9

440 53 43
                                        

'hahh... Semoga esok mentari akan bersinar terang...' gumamku.

************************************

Dua hari kemudian kondisi Seungri sudah jauh lebih baik, namun dia masih belum diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Dr. Park bilang dia masih perlu memeriksa keadaan Seungri dan janinnya lebih detail lagi. Jadi sekarang kami hanya tinggal menunggu hasil pemeriksaan dan test-test saja dari dr. Park. Selama itu pula hanya aku yang menjaganya dirumah sakit. Aku belum berani mengabari pada siapapun akan kondisinya saat ini sebelum mendapatkan ijin darinya. Jadilah aku yang senantiasa dari pagi siang malam berada disampingnya. Baju ganti pun aku tak ambil pulang, semuanya aku beli dadakan. Kemarin ketika ada waktu longgar aku keluar membeli beberapa stel baju untuk ganti beserta tasnya. Peralatan mandi dan sebagainya. Mandipun aku lakukan di kamar mandi ruang rawat Seungri bukan dihotel. Kawatir ada paparazzi yang melihat dan membuatnya jadi scandal yang menghebohkan. Kerahasiaan keberadaanku dan Seungri disini saja aku sampai mewanti-wanti banget dr. Park jangan sampai menyebar dan memintanya beserta seluruh staff medisnya untuk merahasiakannya rapat-rapat. Untung dia memahami posisi kami dan bersedia membantu kami.

Jujur saja sebenarnya aku sungguh sangat lelah sekali. Kalian tahulah, situasi dan kondisi menjaga orang sakit dirumah sakit itu gimana kan? Bahkan istirahatpun aku tak bisa merasa jenak. Apalagi aku sendirian merawatnya. Tanpa teman ataupun asisten yang membantuku. Baru ini aku benar-benar melakukan semuanya sendiri. Dari ketemu dokter, menebus obat, mengurus Seungri, mengurus tetek bengek administrasi, keluar masuk rumah sakit mencari obat atau makan atau perlengkapan dan keperluan yang dibutuhkan. Sungguh sendirian. Fuahhh... Capek banget gess!! Bayangkan saja aku yang biasa didampingi managerku mengurusi segala macamnya kini semua hanya aku lakukan sendiri saja. Ada shock sih diawal, namun lama-lama aku pun terbiasa. Berasa kembali ke jaman kami training dulu. Ini kah rasanya menjadi real man itu? (??)Real man?? Eitt, emang lu kata gue banci apa??!!! Enak ajee... Maksud gue, jadi senormal-normalnya kehidupan seorang laki-laki pada umumnya yang hidup biasa-biasa aja. Bukan artis atau orang kaya yang punya manager atau asisten untuk membantunya. Jadi beginikah kira-kira kurang lebih rasanya? Mengurusi anak istri yang lagi sakit. Waduh pengandaiannya.. Hahaha... Ngakak sendiri deh ah.. 😅. Duhh, apasih ini otakku mikir kemana kaga jelas. Mungkin efek lelah gess...😂

"Siang ini kamu mau makan apa Ri?" tanyaku padanya sambil membantunya duduk bersandar.
"Nanti aku mau menebus obat diluar jadi sekalian aja aku keluar cari makan." lanjutku.

"Apa saja hyung.. Kau tahu sendiri makananku terbatas. Hanya yang mudah dicerna saja yang bisa ku makan saat ini." jawabnya sedikit ngambek.

Yahh wajar sih. Seungri yang punya nafsu makan besar dibatasi gini jadi sedikit tak terima. Tapi mau gimana lagi, ini kan demi...

"Ri..." panggilku lelah.

Yups, Seungri sudah mengetahui bahwa janinnya selamat. Aku baru memberitahukannya kemarin. Saat aku menjelaskan kondisinya dan janinnya kemarin, dia hanya diam tak berkomentar apa-apa dan tak berekspresi apapun. Datar saja. Jujur itu membuatku kawatir. Jadi aku belum berani untuk mengatakan niatku padanya. Atau membawa-bawa keluarganya dalam obrolan kami. Seperti saat ini, dia kembali datar. Setiap kali janinnya masuk dalam obrolan dia pasti akan bereaksi seperti ini.

"Ri..." panggilku lagi lebih lembut mencoba menarik attentionnya.

Aku duduk di tepi ranjangnya, meraih jemari tangan kirinya yang bebas dari selang infus.

"Bisakah kita bicara?" tanyaku masih dengan nada lembut sambil tersenyum tulus menenangkannya.

Dia hanya diam.

"Ri... Kau tahu? Kemarin, disaat-saat kritismu, aku sungguh merasa ketakutan luar biasa. Aku belum pernah merasa setakut itu dalam hidupku. Lebih menakutkan ketimbang bayanganku kehilangan ketenaran dan mimpiku.

What is Love? ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang