#####
"Gaun ini untukku, Sehun?" Wanita itu menatap kagum gaun merah di tangannya. Bukan, bukan karena keindahan gaun ini, tapi karena suaminyalah yang membelikan gaun yang indah ini untuknya. Ini adalah pertama kalinya, suaminya membelikannya barang tanpa ia minta.
Ia tatap gaun di tangannya, dan suaminya yang berdiri tak jauh darinya secara bergantian. Dilihat dari senyumnya pun, ia benar-benar terlihat sangat bahagia.
Sehun, pria itu hanya tersenyum lembut, sebelum melangkah mendekati istrinya yang tengah memasang wajah gembira. "Kau suka?" tanyanya.
Irene mengangguk semangat, senyumnya semakin lebar. "Sangat, aku sangat menyukainya."
Tangan Sehun terangkat, mengusap puncak kepala istrinya. "Aku senang, bila kau senang"
Irene mematung, tak taukah Sehun, bahwa kalimatnya itu membuat Irene semakin berharap banyak pada dirinya. Perasaan tak nyaman yang beberapa hari ini menyelimuti hati Irene lenyap begitu saja, hilang tak bersisa. Ia merutuki dirinya sendiri yang sempat berprasangka buruk pada suaminya, dalam hati ia mengucapkan maaf berkali-kali karena telah meragukan kesetiaan suaminya.
"Kau tau, Irene? Pertama kali melihat gaun ini, aku langsung teringat akan dirimu. Aku membayangkan, betapa cocoknya kau memakai gaun ini." Sehun menyentuh ujung gaun yang dipegang oleh Irene. Namun, matanya menatap lekat wajah Irene yang bersemu merah karenanya.
"Sungguh?" Irene tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, Sehun—suaminya, memikirkannya, apakah dirinya sudah mulai mengisi hati suaminya? Semoga saja.
Sehun mengangguk, menyahuti pertanyaan Irene. Ia tak berbohong. Ia benar-benar langsung teringat akan Irene saat pertama kali melihat gaun merah ini. Irene memeluk tubuh Sehun dengan erat, yang dibalas dekapan hangat oleh Sehun.
#####
Jisoo menatap bosan layar ponselnya. Mendadak ia merindukan orang tuanya, kakaknya, juga teman-temannya. Dua tahun ia pergi dari rumah, ia benar-benar bodoh! Bodoh karena sudah berani menentang orang tuanya hanya demi pemuda yang tak pernah menganggap kehadirannya, dan sekarang, ia juga tengah menjauhi temannya, juga dengan alasan yang sama, Taeyong.
Perasaan bersalah mulai menyergapnya, entah apa yang telah membutakan hatinya sampai-sampai tak bisa melihat kenyataan yang sudah terpampang jelas di depan mata. Kenyataan, bahwa Lee Taeyong tak pernah menganggap sosok Kim Jisoo berarti dalam hidup pemuda itu. Seharusnya sudah dari lama Jisoo menyerah, bukannya malah terus memperjuangkan hal yang mustahil—cinta Taeyong.
Semua kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, mulai berputar di kepalanya. Semuanya, termasuk pertemuannya dengan sosok Oh Sehun.BSenyum kecil muncul di bibir mungilnya, Oh Sehun itu ... tak terdefinisikan. Entah kalimat apa yang bisa menjabarkan sosok pria itu, Jisoo tak dapat menemukannya.
Dia terbuka, tapi juga tertutup. Jisoo tak menampik, bahwa ia menyadarinya, menyadari bahwa ada sesuatu yang Sehun sembunyikan darinya. Entah hal apa itu, Jisoo tak tau, dan untuk saat ini, ia tak ingin tau.
Gadis itu bangkit dari kasurnya, lalu meraih laptop miliknya yang terletak di meja samping kasurnya. Sudah ia putuskan, ia akan menonton drama saja malam ini, untuk membunuh rasa bosannya. Sebelum menghidupkan laptop, ia sempatkan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
'Jangan terlalu larut bekerja, jangan mengkonsumsi kopi di malam hari. Jaga kesehatanmu'
#####
Sehun tersenyum, membaca sederet kalimat yang terpampang di layar ponselnya, kalimat peringatan juga perhatian. Ia kembali tersenyum, sebelum melanjutkan pekerjaannya sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Innocent Affair✓
Fanfiction"Katanya, bila kau mencintai dua orang wanita. Pilihlah yang kedua, karena kau tak 'kan mencintai yang kedua bila kau mencintai yang pertama. Lalu aku yang nomer berapa, Sehun?" "..." "Ah ... jadi benar kau sudah mulai mencintai istrimu, ya?" "..." ...
