pada malam di mana Taehyung menjadi liar di atas tubuhnya. 

"Ahhhh!" Jennie berteriak resah, berusaha menghilangkan pikiran kotornya. "Aku tidak mengingat apapun... Semalam hanya tidur!"

Gadis itu mengguyur tubuhnya dengan air. Menghilangkan noda dalam benaknya juga sedikit rasa sakit di tubuh bawahnya. 


────


"Seokjin, kapan kau akan menikah?"

Jiyong meletakkan sendok di atas piring yang telah kosong. Menatap Seokjin dengan wajah lelah, ia telah berkali-kali mendapati permintaannya ditolak oleh sang anak sulung. 

"Aku belum siap."

Lagi-lagi jawaban yang sama. Kali ini, mendengarnya kembali membuat amarah tercetak secara eksplisit di wajah tegasnya. Jiyong tidak bisa lagi berlalu dan mengabaikannya untuk mendapati jawaban yang sama untuk masa yang akan datang. Ia berkata penuh penekanan, "Adikmu saja sudah menikah. Kenapa kau tidak pernah siap? Umurmu sudah menua. Mau sampai kapan?"

STRAIGHT? [TN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang