Nineteen (19)

154 17 0
                                        

Don't forget to Vomment^^
Thanks~♡

******

Operasi Jeno sudah selesai. Jeno sudah di bawakan ke ruangannya. Namun Jeno masih belum juga sadar. Alat-alat masih banyak menempel di tubuhnya.

Jiho berada di ruangan Jeno bersama dengan Dongmin. Sedangkan Jisoo dan Junmyeon pulang ke rumah mereka. Tidak ada percakapan di antara mereka. Jiho sedari tadi duduk di samping tempat tidur Jeno. Jiho menggenggam tangan Jeno. Sambil berharap agar Jeno segera sadar.

"Jiho-ssi, mau sampai kapan kau disana?" Pertanyaan Dongmin memecahkan keheningan malam itu. Ralat subuh.

"Sampai Jeno sadar. Aku tidak akan berpindah."

"Sigh~ jangan seperti itu. Kalau kau tetap disitu, tanpa makan, tanpa istirahat, justru kau tidak akan melihat Jeno sadar nanti."

"Apa maksudmu?!" Jiho saat ini sedang sensitif. Ia merasa tersinggung dengan perkataan Dongmin barusan.

"Benarkan? Kau akan sakit dan tubuhmu nanti akan menolak untuk sadar. Bisa saja nanti kau pingsan. Dan disaat kau pingsan, Jeno sadar. Berarti kau tidak bisa melihat Jeno sadar 'kan?" Ini adalah kalimat terpanjang yang Dongmin ucapkan hari ini.

Jiho terlihat menimbang-nimbang perkataan Dongmin. Jiho juga merasa lelah, apalagi ia tidak ada istirahat semenjak acara tunangan sampai Jeno selesai operasi ini. Dan ini sudah subuh. Jiho bahkan belum makan.

"Kalau aku tidur, aku juga tidak bisa lihat Jeno sadar 'kan?" Oke, jangan lupakan Jiho gadis yang keras kepala.

"Nanti akan kubangunkan." Ucap Dongmin sambil menarik tangan Jiho.

"Hei! Kau ini apa-apaan?! Lepasin gak?!" Jiho berusaha untuk melepaskan tangannya dari tarikan Dongmin. Tapi Dongmin jelas lebih kuat. Dongmin diam dan tetap menarik tangan Jiho. Ternyata ia membawa Jiho ke sofa.

"Tidurlah disini. Oh iya, ini ada susu cokelat panas. Diminum dulu, aku yakin kau lelah. Selamat tidur." Setelah Dongmin mengucapkan demikian, ia berjalan menuju ke samping tempat tidur Jeno. Di posisi Jiho tadi berada.

Jiho hanya bisa termangu. Karena Dongmin tidak memberikan kesempatan untuk Jiho berbicara. Dan akhirnya Jiho mengikuti apa yang Dongmin katakan. Ia meminum susu yang Dongmin berikan tadi. Walau Jiho sempat mencium minuman itu dulu. Takut kalau ternyata Dongmin memberi racun atau sejenisnya ke dalam minuman itu. Hei, Dongmin kan masih orang asing bagi Jiho. Jadi wajarkan kalau Jiho curiga?

"Dongmin-ssi, sudah berapa lama kau mengetahui Jeno adalah adikmu?" Tanya Jiho. Ia penasaran alasan kenapa Dongmin tidak pernah menemui Jeno.

"Sudah sekitar 7 tahun. Aku mengetahuinya semenjak aku masuk SMA." Jawab Dongmin singkat.

"Kenapa kau tidak pernah menemui Jeno? Padahal sudah selama itu kau mengetahui Jeno."

"Aku melihat Jeno bahagia dengan keluargamu, terutama kau. Jeno hidup dengan keluarga yang berkecukupan. Tentu saja aku tidak mau merusak kebahagiaan itu. Dia pantas mendapatkan keluarga yang membuatnya bahagia." Jelas Dongmin.

"Hm... maaf sebelumnya. Tapi selama ini kamu tinggal dengan siapa? Kamu sendirian?" Entah mengapa Jiho sedikit merasa iba setelah mendengar kisah tentang keluarga Lee dan Dongmin ini.

"Aku selama ini tinggal dengan halmeoni. Kenapa?"

"Berdua saja? Apa dia tau mengenai Jeno?"

"Tidak, dia tidak tahu. Aku tidak memberitahunya. Mungkin belum. Suatu saat aku pasti akan memberitahunya. Aku tidak ingin membuat halmeoni sedih. Selama ini kami hidup selalu berdua. Halmeoni bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku. Dia- ah kau tertidur ya."

Rupanya jawaban panjang Dongmin menjadi cerita penghantar tidur bagi Jiho. Makanya Jiho tertidur di sofa saat ini.

Dongmin menghampiri Jiho dan mengenakan jaket yang ia pakai kepada Jiho sebagai selimut.













"Aku akan memberitahu Jeno semuanya setelah ia sadar nanti."













~To Be Continue~

Bro&Sis [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang