"Jangan menangis, hapus air matamu. Aku tak apa" ucap Wooyoung membuat Seoyun menahan tangis lagi sambil terisak.
.
.
.
"Tapi kau terluka" ucap Seoyun dengan suara seraknya.
"Aku tidak suka melihat perempuan menangis apalagi di depanku" kata Wooyoung dingin dan membuat Seoyun berhenti menangis.
"Sekarang kamu mau kemana? Mau aku antar pulang?" Sebenarnya Wooyoung memiliki banyak pertanyaan untuk Seoyun atas kejadian tadi. Tapi ia mengurungkan niatnya ia tau ini bukan waktu yang tepat.
"Aku tidak mau pulang. Aku takut ayah"
"Kalau begitu ikut aku" Wooyoung berbalik badan dan Seoyun masih diam dengan ekspresi bingung nya.
"Kemana?" Tanya Seoyun
"Menjauh dari ayahmu untuk sementara" jaraknya kini mulai menjauh dari Seoyun yang masih diam.
Lalu Seoyun berlari kecil mengikuti Wooyoung.
Setelah menempuh sekitar sepuluh menit, mereka sampai di depan apartemen Wooyoung.
Saat di dalam lift, seyoun terlihat rambutnya agak berantakan, berkeringat di wajah dan lehernya, serta napas yang terengah-engah.
Wooyoung meliriknya sekilas sebelum Seoyun menatapnya lagi. "Apa masih lama?" Tanya seyoun.
Lalu Wooyoung membuang pandangannya "sebentar lagi" jawabannya singkat.
Akhirnya mereka sampai di ruangan Wooyoung yang berdominan berwarna biru tua dan dihiasi cat warna emas. Membuat Seoyun terdiam sejenak di depan pintu.
"Tunggu apa?" Tanya Wooyoung membuat Seoyun bergeleng cepat lalu masuk.
Saat Wooyoung menyuruh seyoun untuk duduk, Seoyun melihat dirinya pada cermin di sebuah ruangan yang terdapat cermin cukup besar di dinding ruangan Wooyoung. "Astaga!".
"Ada apa!?" Wooyoung ikut terkejut.
"Aku jelek sekali" ucap Seoyun dengan bibir nya yang mempout.
Entah mengapa itu membuat Wooyoung terkekeh geli melihat tingkah Seoyun. "Kenapa? Kau mau mengejekku?" Kata seyoun
"Tidak" Wooyoung kembali ke sikap dinginnya.
"Mau minum apa?" Tanya Wooyoung.
"Tidak usah repot-repot"
"Jangan membohongiku ku. Aku tau kau haus"
Seoyun menahan rasa malu lalu mukanya mulai memerah "Bolehkah aku minta air putih?"
"Imut sekali gadis ini" batin Wooyoung.
Tak ada percakapan selama lima menit berlangsung. Mereka hanya saling diam. Terlebih lagi Wooyoung hanya menatap kearah jendela yang menghadap ke sebuah gedung-gedung bangunan dan kendaraan yang melintas dari atas sini, sambil merasakan wajahnya diterpa angin kecil membuatnya sedikit mengantuk.
Dalam diamnya Wooyoung, ia merasakan perih pada perutnya yang lapar. Kalian tau kan? Makanan nya sudah jatuh berserakan dan tak layak dimakan. Suara keroncong perutnya bisa terdengar oleh seyoun.
"Pftt" terdengar tawa dari Seoyun membuat Wooyoung merasakan panas di telinganya karena malu.
"Iya aku lapar. Aku belum makan. Jadi maklumi saja" ucap Wooyoung ngebut dan membuat Seoyun tertawa kencang.
"Padahal aku belum bertanya padamu" kata seyoun terpingkal.
"Hahaha" mereka tertawa bersamaan.
"Maaf membuat makananmu jatuh tadi"
"Tak apa. Lagi pula tadi ketidaksengajaan"
"Kamu mau makan apa sekarang? Biar aku yang masak" kata Seoyun menghampiri Wooyoung yang berdiri di pinggir Jendela.
