Tepat di akhir bulan Januari kali ini kebahagian semakin berlipat ganda terhadap rumah tangga yang di bina oleh Syahira dan Faiz. Mereka telah resmi menjadi seorang orang tua. Putra kecilnya telah terlahir dengan wajah yang rupawan seperti Faiz, dan semoga saja hatinya selembut sutra seperti Syahira.
Syahril Abu Bakar As-Syaid, itulah nama yang di peruntunkan untuk anak pertama Syahira dan Faiz. Dengan harap, kelak putranya itu menjadi seperti sosok Abu Bakar yang pantang menyerah dalam menyebar agama Allah. Amin.
Ucapan syukur dan terima kasih pada sang pemilik cinta terus tercurah, karena-Nya Syahira dan Faiz bisa bertahan sampai sejauh ini. Banyak perlajaran yang telah Allah beri untuk menjadi cermin dalam melangkah ke masa yang selanjutnya.
Dan untuk Sella, baik Syahira dan Faiz sudah memaafkan apa yang sudah terjadi. Wanita itu kini benar-benar menempati janjinya untuk berubah menjadi lebih baik, Sella pun telah bahagia bersama anak dan suaminya di Amerika. Sekali lagi Syahira sangat berterima kasih pada Allah yang telah membukaan hatinya dalam memaafkan, karena kalau tidak sudah pasti masalah dan kesedihan tak akan berhenti sampai hati berkata damai pada keadaan.
Tak ada yang lebih indah dari pasa tali persaudaraan itu sendiri. Jika dengan sengaja kita memutuskan karena masalah masa lalu, percayalah akan ada kerugian di masa depan. Entah dalam bentuk apa. Yang pasti Syahira kini memegang tegus prinsip itu. Ia tak boleh lagi terus memikirkan hati, karena masih banyak kewajiban Syahira sekarang. Seperti halnya kewajiban Syahira sebagai seorang ibu untuk Syahril.
Oek .. oek ...
Tangisan Syahril memecah lamunan Syahira, gadis itu segera menutup novel yang ia baca lalu beranjak ke box bayi.
"Masyaallah, putra Ibu lapar ya. Uluh cup, cup." Celoteh Syahira seraya mengangkat tubuh kecil Syahril, lalu meletakkannya dalam pangkuan untuk memberikan asi.
Syahira tersenyum tatkala melihat lesung pipi yang sudah tergambar di wajah Syahril, manis sekali. Gadis itu lantas mengusap kepala Syahril dengan seraya mengucap doa agar senantiasa putranya tersebut selalu dalam lindungan Allah.
"Assalamualaikum." Salam Faiz yang baru saja datang ke kamar membuat Syahira mendongkak, lalu menyalami punggung tangan suaminya itu.
"Waalaikumsalam." Bersamaan dengan itu Syahril menyudahi minum asinya. "Aish, sepertinya anak kita sudah tahu sekali kedatangan kamu Mas."
Faiz terkekeh ringan, lalu mendudukan diri di samping Syahira. Kemudian mengambil alih untuk mengendong Syahril. "Pinter sekali ya kamu. Kangen Ayah ya, hemm." Seraya menyuil pipi gembulnya.
Syahira tersenyum. Bahagia ternyata sederhana ya. "Oh iya, Mas. Besok acara milad pesantren Al-Husna, jadi?"
"Jadi, Sayang. Kita bawa Syahril ke pesantren sekalian, supaya dia tahu di mana Ayah dan Ibunya bertemu untuk pertama kalinya," ujar Faiz dengan nada menggoda.
"Ih, bisa aja buat Adek malu!" Pipi Syahira benar-benar merah. Entah mengapa malu ketika di goda oleh Faiz masih saja terasa, padahal sudah beberapa tahun mereka menikah.
"Kapan sih kamu gak malunya." Kekeh Faiz, "tapi Mas bersyukur, kamu masih malu-malu seperti itu. Karna itu buat Mas gemas, dan ingin sekali berlama-lama di rumah."
"Ish! Mas udah deh!" Ujar Syahira seraya mencubit kecil pinggang Faiz. Lelaki itu bukannya mengaduh malah terkekeh ringan.
Lihatlah semesta, kedua hati itu kini bisa terbebas dari permainanmu. Mereka telah mendapat bahagianya.
⚘⚘⚘⚘
Kendangan sholawat bergema di langit malam pesantren kala itu. Ramai-ramai orang memeriahkan acara milad pesantren Al-Husna ini, suka cita berbaur seiring waktu.
Rencana awal acara ini hanya di adakan dengan sederhana, namun rupaya abuya Ilham agar supaya meriah karena sekaligus ingin memperkenalkan cucu pertamanya kepada para santriwati atau santriwan yang ada di sana. Memang Syahril kali pertamanya datang ke wilayah pesantren tersebut, jadi abuya Ilham begitu seantusias itu.
Rasa antusias ternyata bukan hanya di rasakan keluarga As-Syaid saja, tapi juga para orang-orang pesantren juga. Terbukti ketika baru saja Syahira dan Faiz menginjakkan kaki, ramai-ramai beberapa santriwati dan santriwan menyalami ataupun memberikan beberapa pujian kecil. Beginilah resiko menjadi cucu sang pendiri pesantren.
"Monggo Gus, Ning. Panjenengan sudah di tunggu pak kiyai." Ujar salah satu abdi ndalem seraya mempersilahkan Syahira dan Faiz ke dalam ruangan yang telah di sediakan untuk berkumpul.
Di sana ternyata keluarga As-Syaid sudah berkumpul. Mereka lantas slaing berbaur, berceloteh tentang hal yang ringan. Kebahagian yang sangat sayang bila di lewatkan.
Usai itu, mereka beriringan keluar ruangan untuk menyaksikan acara demi acara. Di tampilkannya para bakat santriwati dan santriwan serta kesenian islam lainnya. Suasana pesantren Al-Husna begitu meriah begitupun langit kota bungkarno malam ini, rentetan bintang sdan cahaya rembulan mewarnai dengan indah kepekatan malam.
Setelah penampilan bakat tersebut, barulah Faiz selaku pengasuh pesantren Al-Husna ini menaiki panggung untuk memberikan sapatah dua patah sebagai pembuka awal keberhasilan pesantren dalam mensyiarkan dan mencerdaskan para generasi islam.
Memang, Al-Husna tak lah seterkenal pesantren lainnya yang ada di tanah Jawa ini. Akan tetapi, kehadiran pesantren Al-Husna di Blitar begitu sangat membantu membimbing para generasi awal pejuang islam dalam menjaga kadamaian serta iman.
Lagi-lagi di tengah Faiz berucap di depan, Syahira tersenyum lebar. Entah mengapa sekarang tersenyum seolah menjadi candu untuk Syahira. Mungkin karena kebahagian beruntun yang di berikan Allah ini. Alhamdulillah.
Semua tampak sempurna. Kebahagian kini seolah datang silih berganti bagai hujan, dan luka yang kemarin pun sudah terbasuh. Allah sangat pintar menyusun skenario hambanya.
"Mas ..." panggil Syahira ketika Faiz sudah kembali pada duduknya, tepat di samping Syahira.
"Iya, Dek?"
"Terima kasih sudah datang di hidup Adek." Syahira tersenyum, begitupun Faiz.
Lelaki itu menggenggam erat tangan Syahira, "terima kasih juga sudah mau bertahan sampai sejauh ini."
Cinta telah mengangkasa pada malam yang indah itu, bersama dengan doa serta harap untuk keabadian rasa bahagia ini. Ya, Syahira tahu tak ada yang abadi kecuali sang maha cinta itu sendiri.
Sekarang, keikhlasan dalam mencintai sangat di butuhkan. Karena semakin kita menggengam maka semakin banyak rasa sakit yang di rasa akibat terlalu keras tergenggam, sesekali kita harus memberi ronggah untuk mempersilahkan bahagia masuk pada kisah cinta kita.
Tak ada yang salah jika harus mengalah, untuk mendapatkan hasil memuaskan di akhir nanti.
End.
⚘⚘⚘⚘
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)
وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”
(Qs. Ali Imran:145)
⚘⚘⚘⚘
Alhamdulillah selesai😢
Terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian yang baca cerita ini😍 aku terharu bisa sampe 29K pembaca😢
Jujur ya ini di luar ekspetasi aku, bahkan untuk pertama kalinya cerita yang aku buat bisa menembus sampe sebanyak itu votenya😁
Sampai bertemu di Sequel cerita ini👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Ning & Gus
Storie d'amoreDi dalam mencintai harus ada ke ikhlasan tentunya. Entah itu ikhlas dalam menerima kenyataan yang tak sesuai harapan ataupun ikhlas membiarkan yang di cintai melabuhkan hatinya pada yang lain. Seperti halnya gadis jawa yang lemah lembut ini, ia haru...
