Diharap sambil mendengar lagunya! Enjoy!!
***
"apakah kalian sebelumnya pernah bertemu?"
Evans dan Keisya melihat satu sama lain, berusaha menyingkirkan rasa canggung yang sangat aneh kali ini. Keisya hanya menyeruput tehnya dengan pelan-pelan dan melihat mata Evans yang sudah dari tadi kembali menatapnya. Tatapannya sulit diartikan membuat Keisya duluan memutuskan kontak mata mereka. David masih agak risih dengan suasana di ruangan ini sekarang. Dia mengulang pertanyaannya kembali.
"sepertinya kalian pernah bertemu sebelumnya, bukan?"
"Tidak. ini pertama kalinya kami bertemu."
Hati Evans langsung mencelos ketika mendengar perkataan Keisya yang seolah-olah tidak mengakui keberadaannya selama ini. Tangannya memperkuat gagang cangkir tersebut, tanpa sadar sampai membuatnya sedikit retak. Mata Keisya kembali merah berusaha menahan air mata yang dari tadi sudah mengumpul di ujung matanya. Dia mengadahkan kepalanya keatas, sebulir air mata lolos dari asalnya.
"permisi, aku akan ke toilet sebentar." setelah mendapatkan izin dari David, Keisya langsung berlari keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Evans, David dan Rose. Melihat Keisya menangis, Evans pun langsung berlari menyusulnya.
"saya yang akan menjawab pertanyaan anda. Iya, mereka pernah bertemu sebelumnya." ucap Rose.
***
"Keisya!" Evans terus berlari mengejarnya di taman belakang rumah itu. Keisya terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Evans yang dari tadi sudah berusaha mengejarnya. Dia menutup bibirnya dengan kuat berusaha menghilangkan suara isakannya. Namun, langkah Evans lebih besar darinya, dia menggapai lengan Keisya dan langsung memeluknya dengan erat.
Rasanya pasukan udara Keisya berkurang seketika, dadanya sangat sesak ketika merasakan pelukan hangat dari Evans. Keisya berusaha melepaskan pelukannya, kekuatan Evans jauh lebih kuat darinya membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaan ini, wangi ini, punggungnya yang selalu membuatnya nyaman dan aman, dia sangat merindukan semua ini.
"a-aku minta maaf." Suara Evans tercekat ketika mendengar isakan Keisya yang sangat kuat. Dia memeluk punggungnya yang dari tadi bergetar dengan erat. Tanpa ia sadari pun, air matanya dari tadi sudah turun dengan deras mendengar isakan Keisya. Dia merasa menjadi lelaki yang paling hina di kehidupannya.
Evans pun melepaskan pelukan mereka dengan pelan-pelan. Tanpa aba-aba Keisya langsung memukul dada Evans dengan kuat. Evans hanya terdiam menerima semua pukulan dari Keisya, dia berhak mendapatkannya.
"k-kenapa?! kenapa kau kabur tanpa alasan?! 3 bulan, aku menunggumu! menit demi menit, hingga hari demi hari, aku selalu menunggumu! aku bahkan melihatmu di dalam mimpiku, bajingan!"
Evans kembali memeluknya dengan erat. Matanya kembali merah. Dia meletakkan kepalanya di leher Keisya. Dia tidak tahan mendengar tangisan Keisya yang semakin menjadi-jadi. Dia merasa sangat bersalah melihat wanitanya tersakiti akibat ulah dirinya. Keisya pun memeluknya kembali ketika merasakan lehernya sudah basah akibat air mata Evans.
"Aku sangat membencimu. sangat. Tapi itu tidak membuat rasa ini berkurang terhadapmu. Karena apa? karena aku yakin dengan sepenuh hati ku bahwa aku akan menemukanmu lagi."
Kali ini punggung Evans yang bergetar, Keisya menepuk perlahan-lahan punggungnya berusaha menenangkan Evans dengan sentuhan-sentuhan kecilnya. Dia sangat berterima kasih kepada Keisya karena selalu menunggunya.
"Jangan menangis. sudahlah,"
"A-aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. ini salahku, semua ini salahku. Aku seharusnya tidak-"
Keisya langsung memegang wajah Evans dengan kedua telapak tangannya dan menatapnya dengan serius. "Jangan pikirkan apapun, jangan katakan yang lain pun. Aku hanya ingin satu kata dari bibirmu. Bisakah kau tetap disisiku? maukah kau berjanji padaku?"
Tanpa berpikir panjang, Evans langsung mengiyakan pertanyaan Keisya. "iya, aku akan berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku berjanji."
"kalau begitu, itu sudah cukup bagiku." senyum Keisya.
"aku rindu rumah." ucap Evans. Keisya masih mengelus-mengelus tangan Evans dengan jari-jari lembutnya. Dia masih takut, takut bahwa ternyata semua ini adalah mimpinya. Seandainya pun kalau ini mimpi dia tidak mau terbangun, biarkan lah dia tertidur selamanya selagi dia masih bisa bertemu dengan lelakinya.
Merasa geli karena Keisya terus mengelus tangannya membuat Evans bertanya, "kenapa kau mengelus tanganku?"
"aku sudah memiliki banyak mimpi tentangmu, selama 3 bulan, aku sering bermimpi seperti ini. Aku masih tidak percaya. Aku takut. Apakah ini mimpi atau bu-"
Mata Keisya langsung membesar ketika merasakan bibir lembut Evans berada di bibir merahnya. Terikuti dengan suasana, akhirnya Keisya menutup matanya dan membalas ciuman Evans. Mereka mengakhirnya dengan senyuman dan tawa.
"ini bukanlah mimpi, Keisya."
Keisya hanya tertawa bahagia ketika mendengar suara Evans tepat berada di telinganya. Akhirnya, mimpi ini menjadi kenyataan.
"Baiklah, mari kita pulang."
_________________________________________
Ini agak pendek:( sorry walaupun libur tapi tugas masih menumpuk wkwk ENJOY!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Skyfall✔
Novela JuvenilAku selalu berpikir, apakah hidup ini akan selalu menjadi seperti langit biru yang sangat indah? Apakah bisa hidupku menjadi cerah seperti langit itu? Tidak, hidupku seperti langit yang menimpa diriku. berat. sangat berat. kapankah hidupku kembali s...