"Di sini tidak ada bahan masakan, hanya makanan instan siap saji" jawab Wooyoung.
"Kemana keluarga mu?" Tanya Seoyun.
Wooyoung tidak menjawab, dia hanya menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Seoyun mengerti itu. "Maaf"Gumamnya.
"Kita makan diluar saja. Ayok" ucap Wooyoung langsung memakai Hoodie nya dan mengambil kunci mobil di atas meja.
"Kita?" Lirih Seoyun memperhatikan Wooyoung yang sibuk dengan aktivitas nya.
"kau akan sendiri disini. Mau aku tinggal?"
"Aku ikut!" Seru Seoyun. Lalu Wooyoung menekan pin di pintunya dan pintu itu otomatis terkunci.
Sepanjang perjalanan Seoyun terlihat gugup karena sedari tadi Wooyoung sangat serius dengan jalan di depannya saat berkendara. Hening tanpa percakapan, lalu Seoyun mencoba mencairkan suasana.
"Kau tidak bekerja hari ini?"
"Sekarang aku sedang bekerja" jawab Wooyoung singkat membuat Seoyun menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudmu?" Tanya Seoyun
"Aku sedang berpikir untuk Strategi misi"
"Maaf menganggu" lalu Seoyun tertunduk dan bingung apa yang harus ia lakukan agar Wooyoung tidak memasang ekspresi seperti triplek, kaku.
"Oh iya, boleh kah aku--"
"Sebaiknya tutup mulutmu, karena kita sudah sampai" kata Wooyoung menyela Seoyun.
"Kenapa dia ini? Ish" batin Seoyun.
.
.
.
"Mau pesan apa?" Tanya Wooyoung pada Seoyun yang sedari tadi memainkan jari tangannya sambil menunduk.
"Apa saja" jawabnya lesu.
"Tadi kau sangat energik sekarang kau terlihat lesu. Ada apa denganmu?" Kata Wooyoung menyimpan buku menu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Tiba-tiba perutku lapar jadi aku sangat lemas" jawab Seoyun sambil tersenyum.
"Senyummu tidak seperti biasanya" kata Wooyoung dingin.
"Senyum ku yang biasa seperti apa?"
"Ah tidak, lupakan". "Mungkin aku terlalu memperhatikan Seoyun" batin Wooyoung.
.
.
.
Setelah Wooyoung membawa Seoyun berkeliling cukup lama, ia mengantarkan Seoyun pulang. Bukan ke rumahnya, Seoyun meminta Wooyoung mengantarkan sampai setengah jalan. Katanya, ia tak mau Wooyoung di marahi ayahnya.
Sebelum itu Wooyoung meminta nomor telepon milik Seoyun, padahal sebelumnya Seoyun yang berniat untuk memintanya terlebih dahulu.
"Terimakasih. Hati-hati dijalan" ucap Seoyun kembali dengan senyum yang sudah menjadi pandangan favorit Wooyoung.
"Ya, kau juga hati-hati" lalu Wooyoung menginjak gas menjauh dari lokasi Seoyun turun.
Tanpa Wooyoung sadari, sudut bibirnya melebar dan membentuk senyum di wajahnya. "Aku senang" batin nya.
.
.
.
Dasar uyong! Ga peka sama perasaan sendiri :). Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mari kita ikuti cerita ini. Jangan kemana mana, hanya diiiiii sini ajaaa
Semangat buat ateez, jangan sedih karena mcountdown kemarin:') atiny masih ada buat support kalian. Thalangek❤
KAMU SEDANG MEMBACA
ATEEZ [Am i a criminal?]
Rastgele(selesai) "Am i a criminal?" "cihh! kurasa tidak. hidup kan sekali... jangan sia siakan hidup mu, marilah kita berbrutal ria bersama agar kesan hidup mu ada cerita untuk mu mati nanti" "Kau hidup sekali, bila nanti kau sedang berbrutal ria dan mati...
![ATEEZ [Am i a criminal?]](https://img.wattpad.com/cover/190702292-64-k398214.jpg)