"Kau benar-benar membuatku marah. Beraninya kau menolakku!"
Bola mata Jisoo melebar, belum selesai keterkejutannya saat Taeyong tiba-tiba menarik lengannya, kini ia bertambah terkejut menyadari posisinya yang kini terpojok di dinding dan wajah Taeyong yang begitu dekat dengannya. Bahkan Jisoo bisa merasakan sapuan hangat nafas Taeyong yang menyentuh wajahnya. Jisoo benci posisi ini, di mana ia terlihat tak berdaya dalam kungkungan lengan kokoh Taeyong. Jisoo benar-benar benci saat dirinya tak bisa melawan dalam posisi ini.
"Men-menjauh dariku!" Ia sampai tergagap saking terkejutnya.
"Tidak! Bukankah ini yang dari dulu kau inginkan, aku bahkan sangat ingat dulu kau pernah menawarkan segalanya untukku." senyum miring tersungging di bibir tipisnya.
"Itu dulu, itu Jisoo yang dulu. Jisoo yang bodoh! Bodoh karena pernah mencintai bajingan sepertimu, dan dia sudah mati, mati perlahan bersama cintanya untukmu yang telah kau bunuh perlahan setiap harinya!" Jisoo menatap tajam Taeyong dengan matanya yang merah menahan air mata. Hatinya masih sakit mengingat semua penolakan Taeyong, dan hatinya lebih sakit lagi dengan sikap Taeyong saat ini yang benar-benar tak bisa menghargainya. Taeyong pikir dirinya apa? Bisa ditolak dan ditarik sesuka hatinya.
Taeyong memukul dinding tepat di samping kepala Jisoo dengan keras. Sampai Jisoo berjengit dan memejamkan mata. Taeyong tak bisa menerima ini, Jisoo pasti berdusta, ya itu pasti! Tak mungkin Jisoo yang begitu mencintainya bisa melupakannya sebegitu cepat, Taeyong tak 'kan percaya itu.
"A-aku membencimu!" Jisoo memalingkan wajah saat mengatakannya, menolak untuk menatap wajah Taeyong yang begitu dekat dengannya. Air matanya menetes tanpa seizinnya.
Kenapa Taeyong jadi seperti ini?
Di saat dirinya sudah terlepas dari rasa cinta yang semu untuk pemuda ini, kenapa Taeyong bersikap seolah-olah menginginkannya—ah, lebih tepatnya ingin menyentuhnya. Jisoo tak sebodoh itu untuk tak mengerti arti tatapan Taeyong padanya saat ini. Bukan tatapan cinta seperti yang dulu ia berikan untuk pemuda ini, bukan! Bukan tatapan seperti itu. Taeyong benar-benar bajingan! Dulu dia mengatakan tak sudi bahkan tak 'kan bernafsu padanya, tapi lihat sekarang? Apa yang Taeyong lakukan. Pemuda ini jelas-jelas terlihat bergairah pada Jisoo.
"Menyingkir dari hadapanku, aku tak sudi melihat wajahmu!" Jisoo berusaha mendorong tubuh Taeyong dari depannya, tapi apalah daya, tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Taeyong yang masih tetap menahannya di dinding. Jisoo terus berusaha mendorong Taeyong, ia tak ingin Taeyong kembali melecehkannya seperti di balkon tadi. Sudah cukup dulu ia mengemis cinta bajingan ini, ia tak rela bila Taeyong menyentuhnya meskipun hanya seujung kuku. Dalam hati ia terus merapalkan nama Sehun, berharap pria itu datang menolongnya dari situasi mencekam ini.
Taeyong mendecih, hatinya mencelos, ada rasa sakit yang samar di dadanya mendapati penolakan Jisoo. Terlebih ia bisa melihat dengan jelas air mata di pipi gadis itu. Sebegitu tak sudikah Jisoo berdekatan dengannya? Kenapa Jisoo berubah begitu cepat? Di mana gadis yang dulu begitu memujanya? Tapi ia tak peduli, ia benar-benar menginginkan Jisoo saat ini. Terlepas dari Jisoo rela atau tidak. Taeyong hendak kembali mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium bibir Jisoo.
Jisoo sudah memejamkan mata, menggeleng ke kiri ke kanan agar Taeyong tak bisa meraih bibirnya. Taeyong menahan kedua tangan Jisoo dengan tangan kanannya di atas kepala. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mencengkeram pipi Jisoo agar tidak terus bergerak. Jisoo benar-benar ingin menangis saat ini.
"Eh, jatuh, eh, jatuh."
Suara benda jatuh diikuti suara laki-laki terdengar dari belakang. Taeyong menoleh, menatap tajam sosok pengganggunya. Padahal sebentar lagi ia bisa merasakan mulut lancang Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Innocent Affair✓
Fanfiction"Katanya, bila kau mencintai dua orang wanita. Pilihlah yang kedua, karena kau tak 'kan mencintai yang kedua bila kau mencintai yang pertama. Lalu aku yang nomer berapa, Sehun?" "..." "Ah ... jadi benar kau sudah mulai mencintai istrimu, ya?" "..." ...
