"Romantis?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Picisan."
"Namanya juga romantis."
"Membosankan."
"Lalu?"
"Thriller."
"Kau ingin menodai mataku dengan adegan pembunuhan?" protes Jisoo sambil mendekap laptop yang hendak diambil Sehun dengan posesif. Saat ini mereka tengah mendiskusikan film apa yang akan mereka tonton.
"Kalau begitu, film peperangan saja," tawar Sehun.
"Sama saja, banyak adegan pembunuhan," tolak Jisoo. Ia tak suka dengan film, novel, atau apapun yang bertema pembunuhan.
Sehun memutar bola matan, kalau begini kapan selesainya. "Lalu maumu apa?"
"Emmmm," Jisoo terlihat berpikir "Kartun?" katanya dengan nada tanya setelah lama berpikir.
Sehun beranjak dari sofa panjang di ruang tengah itu. "Aku tidur," ucapnya sambil berlalu.
Jisoo membulatkan mata melihat Sehun yang tiba-tiba berdiri. "Ti-tidak bisa," protesnya dengan terbata saking tak menyangkanya dengan respon Sehun saat ia mengatakan ingin menonton kartun.
Apa salahnya menonton kartun? Mereka lucu dan menggemaskan 'kan?
Sehun berbalik, ia tatap Jisoo yang masih duduk di sofa dengan tajam. Membuat Jisoo meringsut ke belakang sambil mengeratkan dekapannya pada laptop. "Ke-kenapa kau menatapku seperti itu!?" Niatnya sih ingin membentak, tapi yang terdengar malah seperti rengekan. Apa-apaan tatapan tajam yang Sehun lemparkan itu, Jisoo kan jadi takut.
Sehun menghela nafas sambil kembali memutar bola mata. "Yang benar saja Jisoo!!! Umur kita berapa?" Lebih baik Sehun tidur daripada menonton kartun. Kartun itu tontonan anak-anak, bukan orang dewasa seperti mereka.
"Mereka imut 'kan, memangnya apa salahnya dengan umur kita?" Apa salahnya orang dewasa menonton kartun?
Bila Sehun tak bisa mengontrol diri, mungkin ia telah menganga dengan tidak elitnya saat ini mendengar jawaban Jisoo. Tanpa kata Sehun kembali berbalik dan melangkah kearah kamar.
"Sehun ...." Sayang sekali suara Jisoo yang terdengar mendayu-dayu itu membuat Sehun mengernyit dan menghentikan langkahnya.
Sejak kapan suara Jisoo menjadi seperti itu? pikir Sehun bertanya-tanya.
Pria itu berbalik menghadap Jisoo. "A-apa?" Ia menjadi gugup saat mendapati Jisoo tengah memasang tampang memelas bak anak kucing meminta makan. Sehun menjadi salah tingkah disuguhi dengan pemandangan imut seperti itu.
"Sehun, kau tak kasihan padaku yang sudah menunggumu pulang?"
Tahan Sehun, tahan!!! jangan goyah hanya dengan tampang minta diterk—ah maksudnya dikasihani itu. Belajar dari mana Jisoo memasang ekspresi memelas yang terlihat imut dan menggemaskan bersamaan.
"Aku harus menahan kantuk saat menunggumu." Jisoo kembali bersuara dengan wajah menahan tangis yang dibuat-buat.
Ah tidak!!! Matanya semakin berkaca-kaca, tahan Sehun! Jangan luluh dengan air matanya, yang benar saja Sehun, kau pria dewasa! Tak pantas bila di usiamu kau menonton kartun. Ingat itu!!! pikiran Sehun berkecamuk, logika dan perasaannya bertentangan.
"Lalu bagaimana dengan dua cangkir coklat panas itu?" Jisoo menunjuk dua cangkir cokelat panas yang terletak di meja.
Telinga Sehun memerah mendengar suara Jisoo yang diimut-imutkan. Bagaimana bisa Jisoo membuat suara seimut itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Innocent Affair✓
Fiksi Penggemar"Katanya, bila kau mencintai dua orang wanita. Pilihlah yang kedua, karena kau tak 'kan mencintai yang kedua bila kau mencintai yang pertama. Lalu aku yang nomer berapa, Sehun?" "..." "Ah ... jadi benar kau sudah mulai mencintai istrimu, ya?" "..." ...
