End: Semisterius Takdir

29.9K 1.4K 33
                                        

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم

ْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” 
(QS. Ar-Ra’d: 11)  

________________________________

Waktu telah membawa semuanya, tak ada yang tersisa. Hanya kesunyian. Bahkan bayangan pun enggan untuk menemani. Kenyataan demi kenyataan datang bagai embusan angin, namun meninggalkan debu yang berupa kelukaan.

Apa ini benar akan berakhir? Kadang gadis itu selalu bertanya demikian ketika melihat tangannya tidak lah ada seseorang yang mengenggamnya lagi. Pelukan hangatnya pun kini hanya bisa di rasakan lewat ilusi.

Alasan untuk bertahan akan permainan semesta ini hanya satu, yaitu sebuah makhluk tak perdosa yang hidup di rahimnya. Syahira akan tetap menjalani semuanya, walaupun sulit. Setidaknya sampai ia bisa melihat si permata kecilnya lahir ke dunia.

Syahira paham apa yang terjadi sekarang bukanlah sepenuhnya tentang mengikhlaskan, tapi tentang ketangguhan tanpa penompang. Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya.

Mungkin sekarang Syahira harus merasakan sakit, lalu kebahagian akan beruntun datang. Semoga. "Bismillah, ikhlas Hira ...." gumamnya lalu detik berikutnya seulam senyuman tipis menghiasi. Matanya masih sayu, menyiratkan kesedihan mendalam.

"Semua luka pasti akan berlalu, semua derita akan terganti dengan kebahagian yang telah Allah persiapkan esok hari." Mendengar suara itu lantas Syahira menoleh ke sumber suara.

"Aisyah," lirih Syahira, lalu tersenyum tipis.

"Bagaimana keadaan Mbak sekarang? Mbak boleh sedih, tapi jangan terlalu berlebih. Apa lagi sampai hati Mbak berontak menyalahkan ketentuan-Nya." Ujar Aisyah seraya duduk di bangku rumah sakit.

Ya, mereka sekarang tengah berada di taman rumah sakit. Syahira yang tak sadarkan diri kemarin masih menjalani pengobatan entah sampai kapan. "Alhamdulillah, Mbak baik ko. Kamu sejak kapan kemari?"

"Baru saja," sahut Aisyah. "Aisyah sudah tahu semuanya. Mbak yang tegar ya, Allah selalu bersama Mbak."

Sungguh Aisyah sudah menebak akan hal ini, terlebih kepergian Sella yang tak kunjung kembali dan juga waktu yang semakin berjalan cepat, Aisyah sudah tebak keputusan abangnya itu. Aisyah benci dengan sikap Faiz yang selalu gampang menyerah jika berhadapan dengan waktu, Aisyah benci sosok Faiz yang berani menyimpan kelukaan seorang diri. Aisyah benci hal itu.

Andai ia memiliki kuasa untuk memutar masa, akan Aisyah pergunakan semua itu untuk berkata langsung pada Ali--orang tua Syahira-- tentang siapa yang sebenarnya salah dalam masalah ini, maka ini tak akan terjadi. Ternyata benar, waktu tak bisa di ulur dan harus di manfaatkan sebaik mungkin.

"Sudahlah Aisyah. Mbak lelah membicarakan hal itu."

"Aisyah ingin bertanya sama Mbak." Gadis itu mengubah posisinya menjadi menghadap ke arah Syahira. "Apa Mbak sekarang membenci Bang Faiz?"

Syahira memejamkan mata sekilas seraya menghembuskan nafas lelah, "tidak ada benci. Hanya kecewa, itu saja."

"Jika ada waktu bisa di putar, apa yang Mbak ingin lakukan?"

"Mbak tidak mengikuti ego dan lebih mengikuti kata hati. Mbak mungkin akan mencoba memaafkan, sehingga semua tak akan terjadi."

Aisyah tersenyum tipis. Ternyata rasa cinta itu masih ada di dalam hati Syahira. Lalu jika seperti ini, apa bisa kekuatan cinta menyatukan?
"Mbak mau mewujudkan itu semua?"

Ning & GusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang