Twenty Three (23)

142 17 4
                                        

Don't forget to Vomment^^
Thanks~♡

******

"Jeno-ya, tidak bisakah kamu hilangkan perasaanmu itu? Jiho itu noonamu sendiri. Kamu anak eomma dan appa. Kalian berdua anak kami. Kamu tidak boleh mempunyai perasaan itu ke saudaramu sendiri."

"Eomma, aku juga tidak tau kenapa begini. Aku juga tidak mau terjebak perasaan seperti ini. Ini menyakitkan." Iya, Jeno juga tidak ingin. Tapi ia tidak bisa menahannya juga. Apakah kita bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta?

"Hentikan sekarang juga, Jeno-ya. Sebelum lebih jauh lagi, eomma mohon hentikan." Pinta Jisoo kepada Jeno.

"Eomma... tidak bisakah aku bersama noona? Maksudku, kami bahkan bukan saudara kandung. Kami tidak sedarah."

"Tidak! Tidak boleh!" Tiba-tiba saja suara seorang pria yang menyahut. Entah sejak kapan Junmyeon sudah ada di ruangan itu.

"Kalian berdua anak kami! Itu tidak boleh! Apa kau gila? Mana mungkin kami menikahkan kalian berdua?!" Sambung Junmyeon dengan nada yang meninggi.

"Sudah sudah. Biarkan aku yang berbicara dengannya. Jangan emosi." Kata Jisoo menahan suaminya.

"Appa tidak mengerti!"

"Kau harus melupakan Jiho. Melupakan perasaanmu itu. Oleh karena itu, appa memutuskan kalau kamu akan berangkat ke US."

Perkataan Junmyeon sukses membuat Jeno terbelalak. Sedangkan Jisoo hanya bisa menunduk dan menyesali perkataan suaminya itu. Disaat seperti ini, Jisoo pun seperti seorang ibu pada umumnya. Ia tidak mau perasaan anaknya tersakit. Jisoo baru menyadari berapa waktu yang ia buang tanpa anaknya itu.

"Yeobo! Aku bilang biar aku saja yang bicara dengan Jeno! Kalau kau mau memperkeruh suasana, sebaiknya kau keluar saja! Kontrol emosimu! Anakmu baru saja bangun dari komanya." Ucap Jisoo sedikit membentak suaminya.

Jeno yang melihat pembelaan ibunya itu hanya diam saja. Ia sedikit terkejut. Tapi jujur hatinya merasa hangat. Ia merasakan kembali apa yang pernah dirasakannya sewaktu kecil dulu. Pembelaan dari seorang Ibu.

"Eomma..."

"Jangan kau manjakan dia. Dia itu laki-laki. Dia harus bisa kuat dan tau bagaimana mengontrol perasaannya."

"Apakah aku pernah memanjakan dia? Selama ini kita hanya sibuk dengan pekerjaan kita saja. Waktu untuk anak-anak kita saja, kita tidak punya. Apa kau sadar itu?"

Jeno merasa pusing tiba-tiba. Mendengar perdebatan kedua orangtuanya itu membuat dia pusing.

"Eomma appa! Hentikan! Kalian berdebat di depan Jeno yang baru saja sadar!" Itu suara Jiho. Ia masuk karena mendengar perdebatan orangtuanya itu.

Junmyeon dan Jisoo akhirnya berhenti berdebat. Sedangkan Jeno memandang Jiho. Jeno sangat rindu dengan Jiho. Ia rindu waktunya bersama Jiho. Selama 'tidur'nya pun, suara Jiho seringkali terdengar. Ia dapat mendengar cerita-cerita Jiho.

"Noona...." Jeno memanggil Jiho.

"Jeno-ya..." Sahut Jiho sambil berjalan mendekati Jeno. Mata Jiho mulai beair lagi. Ia tidak membayangkan bagaimana ia dan Jeno akan terpisah nanti.

"Yeobo.. yuk kita keluar dulu. Biarkan mereka bicara berdua." Kata Jisoo kepada suaminya.

"Apa?! Kita justru jangan biarkan mereka berdua!"

"Udah deh! Ayo keluar! Percaya sama mereka. Biarkan mereka selesaikan ini berdua." Ucap Jisoo sambil menarik tangan suaminya untuk keluar kamar. Junmyeon pun akhirnya pasrah mengikuti istrinya. Daripada ia di bentak Jiho lagi.

"Jeno-ya... aku senang kau sudah sadar." Ucap Jiho ketika orangtuanya sudah keluar dari ruangan itu.

"Aku... rindu noona."

Jeno menatap Jiho lekat. Ia tidak memalingkan wajahnya sedikit pun dari Jiho. Ia menggerakan tangannya perlahan, untuk menyentuh wajah Jiho. Mengelus wajah Jiho perlahan. Namun semakin ia mengelus wajah itu, semakin sakit hati Jeno. Entah mengapa.

"Jeno-ya..."

"Apa kau merindukanku juga noona?"

"Tentu saja aku merindukanmu! Setiap hari aku disini, menunggumu sadar."














"Kalau begitu, apa kau juga mencintaiku?"



~To Be Continue~

Bro&Sis [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang