who that G?

708 83 3
                                        

Wooyoung masih menatap kotak makan yang Seoyun berikan, sebenarnya ia tak begitu lapar tapi setelah mengingat perintah Seoyun ia harus memakannya. Jika tidak, sama saja ia tak menghargai usaha Seoyun.

Setelah Wooyoung menghabiskan bento yang Seoyun kasih, ia mengingat wajah seoyun yang tersenyum manis. dia kan baru berkenalan 3 hari yang lalu, entahlah... tapi senyumnya itu selalu membuat perasaannya membaik.

"Ada apa dengan dia? Apa yang aku rasakan?" Batin Wooyoung.

.
.
.

Keesokan harinya Wooyoung merasakan badannya lemas dan matanya terlihat sayu, semalam ia tak tidur sama sekali. Saat ini ia masih duduk menghadap papan informasi untuk memecahkan masalah ini.

Bukannya selalu menunda untuk beraksi, mereka memberi jarak waktu yang tepat untuk itu. Tak semudah seperti yang di katakan, Mereka harus hati-hati juga membentuk rencananya.

Kini di pagi hari menjelang siang, Wooyoung akan pulang ke apartemennya dan akan kembali lagi setelah badannya sedikit bugar. Itupun Eden yang memaksa Wooyoung untuk beristirahat.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, ia sampai di apartemennya. Wooyoung langsung pergi untuk mandi agar badannya segar. Saat Wooyoung membuka seragamnya, ia menatap dirinya yang telanjang dada di depan cermin wastafel serta anduk melingkar di bahunya.

"Menyedihkan sekali dirimu, lihatlah..." Gumamnya.

"Aku akan membereskan kasus ini!"

Wooyoung berucap dengan dirinya sendiri di cermin.

"Aku akan membuatmu lebih bangga lagi Hyung!"

"Jika di perhatikan, wajahku mirip sekali dengan mu"

Wooyoung kembali menatap wajahnya lekat sampai ia bisa melihat netra nya yang membulat. Tiba-tiba,,,

Tuk!

Ia terkejut saat keningnya sedikit terbentur karena ia terlalu memperhatikan wajahnya sampai-sampai tak menyadari jaraknya dengan cermin. "Bodoh" monolog nya.

Ia tersadar dari aktivitas nya dan langsung pergi mandi. Setelah semuanya beres ia tak merasa badannya segar secara keseluruhan. Tentu saja, dia kan belum sarapan. Padahal sekarang sudah menjelang siang. Bukan sarapan namanya kalau sudah siang begini.

Lalu ia berniat untuk pergi membeli makanan di luar. Kalau saja ia masih tinggal di panti, bibi Soohye pasti akan memasakkan makanan untuknya.

Tapi ya sudahlah... Lagian Wooyoung sudah dewasa dan harta keluarga harus ia urus. Jadi kini ia hanya sendiri di apartemen mewah nya. Soal beres-beres, ia selalu memanggil seorang pembantu yang mau bekerja sebulan empat kali. Wooyoung juga orang yang rajin, jadi apartemennya tidak terlalu berantakan.

Wooyoung menelusuri jalanan kota sambil memasukkan tangannya ke dalam saku Hoodie. Ia tak menggunakan mobilnya, ia lebih memilih untuk berjalan kaki. Lagian kalau memang ia lelah juga, kota ini masih menyediakan banyak taxi.

"Apa yang akan aku makan?" Gumamnya saat melihat jajaran penjual makanan di jalan kecil kota ini.

Jajaran penjual makanan disini berdominan dengan cemilan bukan makanan berat. Penciuman nya terpancing pada asap cumi bakar di depannya, tapi matanya terarah pada daging sapi lada Hitam favoritnya. Oiya! Kemarin di dalam bento yang Seoyun kasih, ada juga potongan daging sapi lada Hitam. Wooyoung jadi mengingat Seoyun lagi.

Tak butuh waktu lama, Wooyoung memilih untuk membeli daging sapi lada Hitam dengan satu paket nasi dan ocha tea.

Wooyoung pulang kembali ke apartemennya dengan berbeda arah saat menuju tempat makanan tadi.

Ia berjalan dengan santai saat berjalan di gang kecil dan mulai menjauh dari kerumunan orang.

Entah sial ataupun itu, seseorang yang menabraknya dari sebelah gang membuat makanannya jatuh berserakan.

"Hei yang benar saja!" Teriak Wooyoung.

Orang itu bersembunyi di belakang Wooyoung sambil menggigil dan ketakutan. Wooyoung terkejut setengah mati saat tau sosok itu adalah Seoyun yang menangis memohon untuk dilindungi.

Dilindungi dari apa? Dari siapa?

Ternyata ada dua orang pria yang mencarinya dengan wajah geram.

"Aku mohon tuan.. tolong aku! Tolong..." Ucap Seoyun yang tidak mengetahui orang itu adalah Wooyoung.

Banyak pertanyaan di kepala Wooyoung. Tapi ia tak berpikir panjang, ia langsung menghalangi Seoyun saat dua pria itu menemukan Seoyun.

"Apa yang kau inginkan dari Seoyun!?" Bentak Wooyoung.

Merasa namanya terpanggil Seoyun terkejut dan mencoba melihat sosok yang menyelamatkan nya.

"Wooyoung!" Teriak Seoyun.

"Apa urusan mu dengan kami?" Tanya salah seorang pria itu.

"Urusan ku sangat penting. Aku harus melindungi Seoyun" ucap Wooyoung lagi.

"Jangan ikut campur pria pendek! Atau kau akan babak belur" pria satunya ikut berbicara.

"Cih! Sialan. Meremehkan ku?" Decih Wooyoung.

"Apa yang akan kau lakukan pada kami?"

"Satu pukulan pun bisa membuat mu menangis"

"H A H A H A H"

"Jangan bicara sembarangan, jika kalian meremehkan ku. Kalian akan menyesal" ucap Wooyoung.

"Kau pikir kau itu siap--"

Bugh!

Satu pukulan dari Wooyoung membuat darah mengalir di lubang hidung pria itu.

"B*jingan!"

Wooyoung menangkis semua gerakan tangan dua pria itu dan berhasil melumpuhkan yang satunya.

"Tinggal satu lagi" gumam Wooyoung.

Tak!

Wooyoung terkena pukulan dari tongkat kayu yang pria itu dapatkan entah dari mana.

Wooyoung meringis saat luka di pelipisnya membiru.

Lalu ia membalikkan tangan orang itu dengan sekejap bisa melumpuhkan keduanya.

"Aku akan membalas perlakuan mu, tunggu saja. Dan kau Seoyun! Kau akan menyesal" lalu kedua pria itu pergi sambil memegang tubuh yang terasa sakit.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Wooyoung pada Seoyun.

"Apa kau baik-baik saja!??" Tanya Seoyun yang hampir bersamaan dengan Wooyoung.

"Aku tak apa. Hanya saja--" ucapan Wooyoung terhenti

"Biar aku lihat!" Seoyun panik dan meraba setiap wajah Wooyoung. Ia sangat khawatir.

Wooyoung terdiam dan menatap Seoyun yang benar benar merasa takut, khawatir dan menahan tangis semuanya Campur aduk.

Seoyun merasa bersalah saat melihat luka lebam di pelipis kiri Wooyoung. Ia menatap mata Wooyoung dengan netra nya yang mulai membesar dan mengeluarkan air mata.

"Maafkan aku" lalu air mata Seoyun mengalir deras.

Wooyoung tak tau apa yang sedang ia rasakan. Ia hanya membeku dan tak bisa berkata apa-apa. "Ada apa denganku? Perasaan apa ini?" Batin Wooyoung saat melihat air mata Seoyun.

"Maaf karena membuat mu terlibat. Maaf karena membuat mu terluka. Maaf karena meminta pertolongan. Aku tak tau akan meminta bantuan pada siapa-- hiks" Seoyun terlihat sangat takut sekarang.

"Jangan menangis, hapus air matamu. Aku tak apa" ucap Wooyoung membuat Seoyun menahan tangis lagi sambil terisak.

.
.
.

Apa yang akan terjadi selanjutnya??

Tunggu dulu! Masih ada lagi lanjutan nya. Mwehehehehe *kenapa sih author gantung cerita Mulu?* Iya maap gais.. kalo satu chapter kepanjangan, ntar malah bosen kesannya. Jadi aku bikin beberapa chapter itu ber-part.

ATEEZ [Am i a criminal?]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang