Ya, hanya sebuah lampu
Bercahaya bila pemilikku di kegelapan
Redup, lalu mati kala pemilikku terbangun dari lelapnya
Terdampar di langit kamar membisu
Saksi bisu semua keruh riak perjalanan pemilikku
Kecil, anak jarum sudah tegak busung menatap langit
Tuan enggan mematikanku
Baiklah, ku temani tuan
Menemani menerawang mimpi-mimpi indah
Tersenyum sungging lihat perangai jenaka
Besar, belum juga anak jarum bangun aku sudah dimatikan
Silau, ganggu, capek, negrusak suasana apalah celotehnya
Padahal aku juga ingin bermain bersamamu
Walau dari atas sini
Apakah karna aku jelek, sudah kusam, tak lagi seterang dulu
Tapi, aku terang untuk yang membutuhkanku
Walaupun banyak yang mematikanku kala sudah tak butuh
Ya hanya sebuah lampu
Bercahaya bila pemilikku di kegelapan
Bangkaweh, 03 Maret 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Lakon
PoetrySetiap apa yang terjadi di sekitar kita mampu menyentil hati. Bukankah begitu? ada yang dengan satu sentilan saja, ia sudah mampu menyentil hati. Namun, ada yang dengan beberapa sentilan kemudian iya baru bisa menyentil hati. Semua butuh proses. La...
