Part 7

50 14 8
                                        

Di sisi lain, dengan cuaca yang panas ini Raya masih terus mencari pekerjaan dengan bekal yang dia punya.
Memang benar,mencari pekerjaan itu sulit.

Raya mencoba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Dengan percaya diri dan doanya,Raya melangkahkan kakinya masuk ke bangunan itu.

"Bisa saya menemui atasan?" Raya mencoba agar ia bisa bertemu dengan atasan.

"Sebentar ya,saya hubungi dulu"
Raya duduk sambil menunggu

"Silahkan mbak,mari saya antar"
Tak butuh waktu lama,langkah pertama sudah berhasil. Selanjutnya Raya harus mempersiapkan mentalnya.

Entah mengapa perasaannya saat ini berbeda dari sebelumnya. Ia merasakan akan ada yang membuatnya lebih dari ini,sayangnya ia tidak bisa menebak apa itu.

Mereka pun tiba didepan pintu

"Maaf pak,saya sudah mengantar orangnya"

"Masuklah"

Sura itu,sangat tidak familiar bagi Raya. Perasaannya kini semakin tak karuan.

Setelah orang itu mengantar Raya,ia perlahan memasuki ruangan tersebut

Terlihat pria yang sedang membelakangi Raya di kursinya.
Raya pun berusaha tenang lalu duduk di depan meja pria itu.

"Permisi pak" Raya mencoba memulai
Mengapa aku merasakan hawa yang berbeda?

Pria itu perlahan memutar kursinya menghadap Raya.

!!!

Akhirnya kedua pasang mata itu bertemu setelah sekian lamanya hilang,setelah lamanya tidak saling menatap satu sama lain.
Mata yang menjadi saksi diantara mereka berdua.

Raya merasa sekujur tubuh nya lemah seketika. Saat mengetahui pria didepannya itu adalah Varel!.
Pria yang selama ini ingin ia lupakan.
Kini kembali muncul dihadapannya, dekat. Sangat dekat.

Begitu juga Varel,ia tak menyangka akan semudah ini bisa bertemu dengan Raya.

"Ka..ka..mu?" Varel mencoba memegang tangan raya. Dengan cepat Raya menepisnya. Karena bagaimanapun raya sangat tersakiti olehnya.

"Ehm maaf kan aku" Varel menarik kembali tangannya

Karena tidak tahan,Raya hendak pergi dari tempat itu,namun Varel menahannya.

"Kita bisa bicara sebentar kan? Lagipula kamu udah capek capek kesini,tidak sopan rasanya jika pergi begitu saja"
Seakan akan Varel mengatakan hal itu seoal dia tak pernah seperti itu.

"Benarkah? Jadi yang kamu lakukan dulu itu sopan menurutmu huh!? Pergi begitu saja,apa itu sopan!? " Emosi Raya sepertinya sudah mulai memuncak saat memori telah berputar di benaknya

"Aku bisa jelaskan mengapa aku pergi, tolong sekali ini dengarkan aku" Varel meyakinkan Raya,dengan penuh kesabaran akhirnya Raya menuruti perkataan Varel.

Raya hanya bisa mengontrol emosinya selama Varel bicara.

"Kenapa sih ray,kamu gak balas chat dari aku?" Varel menatap Raya

"Membalasnya? Hah,nomormu saja aku sudah tidak punya" balas Raya dengan nada bicaranya seolah tak peduli

Varel merasa ada sesuatu yang tidak beres,padahal ia sudah mencoba berkomunikasi lagi dengan Raya melalui akun Facebook barunya.
Tapi kenapa Raya seperti tidak tau hal itu?

"Apa kamu membacanya?"

"Baca apa sih,kamu itu ya.. ngomong yang jelas dong" Ketus Raya

"Mana ponselmu?"

"Apaan sih,sudahlah pergi datang ga jelas, sekarang mau ngecek hp aku?" Raya semakin kesal

"Sini dulu" Varel lekas merebut benda itu dari tangan Raya

Varel langsung mencari Facebook Raya,dan ternyata sama sekali tak ada notif darinya semalam. Pantas saja Raya tak tau apa apa.
Varel pun mengembalikan ponsel Raya.

"Ada apa sih sebenarnya" Ucap Raya sambil mengelap layar ponselnya.

"Aneh,padahal aku sudah mengirim pesan ke kamu,tapi sama sekali tidak ada"

"Sudah lah lupakan". Lanjut Varel

"Udah selesai kan? Kalau begitu aku pergi!" Raya beranjak dari kursinya dan meninggalkan Varel seorang diri.

Padahal Raya sangat semangat hari ini,karena Varel kembali muncul di kehidupannya,semua semangat itu hangus seketika.

Ingin melamar pekerjaan di perusahaan lain rasanya sudah tidak mood lagi. Padahal saat dijalan,Raya menatap ke arah bangunan yang terpampang bertuliskan KR Entertainment. Sial sekali.

Raya pun memutuskan menetap dirumah seharian.

~~~

"Ray,udahlah..makan dulu yok" Dara mencoba mengajak Raya untuk makan. Karena sejak kejadian itu semuanya terasa hambar dan ambyarr.

"Masih belum mau ya?" Aca khawatir sebab Raya sejak siang tak selera makan. Aca pun mendekati mereka

"Ray,kalau kamu gini terus,bisa bisa kamu sakit." Ucap Aca menarik selimut yang menutupi tubuh Raya. Namun Raya kembali menariknya.

"Dan jangan harap,kalau kamu sakit kami tidak akan membayar untuk pengobatan mu. Jadi jangan coba coba sakit disaat seperti ini" kesal Dara panjang lebar.

"Jahat" Raya sedikit mengintip dua manusia didepannya itu.

"Makanya makan yang banyak" ucap Aca mencubit pipi Raya

"Lihatlah lenganmu mulai mengurus" Dara memainkan lengan Raya dengan menggoyangkan nya.

"Kamu mau dijadiin tengkorak labor huh?" Ledek Aca agar Raya yang semula kembali lagi.

"Ishh iya iya" grutu Raya dengan wajah kusutnya.

"Lihatlah,rambut acak acakan..muka kusut kayak kehidupan kamu sekarang" ups Dara keceplosan saat kalimat terakhir. Alhasil Raya kembali berbaring.

"Kamu sih" Aca menepis tangan Dara

"Sorry deh" dara cengingiran

Sepertinya Raya memang tak akan bangkit dari kasurnya. Aca dan dara pun hanya bisa membiarkan keadaan Raya yang seperti itu.

"Ya udah kalau tetap ga mau duduk,jangan lupa dimakan" Dara meletakkan makanan yang ia bawa diatas nakas.
Mereka pun keluar meninggalkan Raya .

Yang namanya manusia pasti lapar,hal itu mustahil jika tidak. Alhasil saat aca dan dara pergi,Raya dengan cepat melahap makanan tersebut.

"Kalian pikir aku tahan jika tidak makan?" Bukannya berdoa,Raya malah mengocehi kedua temannya itu.

"Ukhukkkk ukhukkkk" Raya segera mengambil dan meneguk gelas berisi air didekat nya.

Sementara dua orang sedang terbahak disebalik pintu melihat Raya yang tersedak. Kurang ajar emang.












🌟🌟🌟
💬💬💬
😊😊😊

_Aricen04_

KHARANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang