Mentari sudah tepat pada singgahsananya dan siap menebar cahaya bagi semesta. Hawa panas yang tercipta sungguh tak bisa di elakan, terlebih jika berbaur dengan suasana lalu lintas sekarang. Kacau.
Karena tidak teraturnya jalan raya, mobil sedan berwarna hitam yang di kendarai Faiz pun memilih mengambil jalur alternatif untuk cepat sampai ke tujuan. Hatinya terlalu mengebu untuk bertemu gadisnya, perasaan rindu sudah tak tertahan. Meskipun nanti Faiz tahu apa yang akan terjadi bila dirinya datang, tapi tetaplah rindu ingin bertemu ini selalu mendominasi.
Senyumannya yang lama hilang kini terbit tatkala mobilnya berhenti di sebuah rumah--rumah dilahirkannya sang bidadari. Lelaki itu lantas mengetuk seraya mengucapkan salam, dan tak lama seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah mbok Rami membuka pintu tersebut.
"Mari masuk." Mbok Rami menggiring Faiz untuk duduk di ruang tamu.
Dan tepat di sana pula sudah ada pria paruh baya yang tengah asik menyesap kopi. Faiz menghembuskan nafas, lalu melangkah mendekati.
"Assalamualaikum, Bi."
"Waalaikumsalam. Silahkan duduk."
Setelah menyalami punggung tangan Ali, Faiz lantas duduk dengan tenangnya. Sangat terlihat jelas raut wajah mertuanya itu sangat berbeda, mungkin Ali sudah tahu atas semua yang terjadi--pikir Faiz.
"Kamu ke sini ingin bertemu Syahira?" Tanya Ali memecah keheningan.
"Iya, Bi."
Ali menyesap kembali kopinya, bersamaan dengan itu mbok Rami datang dengan segelas minuman. "Mbok tolong panggilkan Syahira ya?" Titah Ali.
"Nggeh, tuan." Wanita paruh baya itu berlalu dengan tergeropoh.
Suasana kembali lagi hening, Faiz menjadi gusar di buatnya. Sosok Ali kali ini menjadi tak banyak bicara, mungkin itu cara Ali meredam amarah atas luka yang di berikan Faiz untuk putrinya.
Detik berikutnya seorang gadis bergamis coklat susu mengalihkan pandangan Faiz, kerinduannya terbals dengan melihat wajah Syahira kini. Namun, tak ada senyuman di sana dan sekali lagi Faiz merasa bersalah.
"Sini, Nak." Panggil Ali membuyarkan lamunan Faiz. Gadis itu mendudukan dirinya di samping Ali, kepalanya tertunduk dan jemarinya meremas satu sama lain.
Ya Allah, sebesar itukah luka yang telah kuberi?-batin Faiz.
"Suamimu datang, apa kamu tidak mencium tangannya, Nduk?" Tegur Ali, yang membuat Syahira menatap sekilas Faiz.
Dengan segenap cinta dan rasa hormat seorang istri, Syahira mencium takzim punggung tangan Faiz. Bersamaan dengan itu hati berdesir, hati kembali sesak.
"Abi sudah sudah tahu masalah kalian. Umi yang bercerita." Ali mengawali pembicaraan. Setidaknya pria itu harus meluruskannya, walaupun sulit. "Nak Faiz. Ketika Nak Faiz datang kemari membawa i'tikat baik, di situlah saya mempercayakan Nak Faiz untuk membimbing putri saya. Dan sekarang sebuah kabar berhembus untuk menghancurkan kepercayaan saya itu." Ali menatap sayu Faiz.
"Apa Nak Faiz benar melakukan itu? Jika memang iya, tolong sekali izinkan saya membawa putri saya kembali. Saya tak ingin di tenggelam dalam deritanya," lanjut Ali.
"Tak ada niat untuk Faiz mengecewakan Abi ataupun Syahira sendiri. Dan mengenai benar atau tidaknya kabar itu, Faiz juga minta tolong berikan waktu untuk Faiz membuktikan kalau kabar itu tidak benar."
Suasana menegang, Syahira masih berada di tengah-tengah pembicaraan itu. Namun, ia masih saja diam.
Ali memandang Syahira sekilas seraya menghembuskan nafas lirih, "baiklah. Saya akan memberikan waktu satu minggu untuk kamu membuktikan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ning & Gus
RomanceDi dalam mencintai harus ada ke ikhlasan tentunya. Entah itu ikhlas dalam menerima kenyataan yang tak sesuai harapan ataupun ikhlas membiarkan yang di cintai melabuhkan hatinya pada yang lain. Seperti halnya gadis jawa yang lemah lembut ini, ia haru...
